Melihat Perayaan Festival Kuliner Betawi 2018 di Situ Parigi


Lelang Kue Bacot Rp 20 Juta, Sediakan 5 Kuali

Diterbitkan  Selasa, 08 / 05 / 2018 22:32 - Berita Ini Sudah :  260 Dilihat

Kue bacot atau dodol Betawi, geplak, kue keranjang, kue jalabia atau kua cincin, opak, serta makanan lokal dipamerkan di Festival Kuliner Betawi 2018 di Situ Parigi, Kecamatan Pondok Aren, Minggu (75) lalu. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati lokasi acara.

SUDIN ANTORO-Pondok Aren

Musik gambang kromong sayup terdengar. Sejak pagi, warga Pondok Aren dan dari daerah lainnya berdatangan ke lokasi acara yakni, di tepi Situ Parigi.  Ada dua pintu gerbang terpasang gapura dan janur serta ornemen pertanda dibukanya Festival Kuliner.

Sekitar pukul 14.00 WIB acara dibuka dengan ditandai penampilan palang pintu. “Tujuan saya membuat acara ini untuk mengangkat nilai-nilai yang terkandung sangat berharga. Di sini ada gambang keromong, palang pintu dan berbagai macam makanan khas Betawi,” kata Bang Kimpo, pemrakarsa acara Festival Kuliner Betawi.

Saat ini di pasaran sekitar 50 jenis makanan Betawi namun hanya beberapa saja yang masih beredar dan sering dijumpai. Maka untuk mempertahankan dan mengenalkan kepada masyarakat utamanya anak-anak dengan menyajikan secara langsung pembuatan dodol dan kue jalabia.

“Saat ini dibutuhkan orang-orang yang peduli terhadap warisan Betawi dari berbagai macam aspek. Acara seperti ini juga dapat mengangkat perekonomian masyarakat serta hiburan murah dan mudah dijangkau,” imbuhnya.

Panitia menyediakan 5 kuali dengan satu kuali berbobot kue bacot 2 kwintal 20 kilogram. Minimal 2 orang tenaga untuk mengaduk selama 10 jam. Kurang dari 10 jam kualitas kue bacot tidak tahan lama dan kurang pas.

Sedikitnya hampir mencapai 10 ribu pengunjung hadir. Tak sedikit masyarakat membawa pulang buah tangan berbagai kue. Yang menarik di tempat ini di sajikan Rumah Blandongan seluas 100 meter per segi. Mendengar rumah kebaya di bayangan orang pasti unik dan nyaman. Benar sekali. Rumah kebaya milik Bang Kimpo.

Semua komponen rumah terbuat dari kayu, matrial sisanya batu bata atau semen untuk lantai. Di pelataran rumah kebaya di tanami sayuran kol, membuat pemandangan semakin indah.

Di samping kiri terdapat musola dengan konsep kayu semua berukuran 20 meter per segi. Musola ini mungil dan sangat estetik sekali. “Rumah ini selain di tempati saya pribadi juga untuk masyarakat secara umum. Siapapun bisa datang ke tempat ini. Telah banyak mahasiswa datang menggelar diskusi di tempat ini. Saya sangat bahagia sekali. Saya ingin berbaut baik kepada masyarakat luas,” tuturnya.

Malam harinya, Wakil Walikota Benyamin Davnie, Kepala Dinas Pariwisata Judianto, Camat Pondok Aren Makum Sagita, Ketua DPD Bamus Tangsel Toto Sudarto menyambangi lokasi.

“Mari kembali ke khittah kita sebagai orang Betawi agar tetap merawat warisan gotong royong dan tali silaturahmi di tengah gempuran kemajuan zaman saat ini dan jadikan Tangsel sebagai pengerak kebudayaan Betawi,” pesan Benyamin.

Di penghujung acara, digelar lelang kue bacot atau dodol seharga Rp 20 juta, yang dibayar oleh Lurah Parigi Baru Idris. Kue bacot ini tebal 20 centi meter lingkaran diameter 1 meter. Pembuatan kue bacot ini menjadi daya tarik tersendiri di saat gempuran peradaban modern.(*)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!