Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Persekusi Cikupa

Diterbitkan  Senin, 27 / 11 / 2017 1:00 - Berita Ini Sudah :  530 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Main hakim sendiri rupanya masih terjadi di negeri ini, termasuk di Kabupaten Tangerang. Belum lama ini pasangan sejoli di Kampung Kadu, Kelurahan Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang, ditangkap warga karena dituding berbuat asusila di kamar kontrakannya.

Mereka tidak hanya ditangkap, namun pakaian mereka dilucuti hingga nyaris telanjang tanpa busana. Belum puas dengan menelanjangi kedua sejoli itu, warga pun ramai-ramai mengarak mereka seperti layaknya binatang yang tak punya akal.

Dalam situasi seperti itu, ada seseorang yang merekam dengan menggunakan handphone. Tentu saja dalam sekedap video tersebut kemudian menjadi viral di media sosial (medsos) dan menjadi bahan perbincangan warga Tangerang Raya.

Peristiwa itu jelas sebagai katagori persekusi atau main hakim sendiri. Tentu saja persekusi sangat buruk karena persekusi biasanya dilakukan dengan cara-cara kekerasan, baik oleh individu mapun kelompok terhadap individu atau kelompok lain.

Perseksusi biasanya dilatarbelakangi dengan rasa marah dan kebencian individudu atau kelompok terhadap seseorang atau kelompok lain, sehingga dalam peristiwa itu melebar ke perilaku penganiayaan yang cenderung biadab.

Namun beruntung jajaran kepolisian mengambil langkah cepat. Tidak lama setelah kasus itu, mereka mampu menangkap enam tersangka dan satu tersangka lagi yakni pengunggah video asusila tersebut.

Para tersangka itu tentu saja harus dihukum maksimal, apalagi diantara enam tersangka tersebut dikabarkan ada Ketua RT dan RW yang tindak tanduk, pemikirannya, dan wawasannya harusnya menjadi teladan bagi masyarakat setempat.

Demikian juga dengan pengunggah video persekusi tersebut harus dihukum berat, dengan berlandaskan pada hukum Undang-Undang (UU) Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Harus diingat oleh semua anak bangsa bahwa negara ini negara hukum. Tak ada alasan bagi siapa pun melakukan persekusi. Hukum harus dijadikan panglima, hukum harus ditegakan setegak-tegaknya, hukum juga harus tajam ke atas dan ke bawah.

Untuk menjalankan hukum seperti itu memang sangat tidak mudah, karena tentu saja harus didukung dengan perangkat sumber daya manusia (SDM) para penegak hukum yang kuat dan mumpuni, yang memiliki dedikasi dan komitmen menjaga penegakan hukum untuk kehormatan hukum itu sendiri.

Di tangan para penegak hukum seperti itu, saya sebagai anak bangsa meresa optimis bahwa masyarakat kita akan terbentuk menjadi masyarakat yang lebih berbudaya. Salah satu cirinya adalah masyarakat tertib dalam hal apa pun, karena mereka sudah taat dan patuh terhadap hukum serta hormat terhadap para penegak hukumnya. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!