Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Tragedi Buruh Pabrik Kembang Api dan Petasan

Diterbitkan  Sabtu, 28 / 10 / 2017 18:02 - Berita Ini Sudah :  561 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Bagi saya, Kamis (26/10/2017) adalah hari yang sangat kelabu di Kabupaten Tangerang. Pada hari itu sebanyak 47 buruh pabrik kembang api dan petasan tewas terpanggang, sedangkan 35 buruh lainnya mengalami luka bakar .

Peristiwa memilukan itu terjadi di pabrik yang beralamat di Desa Cengklong, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Peristiwa itu berawal dari sebuah ledakan keras hingga akhirnya terjadilah kebakaran hebat.

Sudah sepatutnya peristiwa itu disebut tragedi buruh dan kemanusiaan, mengingat jumlah korban tewas cukup banyak dan matinya pun sangat mengenaskan. Mereka terjebak di dalam pabrik, lalu terbakar hingga tubuh-tubuhnya terpanggang dan gosong.

Memang, takdir kematian itu otoritas Sang Pencipta. Kita sebagai makhlukNya tak bisa menggugat otoritas itu. Namun tidak berarti kematian massal di pabrik itu bebas dari evaluasi dan tuntutan hukum.

Evaluasi itu misalnya menyangkut bagaimana standar kemananan kerja di pabrik itu. Kalau terbukti di pabrik itu tidak memiliki standar keamanan kerja yang baik, maka langkah selanjutnya tentu saja harus ada tindakan-tindakan yang sangat tegas dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang. Langkah itu misalnya berkaitan dengan hukum atau blacklist.

Sebab sudah bukan rahasia umum lagi di negeri ini ada saja pemilik pabrik atau pengusaha nakal yang hanya berorientasi pada keuntungan dan mengabaikan nyawa buruh-buruhnya. Celakanya lagi, mereka memperkerjakan buruh dengan gaji rendah dan tidak memiliki standar keamanan kerja yang memadai.

Karena itu, langkah-langkah tegas seperti itu sangat dibutuhkan, mengingat pabrik kembang api dan petasan semacam itu, memiliki risiko yang sangat berat bagi para buruh, dari mulai risiko celaka dan cacat seumur hidup sampai kematian.

Namun di lain pihak banyak warga yang membutuhkan pekerjaan atau pendapatan mengingat isi perut manusia itu tidak bisa dikompromikan atau dibiarkan kosong, sedangkan harus diakui sampai saat ini banyak pekerja yang tidak memiliki daya tawar.

Pekerja yang tidak memiliki daya tawar itu tingkat pendidikan dan kemampuannya sangat rendah. Warga semacam itu, apalagi perempuan, mau bekerja apa saja demi perut dan demi keluarga, termasuk bekerja di pabrik kembang api dan petasan.

Karena itu, pemerintah daerah harus bekerja keras, meningkatkan sumber daya manusia (SDM) agar memiliki daya tawar itu agar mereka bisa memilih tempat bekerja yang layak, bukan tempat kerja yang tidak menjamin hidup dan nyawa mereka.

Namun apa pun langlah pemerintah daerah, tragedi buruh dan kemanusiaan itu harus dijadikan pelajaran yang sangat berharga. Walau bagaimanpun tragedi itu jangan sampai terulang kembali, karena seperti kata pepatah tupai pun tak ingin jatuh yang kedua kalinya. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!