Prihatin Anak Main Gadget, Dosen FKIP UMT Tradisikan Dongeng

Diterbitkan  Jumat, 16 / 03 / 2018 14:32 - Berita Ini Sudah :  656 Dilihat

DONGENG. Dosen dan Mahasiswa FKIP UMT foto bersama sebelum mendongeng di SDN Kutabumi 1, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Selasa (13/3).

PASAR KEMIS – Anak-anak di era mileneal saat ini sudah sangat langka mendengarkan hebatnya dongeng. Mereka malah lebih sibuk memainkan dan berteman dengan gadget.

Hal itu dikatakan dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Intan Sari Ramdhani, usai mendongeng kepada ratusan siswa Kelas 1 SDN Kutabumi 1, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Selasa (13/3) lalu.

“Orang tua di zaman sekarang ini sibuk. Demikian juga di wilayah Tangerang. Keduanya (Ayah dan Ibu) bekerja. Anak-anak mereka kemudian diberi gadget supaya tenang dan tidak rewel,” katanya.

Padahal cara seperti itu, lanjut dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini, bisa berakibat buruk pada imajinasi dan karakter anak-anak. “Saya betul-betul prihatin” ungkapnya.

Karena itu dijelaskan Intan, FKIP UMT melalui Program Pengabdian Masyarakat (PPM) menggagas mentradisikan kembali mendongeng di kalangan anak-anak seperti anak-anak sekolah.

Menurutnya, kegiatan itu diikuti mahasiswa Prodi PGSD dan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. “Tema yang kami angkat mengembangkan imajinasi dan karakter siswa melalui dongeng. Selain itu ingin menghibur mereka juga,” ungkap Intan.

Dikatakan Intan, kegiatan mendongeng ini dilakukan tiga dosen, yakni dirinya, Dilla Fadhillah, dan Winda Dwi Hudhana. “Kami berkolaborasi dengan mahasiswa Prodi PGSD dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, terangnya.

Dilla Fadhillah, Ketua Program Pengabdian Masyarakat yang juga dosen FKIP, mengatakan kegiatan ini berangkat dari keprihatinan akan kebiasaan masyarakat dan anak-anak yang tergantung pada gadget.

“Anak-anak sekarang juga lebih senang bermain gadget dibandingkan membaca buku cerita. Salah satu penyebabnya orang tua yang sibuk. Di Kabupaten Tangerang misalnya sebagian besar bekerja di pabrik. Akibatnya kebiasaan mendongeng semakin ditinggalkan,” ujarnya.

Dilla berpendapat, para orang tua lebih memilih gadget sebagai media hiburan untuk anak-anaknya. Tujuannya agar anak-anak mereka tidak “rewel”. Padahal cara seperti itu banyak dampak negatifnya.

Dia memberi contoh, dari segi kesehatan bisa merusak mata atau otak apabila terlalu lama memakai gadget, dari segi psikologi anak akan tumbuh dengan sifat individual dan egois, dari segi sosiologi anak menjadi kurang bersosialisasi dengan teman di sekitar tempat tinggalnya, dan dampak lainnya.

Dia mengatakan, dalam kesempatan itu para dosen mengangkat fabel yang berjudul “Harimau yang Sombong” dengan media boneka tangan. Dalam cerita itu dikisahkan persahabatan tokoh gajah dan tokoh monyet yang hampir tergoyahkan oleh rasa sombong masing-masing karena merasa paling hebat.

Namun berkat nasihat dari tokoh bebek, persahabatan mereka erat kembali. Tokoh Harimau kemudian iri melihat persahabatan itu dan ingin menguasai hutan serta menjadi raja hutan.

Namun, dengan kecerdikan dan tipu muslihat tokoh kelinci, harimau tersebut dapat dikalahkan dan harimau tersebut mati.

Intan mengatakan kegiatan mendongeng disambut antusias sekitar 125 siswa. Mereka juga hanyut dalam pusaran cerita itu.

“Pesan dalam dongeng itu, kita sebagai manusia tidak boleh sombong,” katanya.

Kegiatan mendongeng ini lanjut Intan, ditutup dengan tanya jawab mengenai pesan-pesan dalam dongeng, karakter tokoh dan lainnya serta dengan lagu anak-anak karya Dekan FKIP UMT Enawar.(bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!