Prodi Kesos UMJ Hadirkan UNICEF dan KPAI

Diterbitkan  Kamis, 05 / 04 / 2018 22:56 - Berita Ini Sudah :  224 Dilihat

CIPUTAT TIMUR– Persoalan perlindungan anak sepajang waktu menjadi krusial dan penting dibahas. Hal ini yang dilakukan oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial (Prodi Kesos) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (5/4). Dengan menggelar seminar Nasional tentang “Sistem Perlindungan Anak di Indonesia,”  Prodi Kesos UMJ menghadirkan pembicara dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Perwakilan UNICEF Jakarta, Astrid Gonzaga Dionisio menegaskan, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan mandat untuk mengadvokasi perlindungan hak anak dan membantu memenuhi kebutuhan dasar serta memperluas kesempatan anak-anak untuk mencapai potensi.

“Area kegiatan program kerjasama Republik Indonesia dan UNICEF di tahun 2016 sampai 2020 mendatang mencakup beberapa hal kaitannya dengan dukungan teknis, advokasi dan sasaran kebijakan kemudian pengembangan bukti,” tuturnya.

Sistem perlindungan pada anak, lanjut Astrid, mencakup lima elemen. Pertama, kesejahteraan sosial bagi anak dan keluarga. Kedua, dukungan parenting pengasuhan anak, pelayanan dasar lainnya seperti kesehatan dan pendidikan. Ketiga, peradilan. Keempat, perubahan sosial. Kelima, pengasuhan anak, pengadilan anak, perawatan, adopsi, saksi anak dan korban anak.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati saat dihadirkan dalam seminar tersebut menyatakan, pemangku kepentingan perlindungan anak meliputi seluruh lapisan  masyarakat dan pemangku kebijakan. Pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah  wajib ikut berperan aktif dalam melindungi anak-anak.  “Selain orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitar, pemerintah daerah juga negara harus hadir dalam memberikan perlindungan terhadap anak,” tambahnya.

Ketua Panitia Tuti Alawiyah mengungkapkan seminar nasional ini di latarbelakangi adanya keprihatinan bersama, terkait banyaknya kasus kekerasan terutama pada anak yang terjadi baik di keluarga, lingkungan, maupun sekolah.

“Kasus kekerasan pada anak merupakan fenomena umum di dunia, termasuk Asia Fasifik dan Indonesia. Lebih dari 1 Miliar atau setengah dari anak usia 2-17 tahun terpapar kekerasan fisik, seksual dan emosional. Prevalensi tertinggi terjadi di Asia, dimana lebih dari 700 juta anak terpapar kekerasan,” ungkapnya.

Tingkat kematian anak akibat tindak kekerasan di dunia, menurut Global Status Report on Violence Preventation tahun 2012 menunjukkan, anak usia dibawah 5 tahun adalah yang paling rentan mengalami kematian yang mencapai 2.7 anak per 100.000. Anak usia 0-4 tahun dan 1.5 anak per 100.000 anak usia 5-14 tahun.

Sementara di Indonesia, berdasarkan Survey Kekerasan Nasional tahun 2013 yang dilakukan oleh pemerintah dan Unicef, menunjukkan 30 persen anak indonesia usia 13-17 tahun pernah mengalami satu dari jenis kekerasan fisik, emosional dan seksual dalam saru tahun terakhir.

“Untuk itu melalui seminar ini, kami berharap ada titik temu dan singkronisasi apa yang masih dan perlu dilakukan kedepan, baik oleh pemerintah, lembaga maupun perguruan tinggi,” tambahnya. (din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!