Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Saya, Anies, Djarot, dan Pribumi

Diterbitkan  Senin, 23 / 10 / 2017 10:46 - Berita Ini Sudah :  715 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Saya bertemu Anies Baswedan saat berkunjung ke Bandung, tepatnya dalam acara kesenian di Celah Celah Langit (CCL) di belakang Terminal Ledeng, Jalan Setia Budhi, Bandung, tahun 2015 lalu.

Waktu itu masih ramai-ramainya di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan seniman dan budayawan di Bandung, soal Anies dilengserkan Jokowi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Usai acara di CCL itu, saya minta foto bareng Anies. Foto itu saya abadikan di istagram, Budieuy_pendongeng_keliling., Tahun berikutnya Anies menjadi calon Gebernur (Cagub) DKI .

Di istagram itu saya menulis caption begini, “Dipoto jeung cagub dki jakarta… jadi kang anies…” Eh, caption itu ternyata menjadi kenyataan Anies menang dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta.

Anies yang berpasangan dengan Wakil Gubernur Sandiaga Uno, kemudian dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10/2017). Namun ada yang lucu dan penting dalam seremonial itu.

Yang lucu yang pertama soal Djarot Saiful Hidayat yang tidak hadir dalam pelantikan Anies-Sandi. Ketika Anies-Sandi dilantik, Djarot dan keluarganya malah jalan-jalan ke objek wisata Labuan Bajo.

Wah, enak banget Djarot berlibur di sana. Padahal secara etika pemerintahan, Djarot sudah sepatutnya ada di tempat pelantikan Anies, mengingat kepemimpinan itu sifatnya estafet.

Artinya ketika seorang pejabat memimpin suatu wilayah, lalu dia “pensiun” atau tidak terpilih lagi dalam Pemilu, namun ruang komunikasi harus tetap dibangun agar visi dan misi membangun masyarakat bisa dilanjutkan kepada pemimpin berikutnya.

Yang penting yang kedua soal kata “pribumi” yang disampaikan Anies dalam pidato pelantikannya. Kata pribumi itu menjadi bahan perbincangan hangat di seantero Tanah Air di berbagai media, bahkan ada pihak yang menyebutnya gaduh.

Berikut ini saya kutip pidato Anies dari Republika.co.id.,
“Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata selama ratusan tahun. Di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh. Tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata.

Dirasakan sehari-hari. Karena itu, bila kita merdeka maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai, Jakarta ini seperti yang dituliskan dalam pepatah Madura; ‘Itik se atellor, ajam se ngeremmih’.

Itik yang bertelur ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan, mengusir kolonialisme, kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di Ibu Kota ini”. (Jumat, 20/10/2017.

Terkait kata pribumi dalam pidato Anies itu bagi saya bukan rasis, karena ketika ada pribumi, pasti ada kata pendatang. Itu adalah realitas sejarah yang tidak bisa dikaburkan atau digelapkan, dan yang terpenting bagi pribumi, seperti kata Anies harus merdeka dari kolonialisme.

Nah, apakah kolonialisme itu sekarang masih ada? Anies mengajak kita semua merenung dan berpikir. Ini penting. (*)

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!