Miras Sitaan Dikembalikan ke Superindo


DPRD Pertanyakan Tindakan Satpol PP

Diterbitkan  Senin, 02 / 07 / 2018 23:11 - Berita Ini Sudah :  157 Dilihat

SERPONG-Ratusan botol minuman keras (miras) hasil sitaan dikembalikan Satpol PP kepada pemiliknya tanpa sidang tindak pidana ringan (tipiring). Tindakan petugas penegak Perda itupun dipertanyakan oleh DPRD Kota Tangsel.

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangsel, belum lama ini, memberikan barang yang pernah disitanya berupa ratusan botol miras ke salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Serpong yakni, Superindo. Alasan pengembalian itu dikarenakan pengelola Superindo telah membuat pernyataan tak akan menjual miras lagi.

Sekretaris Komisi I DPRD Kota Tangsel, Saprudin, mempertanyakan dasar hukum pengembalian barang sitaan tersebut. “Saya akan evaluasi terkait masalah ini, kenapa Satpol PP mengembalikannya?” tanya Saprudin.

Menurutnya, jika Satpol PP sudah melakukan penyitaan barang, maka perusahaan bersangkutan sudah melanggar hukum dan didalamnya ada pelanggaran Perda. “Penyitaan itu dilakukan bertujuan untuk barang bukti, boleh dikembalikan, namun harus ada tipiring dulu, apakah di Perda kita ada aturannya barang yang disita harus dikembalikan, jika tidak ini perlu dipertanyakan. Lalu jika dikembalikan, apakah jumlahnya sama dengan pas waktu penyitaan. Ini kan rawan dimanipulasi jumlahnya, bisa berkurang,”jelasnya.

Dia menambahkan, ketika Satpol PP menganggap bahwa perusahaan atau menejemen perusahaan tersebut baru dan melakukan kesalahan karena ketidak tahuannya, lalu yang menjadi pertanyaan kembali, sudah berapa lama Superindo berdiri di Kota Tangsel.

“Superindo itu berdiri sejak sebelum Kota Tangsel berdiri, perusahaan itu sudah lama, seharusnya jika memang mereka tidak tahu, bukan dilakukan penyitaan saat itu, melainkan surat teguran dan bikin surat pernyataan, dan barangnya jangan diambil. Jika sudah diambil dan disita berarti miras tersebut sebagai barang bukti, Superindo sudah melanggar hukum perda yang ada di Tangsel, seharusnya ditindak dulu, dari proses tindak apakah nanti hasilnya dikembalikan atau dimusnahkan, ketahuan,”ungkapnya.

Jadi menurutnya, pengembalian barang bukti yang sudah disita tersebut tidak tepat, jika dikembalikan harus ada proses terlebih dahulu, jika ingin memberikan peringatan sebelumnya jangan disita.

Sedangkan, Kepala Bidang Penindakan Perundang-undangan Satpol PP Kota Tangsel, Oki Rudianto menerangkan, pihaknya terpaksa mengembalikan miras sitaan itu ke Superindo, dikarenakan menejemen perusahaan ritel itu sudah membuat surat pernyataan mengenai kesediaannya untuk tidak memperdagangkan miras kembali.

Menurutnya, hal tersebut tidak menyalahi aturan, dikarenakan setiap badan usaha atau toko yang sudah memberikan surat pernyataan untuk bersedia menerima hukuman apabila ditemukan lagi pelanggaran serupa. Sehingga pengembalian barang sitaan ini tidak disalahkan.

“Nggak begitu (salah) ini ada ketentuannya. Jadi memang sering begini (barang bukti dikembalikan) waktu itu di minimarket juga seperti itu. Surat pernyataan kan fungsinya mereka mengakui kesalahan, sehingga nanti kalau ditemukan lagi ya bersedia dihukum,” ujar Oki.

Berbeda dengan toko kelontong biasa, Oki menjelaskan bahwa kebanyakan dari mereka tidak mau menyerahkan surat pernyataan. Sehingga barang bukti yang disita terpaksa dimusnahkan oleh Satpol PP.

“Yang perlu ditegaskan, peraturan ini memang sudah berlaku lama. Jadi tidak ada yang aneh. Soalnya di dalam pernyataan itu mereka berjanji, barang bukti yang dikembalikan akan dikirim ke suplier. Itu jelas ya,” pungkasnya.(irm)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!