Hubert Leo Gencar Lakukan Workshop Tanaman Hidroponik

Diterbitkan  Kamis, 02 / 11 / 2017 23:52 - Berita Ini Sudah :  527 Dilihat

Hubert Leo. pendiri Drops for Crops, sedang memberikan pelatihan bertanam hidroponik kepada penghuni Kemah Beth Shallom Panti Werdha dan Panti Asuhan, Jalan Rawa Buntu, Kampung Ciater RT 02/01, Kelurahan Rawa Mekar, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (23/9/2017).

TANGERANG – Proyek pembangunan fisik dari waktu ke waktu terus menggusur lahan pertanian. Akibatnya lahan pertanian semakin menyusut dan budaya bertani pun terancam hilang.
Di tengah keprihatinan itu muncul cara bertani hidroponik.

Tak menutup kemungkinan sistem tanam seperti itu akan menjadi budaya baru di tengah kehidupan yang serba modern ini.

Adalah Hubert Leo, siswa SMA 3 Sekolah Pelita Harapan Karawaci, Tangerang, yang belakangan ini begitu rajin dan penuh semangat melakukan workshop bertani (bertanam) hidroponik ke berbagai kalangan, dengan harapan bisa membuka jalan meningkatkan perekonomian mereka.

Workshop salah satunya diberikan kepada para penghuni Kemah Beth Shallom Panti Werdha dan Panti Asuhan, Jalan Rawa Buntu, Kampung Ciater RT 02/01, Kelurahan Rawa Mekar, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (23/9/2017).

Hubert Leo sebagai pendiri Drops for Crops melakukan workshop hidroponik tidak sendirian. Siswa kelas 12 ini dibantu teman-temannya dalam satu tim dari Sekolah Pelita Harapan bersama Marsudi, pakar hidroponik yang sudah berpengalaman dan memiliki tanaman hidroponik di Cengkareng, Jakarta Barat.

“Indonesia dikenal sebagai negara agriculture. Karena itu, perekonomiannya banyak juga dari produksi pertanian. Namun saya ingin sekali membantu sistem pertanian hidroponik di negara ini, agar produksi para petani semakin meningkat,” kata Hubert.

Hubert Leo sedang memeriksa salah satu sayuran hidroponik di Kemah Beth Shallom Panti Werdha dan Panti Asuhan, Jalan Rawa Buntu, Kampung Ciater RT 02/01, Kelurahan Rawa Mekar, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (23/9/2017).

Hubert mengaku sudah banyak membaca majalah asing terkait dengan cara tanam hidroponik dan mempraktekan di rumahnya sendiri.

“Cara tanam hidroponik itu sudah banyak dilakukan di Amerika dan Belanda secara efektif. Saya ingin itu dilakukan juga di Indonesia. Sebab cara bertani secara konvensional itu, yang kini masih dilakukan banyak petani di negara ini, ternyata sampai saat ini masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang begitu kompleks,” katanya.

Hubert memberi contoh, saat ini lahan pertanian di negara ini semakin lama semakin sempit. Selain itu masih ada berbagai jenis hama yang sering menyerang tanaman serta cuaca yang seringkali tidak menentu dan tidak bisa diprediksi lagi.

“Tanaman hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas seperti para petani konvensional, kemudian tidak ada hama, tidak menggunakan pupuk kimia dan tidak dipengaruhi cuaca apa pun. Tanaman hidroponik akan tetap tumbuh dalam situasi apa pun,” paparnya.

Hubert memberi contoh melalui tayangan gambar bahwa menanam hidroponik bisa dilakukan pada lahan-lahan sempit, seperti di halaman rumah, bahkan bisa juga dilakukan di dinding rumah. Tanaman sayur-sayuran itu tumbuh begitu subur.

“Tanaman hidpronik bisa juga dilakukan di atas apartemen atau rumah susun seperti yang sudah dilakukan di Jepang. Makanya, saya nanti akan melanjutkan workshop di Waduk Pluit, Jakarta,” ucapnya.

Lebih lanjut Hubert menerangkan, tanaman hidroponik hanya menggunakan paralon yang sudah dilubangi yang jumlahnya bisa mencapai ratusan dan disusun bertingkat. Namun bisa juga menggunakan bambu atau botol-botol plastik bekas.

Khusus yang menggunakan paralon yang dilubangi, lanjut Hubert, membutuhkan mesin pompa air, tempat menyimpan benih (semacam busa) dan keranjang kecil sebagai wadah tanaman jika sudah mulai tumbuh, dan dibawahnya ada semacam belalai yang masuk ke dalam air yang dialirkan mesin ke paralon.

Kelebihan lain dari tanaman hidroponik tidak perlu disiram seperti pada tanaman konvensional yang biasanya disiram dua kali dalam sehari, sedangkan produksi tanaman hidroponik lebih besar dan lebih sehat dari tanaman konvensional lainnya serta cepat dipanen.

“Tanaman hidroponik itu bisa berupa sayur-sayuran seperti kangkung, bayam, atau terong, dan bisa juga cabai. Pemasaran tanaman hidroponik juga potensial seperti ke mal-mal atau supermarket atau ke lingkungan masyarakat,” katanya.

Pantauan di lokasi workshop, puluhan peserta workshop, baik remaja dan dewasa mapun orang tua, begitu antusias ketika Hubert melakukan presentasi tentang tanaman hidroponik melalui layar infokus. Hubert juga terjun langsung membagikan benih sayuran kepada peserta.

Hubert Leo berdiri disamping tanaman hidroponik di Kemah Beth Shallom Panti Werdha dan Panti Asuhan, Jalan Rawa Buntu, Kampung Ciater RT 02/01, Kelurahan Rawa Mekar, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (23/9/2017).

Mereka diajarkan cara menanam tanaman hidroponik secara detil dari mulai pembibitan hingga menanam bibit tersebut. Dalam workshop tersebut juga dibuka sesi tanya jawab kepada peserta.

Pengurus Harian Kemah Beth Shallom Panti Werdha, Ayin Oei mengucapkan terima kasih kepada Hubert yang telah memberikan worskhop di panti. “Workshop ini besar sekali manfaatnya. Kami sangat antusias mengikuti workshop,” katanya.

Sementara itu, Marsudi mengaku sudah bekerja di bidang sosial selama 10 tahun. Namun sampai saat tidak menemukan sosok anak muda seperti Hubert yang mau terjun di bidang sosial, seperti memberikan pelatihan-pelatihan cara bertanam hidroponik kepada berbagai kalangan masyarakat.

“Saya tidak menemukan anak sekolah seperti Hubert yang mau melakukan kerja-kerja sosial, khususnya memberikan pelatihan hidroponik secara gratis kepada berbagai kalangan masyarakat,” papar Marsudi. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!