Airin Terus Gaungkan Gerakan 100 Smart City

Diterbitkan  Selasa, 08 / 05 / 2018 23:16 - Berita Ini Sudah :  209 Dilihat

JAKARTA-Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) melakukan penandatangan nota kesepahaman (Mou) untuk menuju Gerakan 100 Smart City tahap kedua di salah satu hotel di Jakarta, kemarin.

Penandatangan ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang bertujuan mendorong pemanfaatan teknologi dalam menjawab permasalahan sekaligus mendorong potensi di daerah masing-masing.

Ketua Apeksi, Airin Rachmi Diany mengungkapkan, berdasarkan proyeksi, pada tahun 2045 nanti diperkirakan 82,37 % penduduk Indonesia akan hidup di kota atau kawasan perkotaan. Ini artinya, ke depan, kota akan memiliki pekerjaan dan tantangan yang lebih besar dalam upayanya memenuhi kebutuhan warganya.

Di sisi lain, dari aspek daya dukung kota, angka  pertumbuhannya tidak akan dapat menyamai angka pertumbuhan penduduk. Jika tidak disiapkan solusi yang tepat, maka hal ini akan menimbulkan adanya sebuah “gap” atau kesenjangan.

“Salah satu solusi yang paling memungkinkan untuk menyelesaikan kesenjangan ini adalah dengan memanfaatkan keunggulan teknologi dan inovasi oleh pemerintah, lembaga legislatif, warga, dunia usaha, perguruan tinggi, dan juga media,” ujar walikota Tangsel ini.

Menurut Airin, teknologi dan inovasi memberikan peluang bagi pemerintah kota untuk bekerja dengan lebih efisien, ekonomis dan efektif. “Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional yang banyak menguras sumber daya dalam rangka menjalankan pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Artinya, pemanfaatan teknologi sudah menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan,” bebernya.

Airin memastikan, kota cerdas atau smart city adalah sebuah jalan keluar. “Setahap demi setahap kita bisa merasakan manfaat dari teknologi yang sudah diterapkan. Ke depan, harapan kita semua, tentunya, adalah bagaimana kita benar-benar dapat lebih memaksimalkan lagi fungsi teknologi. Membangun sebuah kota yang cerdas memang bukan sebuah pekerjaan mudah. Kami yang ada di daerah benar-benar merasakan hal tersebut,” ungkapnya.

Lanjut Airin, butuh kemauan, kemampuan dan dukungan sumber daya manusia. Namun harus senantiasa mengingat kata-kata bijak yang mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan yang besar, maka diperlukan perjuangan yang besar.

“Dalam konteks kami di institusi Apeksi, Alhamdulillah, selama ini seluruh anggota Apeksi selalu berjalan bersama, saling membantu, saling berbagi dan saling bertukar dalam upaya mengembangkan konsep smart city. Prinsip yang kami pegang adalah “kita harus maju bersama-sama”. Sudah bukan prinsip kami lagi untuk menyimpan dan menikmati sendiri keunggulan teknologi dan inovasi,” jelasnya.

Apeksi juga memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada kementerian dan lembaga lainnya yang banyak memberikan dukungan dan asistensi. Gerakan menuju 100 smart city ini adalah salah satu dari bentuk dukungan tersebut.

“Kita berharap, semoga dengan berhasilnya kita membangun kota-kota yang cerdas, maka artinya kita telah meletakkan sebuah fondasi yang kuat bagi terwujudnya smart nation atau bangsa yang cerdas,”katanya.

Sementara, Dirjen Aplikasi dan Komunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, Samuel Abrijani Pangerapan mengungkapkan, gerakan menuju smart city sudah bergulir sejak 2017. Saat itu, 25 kabupaten/kota terpilih untuk mengikuti kegiatan ini. Sementara, 25 kabupaten/kota lainnya ditargetkan mengikuti kegiatan ini pada tahun depan.

“Saat ini kita bertransformasi dan bergeraknya sangat cepat, bisnis bergerak sangat cepat, inovasi pun tumbuh sangat cepat, sehingga kita mengajak UMKM , petani, nelayan menggunakan teknologi digital untuk mengimbangi kemajuan jaman ini,”ungkapnya.

Lanjutnya, masyarakat pun telah terjadi gerakan literasi untuk menggunakan teknologi digital. “Kenapa harus sekarang? Lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia menjadi netizen, mereka menginginkan pelayanan yang lebih cepat, bahkan 170 ribu warga di 2020 masuk netizen, kalau tidak mengikuti gayanya akan ditinggalkan,” terangnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyatakan, smart city tak hanya pemenuhan atas kebutuhan teknologi. “Kita harus mendefinisikan dulu manfaat apa yang ingin diberikan kepada masyarakat, baru kemudian mencari teknologi yang relevan,” kata Rudiantara.

Pemilihan kabupaten/kota untuk mengikuti kegiatan ini dilakukan melalui seleksi dengan melihat berbagai parameter, seperti kondisi keuangan daerah, peringkat dah status kinerja penyelenggara pemerintah daerah berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, serta indeks Kota Hijau yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Setelah penandatangan ini, daerah akan mendapatkan pendampingan guna menyusun master plan. Pendampingan dilakukan oleh akademisi dan praktisi smart city dari berbagai institusi seperti  Universitas Indonesia, ITB, Perbanas, dan UMN. Master plan yang dihasilkan akan mencakup rencana pembangunan smart city di masing-masing kabupaten/kota dalam 5-10 tahun ke depan.(irm)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!