Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Alexis

Diterbitkan  Jumat, 03 / 11 / 2017 23:44 - Berita Ini Sudah :  442 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Sebagai seorang wartawan, di mana saja, kebiasan bertanya saya seringkali muncul. Mungkin itu sudah jadi kebiasaan. Waktu saya jalan-jalan di Taman Waduk Pluit, saya nanya ke beberapa warga tentang Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang baru dilantik Presiden Jokowi.

Saya ingin tahu saja, kira-kira sosok Anies-Sandi seperti apa di mata mereka. Saya sendiri bukan pendukung apalagi pemilih Anies-Sandi karena KTP saya bukan DKI Jakarta, melaikan Tangerang.

“Ah, saya mah yakin, Bang. Anies tidak akan setegas Ahok (Mantan Gubernur DKI yang kini di dalam penjara gara-gara menistakan agama Islam, red). Nggak bakalan berani kayak Ahok dulu,” kata salah seorang warga tanpa tedeng aling-aling.

Mendengar jawaban warga seperti itu, saya senyum-senyum saja. Saya menduga ia pendukung Ahok.

Warga lainnya bilang dengan penuh semangat, dulu Waduk Pluit joroknya minta ampun. Segala jenis sampah ada di waduk itu. Tapi oleh Ahok, waduk itu diberesin. Lihat saja, Waduk Pluit sudah bersih dari sampah dan airnya tidak butek lagi.

Saya manggut-manggut. Kemudian saya meninggalkan warga karena harus segera ke rumah susun sewa (Rusunawa) Waduk Pluit. Ada liputan di sana.

Tapi setelah saya nonton televisi dan membaca beberapa media cetak dan online, Anies-Sandi ternyata menerbitkan surat pemberitahuan tidak memperpanjang lagi Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) untuk Hotel dan Griya Pijat Hotel Alexis pada 27 Oktober 2017.

Pikiran saya kembali inget kepada warga yang menilai Anies-Sandi yang disebut-sebut tidak bisa tegas. “Ah, ternyata Anies bisa tegas juga kok. Kata siapa Anies gak berani,” kata saya dalam hati.

Kalau TDUP itu tidak diperpanjang lagi oleh Anies-Sandi atas nama Pemprov DKI Jakarta, itu artinya hotel yang terletak di kawasan Pademangan, Jakarta Utara itu, harus tutup dan tidak boleh beroperasi lagi.

Pertanyaanya saya, kenapa sih Alexis harus ditutup? Yang menarik dari jawaban Anies kepada para awak media, karena dia sebagai pemimpin harus menjaga moral masyarakat DKI Jakarta.

Walau saya bukan warga DKI Jakarta, saya setuju dengan pernyataan Anies. Seorang pemimpin seharusnya menjaga moral warganya, moralnya bangsanya juga. Jadi, kalau hotel itu disinyalir dijadikan tempat maksiat atau prostitusi, sehingga disebut banyak orang sebagai “surga dunia”, ya sudah harus ditutup.

Langkah Anies-Sandi itu sudah benar. Yang tidak benar itu, ada tempat maksiat atau praktek maksiat, tapi pemimpinnya diam saja. Ironisnya lagi pemimpin seperti itu masih bisa tidur nenyak. Alamak….

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!