Pemain Ponpes Daarul Muttaqien Dapat Coaching Clinic dari Ethan Zohn

Diterbitkan  Senin, 09 / 10 / 2017 9:27 - Berita Ini Sudah :  245 Dilihat

LATIH. Ethan Zohn, mantan pemain Maccabee, Amerika Serikat, sedang memberikan pelatihan singkat (Coaching Clinic) teknik bermain sepakbola kepada kesebelasan pondok pesantren (Ponpes) Daarul Muttaqien, Pasar Kemis dan Ponpes Ar Roisiyah, Tangsel, Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis, Minggu (8/10/2017).

PASAR KEMIS – Kesebelasan pondok pesantren (Ponpes) Daarul Muttaqien, Pasar Kemis dan Ponpes Ar Roisiyah, Tangsel mendapat pelatihan singkat (Coaching Clinic) teknik bermain sepakbola dari Ethan Zohn, mantan pemain Maccabee, Amerika Serikat, Minggu (8/10/2017).

Ethan yang juga mantan kapten tim Maccabee tersebut melatih dua tim tersebut di lapangan sepakbola Ponpes Daarul Muttaqien, Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasarkemis.

Didampingi asistennya, co-founder Grassroot Soccer tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Sebelum terjun ke rumput hijau, mereka mendapatkan pembekalan mental melalui kisah lika-liku kehidupan Ethan hingga berhasil menjadi pemain sepakbola profesional di Amerika Serikat.

Dikisahkan Ethan, kariernya di dunia sepak bola dimulai dengan menjadi kiper cadangan di kesebelasan Maccabee. Posisi sebagai pemain cadangan membuatnya tidak selalu bisa bermain.

Namun hal itu justru membuatnya semakin termotivasi, ia menunjukkan dedikasinya kepada timnya dengan berlatih keras dengan selalu tepat waktu dan membangun kerjasama tim dengan baik.

“Sepakbola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin, tanggung jawab,” ujarnya.

Maka Ethan menyakini, bahwa dengan berolahraga yang salah satunya sepakbola, generasi muda bisa tumbuh menjadi calon-calon pemimpin, tidak harus pilihannya menjadi pemain profesional, namun juga dilini kehidupan lainnya.

“Berlatih sepakbola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepakbola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik,” tambahnya.

Cerita Ethan itu dibuktikan dengan diangkatnya ia menjadi kiper utama sekaligus kapten tim diklubnya.

Bahkan pria yang pernah mendapatkan hadiah satu juta dollar dari acara reality show Survivor di Amerika Serikat tersebut membuktikan hasil gemblengannya selama menjalani pelatihan, ia menyumbangkan uang dari hadiah tersebut untuk pembinaan anak-anak muda dan kemudian mendirikan Grassroot Soccer, organisasi nirlaba untuk melatih anak-anak di Afrika bermain bola dan membangun kesadaran masyarakat akan HIV AIDS.

“Tujuannya agar anak-anak melakukan hal baik yaitu main bola, sehingga terhindar dari perilaku negatif,” jelasnya.

Kisah perjuangan hidupnya tersebut memukau para atlet muda dari pondok pesantren tersebut, terlebih Ethan juga pernah dua kali menderita kanker darah namun ia tetap optimis memperjuangkan hidupnya sampai ia kembali dinyatakan dokter telah sembuh.

“Pelatihan yang kami dapatkan sangat luar biasa yang menjadi bekal saya pribadi berikut tim kami berlaga di Liga Santri Nasional,” ujar Zahran Fayyadh, Kapten kesebelasan tim Ar Roisiyah yang berhasil menjuarai LSN Region Banten tahun 2017 dan akan berlaga di LSN Nasional.

“Cara melatihnya menyenangkan, sehingga kami merasa sangat termotivasi dan merasa bangga juga bisa dilatih mantan pemain timnas Amerika,” tutur Samsal, Kapten kesebelasan Daarul Muttaqien.

Ethan berada di Indonesia sebagai sosok yang dipilih Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Amerika Serikat melalui speaker program yang mendatangkan berbagai ahli untuk datang dan berbagi dengan masyarakat Indonesia. Di tahun 2017 ini, program tersebut mengusung tema kepemimpinan anak muda.

“Selain di Tangerang, Ethan akan berkunjung ke Pandeglang, Jakarta juga Bandung,” ujar Luthfi Abdurrahman, Cultural Affairs Staff for Programs Public Affairs Sections pada Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia.

Sementara itu, perhelatan LSN 2017 yang digelar oleh RMI NU begitu menarik perhatian pecinta sepak bola nusantara dan masyarat luas, tak terkecuali Dubes Amerika untuk Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan kunjungan rombongan kedutaan besar amerika ke Pondok Pesantren Darul Muttaqien Tangerang pada hari Minggu (8/10). “Ini sebuah penghargaan bagi kami selaku penyelenggara Liga Santri,” tutur Ariyanto Direktur Marketing LSN 2017.

Ari Sapaan Akrabnya juga menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengkampanyekan dan memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya negara-negara barat tentang dunia kepesantrenan secara utuh.

Menurutnya selama ini ada stigma bahwa pesantren identik dengan pengajian keagamaan atau bahkan identik dengan kelompok fundamentalis. “Saatnya kita tunjukkan bahwa pesantren menjadi tempat dan sarana pendidikan yang sangat baik dan mampu mencetak generasi-generasi muda yang handal,” tambahnya.

Sementara Jed Dornburg selaku atase kebudayaan Kedutaan Besar Amerika dalam sambutanya, menyampaikan bahwa dirinya tertarik dengan dunia pesantren sebagai instrumen pendidikan di Indonesia. Ia juga memaparkan beberapa program kedutaan amerika yang sangat mungkin dikerjasamakan dengan pesantren.

“Ada beberapa program diantaranya perpustakaan dan bea siswa bagi siswa/santri yang berprestasi,” ucapnya.

Lebih jauh ia menyampaikan bahwa pihaknya mempersilahkan kalangan pesantren untuk mengakses program-program tersebut. Bahkan ia menyampaikan akan mengundang pesantren Darul Muttaqin ke kedutaan.

“Kami akan agendakan untuk mengundang pihak pesantren untuk bisa berdiskusi dan menindaklanjuti program-program kami,” imbuhnya. (bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!