Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Sirkus, Buron, Novanto, dan Lelucon Tiang Listrik

Diterbitkan  Jumat, 17 / 11 / 2017 23:37 - Berita Ini Sudah :  533 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Akhir-akhir ini, berita tentang sosok Setya Novanto di berbagai media hancur lebur. Tidak ada bagus-bagusnya, Tidak enak didengar telinga, tidak enak dilihat mata. Semuanya jelek, semuanya begitu buruk. Sebagai seorang manusia, seolah-olah, ya seolah-olah, Novanto kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Padahal ia orang terhormat loh, pejabat negara, Ketua DPR RI.

Sebenarnya, berita tentang keburukan Novanto di media massa itu jauh-jauh hari sudah ada. Misalnya, ketika ia diberitakan terlibat kasus “Papa Minta Saham” ke PT Freeport Indonesia. Setelah itu, ramai-ramai Novanto dilengserkan secara paksa dari jabatan Ketua DPR RI.

Namun politisi senior Partai Golkar yang memiliki wajah kalem, senyumnya yang keren hmmm, sorot mata yang kecil nan fokus, dan gerak tubuh yang selalu tenang itu, rupanya punya banyak jurus berkelit. Ibarat jurus mabuk dalam film-film laga Jacky Chan.

Lihat saja, meski berkali-kali beritanya sedemikian buruk di media massa, Novanto ternyata bisa tetap bangkit dan jaya. Buktinya, dengan gerakan politiknya yang aduhai piawai itu, Novanto mampu merebut kembali Kursi DPR RI dari Ade Komarudin.

Tidak hanya itu, ia juga selamat dari jeratan hukum kasus “Papa Minta Saham”. Kasus yang menggegerkan masyarakat kita, dan tidak menutup kemungkinan juga masyarakat internasional, mengingat Freeport itu besutan Amerika Serikat.

Dan ini lagi, ketika KPK menetapkan Novanto sebagai tersangka, ia tidak tinggal diam.

Dengan gagah dan beraninya, ia lawan KPK dengan cara mengajukan pra peradilan. Eh… ternyata dia menang, Bro. Dengan begitu kasus hukumnya soal dugaan mega koruspi e-KTP itu tidak bisa dilanjutkan secara hukum oleh penyidik.

Orang- orang kemudian bertanya, “Kok KPK suwe, bisa kalah sih sama Novanto?”

Namun diam-diam KPK makin gemes dengan permainan sirkus ala Novanto. KPK mencari langkah-langkah strategis dan bukti-bukti baru untuk menjerat kembali Novanto, masih dalam kasus mega korupsi e-KTP yang diduga merugikan uang negara Rp 2,3 triliun.

KPK pun menetapkan kembali Novanto sebagai tersangka.

Namun lagi-lagi dia punya banyak cara untuk berkelit. Novanto pun dikabarkan sakit dan harus dirawat di rumah sakit (Kalau menurut saya mah, yang ini kayaknya bener, bukan sirkus. Sakit loh. Bukan main-main.

Masak iya sakit bisa direkayasa).

Setelah menetapkan sebagai tersangka, tidak lama kemudian  KPK mengeluarkan surat penangkapan. Namun KPK dan masyarakat Indonesia dibuat kaget dan pusing tujuh keliling.

Sebab Novanto dikabarkan hilang hingga akhirnya ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Novanto dianggap melarikan diri, dianggap buron seperti dalam kasus-kasus kriminal jalanan.

Belakangan ini muncul lagi berita di berbagai media, Novanto katanya masuk rumah sakit, karena mobilnya menabrak tiang listrik saat akan menuju kantor KPK. Saya kemudian bertanya-tanya, kok nabrak tiang listrik doang bisa masuk rumah sakit? Bukankah yang namanya mobil pejabat-pejabat terhormat itu, macam punya Ketua DPR RI, pasti sangat terjamin keamanannya? Entahlah.

Tapi hanya dalam sekejap, kasus Novanto nabrak tiang listrik itu, menjadi buah bibir dan bahan lelucon di media sosial. Ada yang mengatakan yang salah sebenarnya tiang listrik, Novanto mah tidak.

Tapi kalau menurut akal sehat saya, mana ada tiang listrik yang salah dalam kecelakaan lalu lintas lalu disidang di pengadilan. Selain itu mana ada manusia yang main-main ingin celaka di jalanan. Itu logika terbalik. Ah, kalau pun toh ada, itu pasti hanya ada dalam pentas-pentas sirkus. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!