Mediasi dengan Menejemen Bus dan EO


Keluarga Korban Menangis Ceritakan Kronologis Tanjakan Emen

Diterbitkan  Rabu, 11 / 04 / 2018 22:10 - Berita Ini Sudah :  346 Dilihat

MEDIASI KORBAN EMEN: Keluarga korban tanjakan emen terlihat memasang spanduk pertanggung jawaban kepada PO Bus Premium Passion saat berlangsungnya mediasi di Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, Rabu (11/4). Dalam mediasi tersebut keluarga korban tanjakan emen meminta pertanggung jawaban kepada pihak PO Bus Premium Pasion untuk bertanggung jawab kepada korban tanjakan emen yang meninggal dunia ataupun yang mengalami sakit.

CIPUTAT TIMUR-Lagi, keluarga korban Tanjakan Emen menuntut pertanggungjawaban pihak Perusahaan Outobus (PO) Premium Passion dan Event Organizer (EO) Cakruk Gunung Kidul. Pertemuan di aula Kantor Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, kemarin, berlangsung panas.

Emosi para keluarga korban yang merupakan warga Legoso, Kelurahan Pisangan itu memuncak ketika perwakilan PO Premium Passion dan Cakruk Gunung Kidul baru saja memasuki ruangan. Selama dua bulan, mereka tak kunjung mendapatkan kejelasan.

Yuli, salah satu keluarga korban terlihat menangis histeris ketika menyampaikan keluh kesah di rapat tersebut. Dia sesenggukan, dan katanya terbata-bata. Dia menceritakan bagaimana kronologis awal keberangkatan sang sopir bus sempat menelpon pihak manajemen PO jika busnya terkendala.

“Bus sempat tak layak jalan dan sopir telpon ke menejemen untuk mengirimkan bus pengganti. Ini sangat tragis sekali. Adik-adik saya menjadi yatim piyatu,” ujarnya sambil menangis.

Pengacara keluarga korban, Ari Tarigan menyayangkan sikap yang ditempuh EO dan PO menunggu selama dua bulan baru ada sikap. Padahal pihak korban sangat menanti niatan baik ucapan permintaan maaf. “Bagaimana bapak mau bertanggung jawab. Mengucapkan permintaan maaf  kepada korban saja harus menunggu selama dua bulan” sesalnya.

Sebetulnya pihak keluarga sejak awal tak mengharapkan dan mempersoalkan besar atau kecil dana santunan atau ganti pihak keluarga, asalkan ada niatan baik permintaan maaf kepada keluarga korban agar merasa tenang dan dimanusiakan.

“Bukan soal besar kecilnya angka, tapi niat itikad  baik pihak EO dan PO. Baik EO dan PO wajib membuat surat peryataan disaksikan oleh Pemerintah Kota Tangsel. Pemerintah Kota Tangsel wajib mengetahui kasus ini dan perkembangannya jangan sampai menjadi sasaran keluarga korban,” tegas ia.

Ari menjelaskan, awalnya tak ada niatan para keluarga korban untuk menempuh jalur hukum atau ke meja hijau dengan catatan PO dan EO ada sikap yang pasti. Hingga akhirnya dikeluarkan surat perjanjian yang ditandatangani bersama beberapa point penting tuntutan keluarga korban.

“Kita memiliki limit waktu untuk dipenuhi bukan sebagai jawaban kapan dan menunggu waktu lagi. Kita tidak membuka mediasi lagi tapi jawaban bukan peryataan,” tambah ia.

Diketahui, sedikitnya ada 55 penumpang mengalami luka ringan, berat dan meninggal akibat tragedi kecelakaan Tanjakan Emen di Subang pada 10 Februari 2018 silam. 26 korban yang merupakan warga Legoso meninggal dunia.

Ketua Forum Silaturahmi Keluarga Korban, Aang Junaedi dengan tegas menyatakan pihak PO Bukan hanya lalai pada kondisi mobil, tapi juga nyawa.Dari situlah disepakati oleh keluarga korban mengajukan tuntutan.

“Peryataan sikap, pertama pihak PO dan EO harus melakukan permintaan maaf secara langsung lewat media. Kedua mempertangungjawabkan atas kelalaian pihak menejemen PO yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka dengan pertangungjawaban penuh baik moril, materil, dan inmateril. Ketiga, bertanggung jawab penuh kepada seluruh korban luka-luka sampai dengan korban pulih kembali seperti sedia kala,” katanya.

Lanjutnya, poin keempat, bertangung jawab penuh untuk rehabilitasi trauma kepada seluruh korban dan keluarga korban. Kelima, bersedia memberikan biaya pemakaman kepada seluruh korban meninggal dunia sebanyak dua puluh enam orang. Keenam, bersedia untuk memfasilitasi pada keluarga korban untuk ziarah atau tabur bunga ke lokasi kejadian Tanjakan Emen Subang.

Sementara poin ketujuh sebagai tuntutan korban meninggal dunia sebesar Rp 300 juta per orang. Untuk luka berat Rp 250 juta per orang. Luka ringan sebanyak  55 orang Rp 100 juta. “Apabila dalam 7 point di atas tidak terpenuhi maka kami akan tuntut secara hukum secara perdata ke Pengadilan Negeri sesuai wilayah hukum. Kita akan berikan waktu 3×24 jam atau 3 hari jika tidak dipenuhi ,” ucapnya.

Pada pertemuan itu turut hadir Asda 1 Bidang Pemerintahan Rahmat Salam, Camat Ciputat Timur Durahman, Lurah Pisangan Idrus Asenih, Jajaran Polsek Ciputat dan Koramil 06 Ciputat. “Pesan dari Ibu Walikota agar dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ucap Rahmat Salam menutup pertemuan.

Sementara, perwakilan PO dan EO yang hadir turut diamankan atau dilindungi dikhawatirkan ada yang melakukan tindakan diluar digaan. Ketiga orang perwakilan dari dua lembaga ini selesai musyawarah di kawal TNI/Polri sampai ke ruang lurah untuk istirahat dan menenangkan diri. Sebelumnya, pihak keluarga korban pada awal bulan ini sempat mendatangi kantor kelurahan untuk menuntut pertanggungjawaban atas tragedi Tanjakan Emen itu.(din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!