Dari Seminar PSI


Perangi Populisme dengan Solidaritas

Diterbitkan  Kamis, 21 / 09 / 2017 19:37 - Berita Ini Sudah :  275 Dilihat

JAKARTA – Praktik populisme sedang mewabah di Indonesia. Tema ini diangkat dalam seminar dan diskusi diselenggarakan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jakarta pada Rabu (20/9) lalu.

Tema besar acara itu yakni ‘Kebangkitan Populsime, Deglobalisasi dan Masa Depan Partai Politik”. Tampil sebagai pembicara di antaranya, Thomas Meyer (Profesor Senior di Universitas Dortmund), Isyana Bagoes Oka (Ketua DPP PSI), dan Surya Tjandra (Aktivis Perburuhan).

Surya Tjandra, Aktivis Perburuhan dan Dosen di Universitas Atmajaya menilai definisi populisme secara sederhana yakni sebuah gerakan atau strategi politik untuk menumbangkan elite politik dengan cara membenturkan kelas bawah dengan elite.

 “Oleh karena itu secara gampang strateginya adalah membentuk polarisasi dalam masyarakat. Membasmi gerakan kerakyatan pada satu sisi dan menyalahkan negara pada sisi yang lain pemerintah khususnya,” jelasnya.

Surya Tjandra juga menambahkan bahwa saat ini masyarakat harus berani berkata tidak dengan isu intoleransi yang berpotensi memecahbelah bangsa. “Sekarang ini yang dibutuhkan adalah stand up alliance, yakni aliansi yang berani berkata tidak. Tidak menolak orangnya tapi menolak intoleransinya,” ucapnya.

Selain aliansi, Indonesia juga perlu menyiapkan sebuah wadah untuk memilih pemimpin muda untuk memberikan hawa baru dan ide segar dalam politik. “Leadership matters, kepemimpinan diperlukan dalam. Menyiapkan pemimpin-pemimpin muda baru dengan pemikiran yang lebih segar,” paparnya.

Sedangkan, Prof Thomas Meyer, Editor Jurnal dan profeor senior di Universitas Dortmund Jerman memberikan contoh dari Presiden Amerika Serikat Donald Thrump yang menggunakan ideologi populisme liberal untuk mendapatkan dukungan.

Thomas Meyer memberikan solusi untuk meminimalisir dampak populisme. Solusi ini memerlukan dukungan rakyat secara penuh untuk membentuk sebuah kelompok yang solid. “Kuncinya adalah solidaritas. Saat solidaritas telah dibangun, maka celah memecah belah dengan cara mencela atau memfitnah menjadi lebih sempit,” ujar Thomas Meyer.

Sementara, Isyana Bagoes Oka menjelaskan, praktik populisme di Indonesia mulai panas ketika Pemilu 2014 dan Pilkada 2017 yang menggunakan isu SARA. “Isu utama bangsa Indonesia saat ini adalah intoleransi dan korupsi,” paparnya.(mg4)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!