Kemenag Gagas Kitab Kuning di MI-MA

Diterbitkan  Kamis, 05 / 07 / 2018 22:48 - Berita Ini Sudah :  119 Dilihat

SERPONG-Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan menggagas pengajaran kitab kuning mulai diajarkan sejak tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Sedangkan untuk menuju ke sana, Kemenag menggelar Focus Group Discussion (FGD) pembelajaran kitab kuning di madrasah dengan tema “Siswa Madrasah Mahir Membaca Kitab Kuning” di Aula Kemenag Tangsel, Serpong, Kamis (5/7).

Kepala Kemenag Kota Tangsel, Abdul Rojak mengatakan, perlu membangun sarana pendidikan yang berkualitas, bukan hanya secara fisik semata, tapi mutu pengajaran tak kalah penting agar peserta didik kedepan memiliki karakter. Melalui pengajaran kitab kuning anak akan diajarkan untuk pandai membaca, sehingga khasanah ke-Islaman akan dapat diselami serta diserap.

“Selama ini madrasah yang merupakan sekolah berbasis keagamaan hanya terdapat muatan lokal atau mulok yang berbasis keagamaan seperti tahfidz, tahsinul-qiraah, tauhid, qiyamul-laili, dan ketaatan beragama. Belum ada penerapan ilmu secara spesifik,” katanya.

Membaca kitab kuning, ungkap Abdul Rojak, tentu sebagai ilmu yang sangat berharga dikarenakan dengan mampu membaca kitab kuning dapat mengungkap ragam ilmu ditulis oleh para ulama masa lampau. Tokoh-tokoh Islam termasyur telah lahir kedunia dengan ribuan karya berbahasa arab gundul sebagaimana dikenal di Indonesia kitab kuning.

“Tokoh Islam kenamaan telah melahirkan banyak karya monumental sebagian besar ditulis dengan arab gundul di kita dikenal kitab kuning. Bahkan tak jarang dunia barat pun mengkajinya karya-karya tokoh Islam melalui kitab kuning,” jelas ia.

Jika di Tangseldari mulai tingkat MI sudah terbiasa diajarkan membaca kitab kuning, maka pada level MA mereka sudah lancar dan memahami isi kandungan kalimat per kalimat. Selanjutnya, kata Rojak, dua puluh tahun kedepan masa anak-anak menjadi dewasa dan perkembangan penduduk Tangsel akan hebat. Untuk itu, pihaknya menyegerakan gelar FGD dengan bertujuan untuk merumuskan bahan ajar agar mudah dipahami siswa.

“Alhamdulillah gagasan ini mendapat respon positif dan melalui FGD ini akan kita rumuskan untuk kemudian kita launching pada tahun ajaran baru pertengahan Juli ini,” tuturnya.

Pada level madrasah siswa diajarkan berbagai keilmuan Keislaman seperti tata bahasa ilmu nahwu dan shorof, fiqih, tauhid, mantiq dan balaghoh, akhlak serta ta’lim muta’alim. Jika melihat kondisi saat ini, sebagin kecil saja dari sebagain besar masyarakat yang mempelajari kibat kuning, maka dikhawatirkan tradisi belajar membaca kitab kuning hilang.

“Maka untuk menyiapkan regenerasi perlu disegerakan pelajaran membaca kitab kuning bukan hanya di lingkungan pesantren, tapi sudah masuk di tingkat dasar hingga menengah baik itu di pesantren dan non pesantren, sebab MI hingga MA banyak juga dikelola oleh yayasan. Ini yang kami pikirkan dan upayakan terus menerus,” pesannya.

Kasi Madrasah Kemenag Suhardi, menyampaikan tentang jenis-jenis kitab kuning yang dipakai untuk madrasah diantaranya kitab Amsilatul Tasrifiyah dan Jurumiyah yakni sebagai penduan gramatika bahasa Arab. Sedangkan untuk kitab akhlaknya di antaranya ada Ta’lim Muta’alim dan kitab Fathul Qorib untuk fiqihnya. Adapun metode pembelajarannya bisa pakai metode mumtaz atau tamyiz, metode klasikal atau metode jawi. (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!