Teater Cahaya UMT dan Komunitas Siti Hinggil Benteng Gelar Konser Turbulensi

Diterbitkan  Rabu, 20 / 09 / 2017 19:24 - Berita Ini Sudah :  280 Dilihat

TURBULENSI. Sutradara Konser Turbulensi Away Enawar (Dekan FKIP UMT) memberikan tumpeng kepada Arwen, Wakil Rektor III UMT, sebagai tanda syukuran jelang Konser Turbulensi yang digagas Teater Cahaya UMT dan Komunitas Siti Hinggil Benteng, di TIM Jakarta, Jumat-Sabtu (6-7/9).

TANGERANG – Indonesia saat ini sedang mengalami gangguan atau turbulensi kemanusiaan di berbagai bidang kehidupan. Salah satu tandanya hingga saat ini korupsi masih merajarela mana-mana.

Persoalan-persoalan krisis kemanusiaan itu dipotret, dianalisisi, dan dituangkan secara cermat oleh Away Enawar dalam buku kumpulan puisi bertajuk Turbulensi (Kumpulan sajak kepada hati yang terkoyak).

Teater Cahaya UMT dan Komunitas Siti Hinggil Benteng akan mengekspresikan kumpulan sajak itu ke dalam repertoar atau pertunjukan besar dan megah, yakni Konser Turbulensi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat-Sabtu (6-7/9) mendatang.

Demikian diungkapkan Away dalam jumpa pers kepada wartawan di Lantai 6 Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, Kota Tangerang, Selasa (19/9) petang.

Dalam buku kumpulan sajak Turbulensi itu ada sepuluh sajak, yang kemudian diolah menjadi musikalisasi puisi dan lakon dramatik yang digelar secara orkestratif hingga menjadi rama musikal.

“Konser Turbulensi ini akan melibatkan sekitar 50 orang seniman dan beberapa seniman nasional seperti Jose Rizal, Ken Zuraida, Amoro Katamsi, dan Doddy Katamsi,” ungkap Away yang juga Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMT.

Seniman-seniman itu sengaja dilibatkan untuk menjaga ruh dan mengusung pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Untuk menambah kekuatan pemanggungan, konser ini juga akan melibatkan pelaku-pelaku multi media dari Yogyakarta.

Away mengatakan ketika manusia-manusia mengalami Turbulensi, maka harus kembali kepada hening. Dalam hening itu ada dialog manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan.

Arwen, Wakil Rektor (Warek) UMT yang hadir dalam jumpa pers itu, mengatakan Turbulensi bisa juga diartikan sebagai getaran atau guncangan manusia. Hal itu disebabkan rasa kekhawatiran atau ketakutan.

Tidak heran jika saat ini di negeri ini banyak sekali manusia yang khawatir dan takut miskin misalnya, sehingga melakukan korupsi. Akibatnya, manusia-manusia semacam itu mengalami kehilangan hati dan ruh.

“Lihat sekarang Operasi Tangkap Tangan (OTT) di mana-mana, seperti yang terjadi pada Walikotoa Batu. Sebelumnya juga ada Ketua DPD Irman Gusman yang kena OTT juga,” katanya.

Arwen berharap Konser Turbulensi bisa menjadi tontotan yang menghibur dan menggembirkan, namun demikian konser itu akan mendidik dan memberikan pencerahan kepada penonton. (bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!