Pemuka Agama Hadir di Acara Lustrum V Rajut Kerukunan Beragama

Diterbitkan  Minggu, 08 / 07 / 2018 21:31 - Berita Ini Sudah :  218 Dilihat

PAMULANG-Dalam acara lustrum V (1994-2018) Paroki Pamulang gereja Katolik Barnabas, puluhan pemuka agama hadir untuk merajut kerukunan antar umat beragama bertempat di Aula Johaner Paulus II Gedung Karya Pastoral Paroki, Pamulang, Kemarin.

Acara yang memiliki tema “Merajut Kerukunan Antar Umat Beragama di Tangsel dan Banten” turut hadir Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar, tokoh masyarakat , tokoh pemuka agama, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangsel dan perserta dari berbagai elemen masyarakat.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasarudiin Umar menyampaikan pengalaman selama di Istiqlal, bahwa keterbukaan selama ini membentang luas. Istiqlal dikunjungi dari berbagai negara dengan latar belakang aqidah berbeda-beda bahkan non muslim juga cukup banyak. “Masjid boleh dikunjungi siapa saja, tetapi untuk memasuki ruangan tertentu kami menyediakan pakaian yang sopan sesuai etika Islam,” katanya.

Indonesia didirikan atas perbedaan namun tetap bersama. tidak boleh mengkotak-kotakan satu dengan yang lain. Hadirnya FKUB untuk merajut keberagaman menjadi kebersamaan antar sesalam. Manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa untuk hidup bersama dan berdampingan saling menghormati satu dengan yang lain agar bisa bermasyarakat.

“Mari wujudkan kebersamaan, Islam mengajarkan kasih sayang  bahkan dalam al quran terdiri dari 30 juz, 6.666 ayat dapat diperas sedemikian rupa tapi intinya ada di dalam surah Al Fatehah tujuh ayat. Dan jika tujuh ayat tersebut dimaknai lebih jauh, intinya tersirat dalam dua kalimat, arahman berarti kasih dan arohim berarti sayang. Maka dengan kata lain saripati isi al-qur’an adalah kasih sayang,” katanya.

Narasumber lain yang aktif di FKAUB Tangsel, Romo Antonius Benny Susetyo Pr, nenyampaikan bahwa Pancasila dirumuskan Ir. Soekarno melalui proses panjang melibatkan para sufi berbagai agama termasuk para Pastor yang acap bertukar pikiran dengan ia.  Dengan kata lain Pancasila merupakan saripati pemikiran para pemuka agama.

“Gereja dan umat Katolik berkewajiban membangun kerajaan sang pencipta dengan cara peduli dengan masyarkat sekitar, senantiasa proaktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan secara bergotong royong.  Dengan kegiatan semacam itu, relasi dan komunikasi akan terjalin dengan sendirinya secara alami,” tuturnya.

Sekretaris FKUB Fachruddin Zuhri bahwa setiap umat beragama berpotensi menjadi kafir. Setiap orang yang tak lagi mematuhi ajaran kitab suci agamanya, tak memahami perintah Tuhan sesuai kitab sucinya. Untuk membangun kerukunan antar umat beragama, setidaknya ada dua hal yang harus selalu diingat.

“Sadarilah bahwa kita sesama ciptaan Tuhan, dan kita sesama warga bangsa, dengan menyadari hal itu terus menerus, konflik keagamaan dapat dihindarkan,” tukasnya.(din)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!