Ekonomi Lesu HIPMI Minta Kebijakan Pemerintah Pro Pengusaha

Diterbitkan  Rabu, 11 / 07 / 2018 22:15 - Berita Ini Sudah :  237 Dilihat

SERPONG-Kondisi ekonomi nasional saat ini sedang lesu, dampak dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Kekhawatiran ini dianalisir oleh Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tangsel kendati saat ini belum terdampak secara langsung.
Sekretaris BPC HIPMI Kota Tangsel Muhamad Istijar Nusantara menegaskan hingga saat ini belum secara langsung terdampak. Mengapa demikian, karena hampir sebagian besar tidak bersinggungan dengan nilai dolar secara langsung. Bahkan terbilang lebih leluasa usahanya bidang ritel sehingga wajar masih dalam status aman.
“Pengusaha di Tangsel khususnya mayoritas tidak terpengaruh sepanjang masih pada berbasis ritel dan tidak berhubungan dengan mata uang dollar,” kata Istijar.
Meski dalam status aman, tidak terkena sensifitas buruk namun rasa was-was mulai muncul. Ketegangan Amerika Serikat dengan China menjadikan pasar internasional semakin tidak terkontrol. Ditambah lagi kondisi ekonomi di dalam negeri dipengaruhi suhu politik jelang 2019 yang memberikan sentimen bagi pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.
“Memang sebagian pengusaha yang fokus pada swasta mulai sedikit resah lataran mandegnya pertumbuhan ekonomi nasional. Terperosoknya nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing khususnya dollar. Kondisi ini juga akan sedikit khawatir dengan masuknya tahun politk 2019,” ia menambahkan.
Pengusaha mengandalkan komitmen dalam menjaga stabilias suhu politik, kenaikan harga dasar listrik dan BBM. Jika tiga kelompok itu tidak dapat dikendalikan atau ditekan, dikhawatirkan akan mengoyang pelaku usaha secara merata yang akhirnya mempengaruhi perkonomian masyarakat secara langsung, transaksi ekonomi semakin melamban.
“Karena itu pengusaha (HIPMI) meminta agar pemerintah terus menjamin keamanan dan stabilitas politik serta yang cukup penting tidak menaikan harga BBM dan tarif listrik yang berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat,” harapnya.
HIPMI sendiri menilai daya beli masyarakat di Tangsel dan nasional dalam status aman, belum terpatau mengkhawatirkan. Perlunya kebijakan-kebijakan untuk menolong pertumbuhan ekonomi secara nasional diberlakukan. Jangan sampai stagnan yang berakibat krisnis ekonomi bisa timbul semakin kuat.
“Sampai saat ini daya beli masyarakat belum terpengaruh masih pada level stabil. Tetapi jika kondisi stag pertumbuhan ekonomi secara nasional terus menerus bisa berpeluang pada penurunan daya beli masyarakat maka bisa berakibat pada krisis ekonomi,” analisanya.
Kebijakan pemerintah daerah misalnya yang perlu diberlakukan dengan mempermudah proses perizinan cepat mudah dan praktis tidak berbelit-belit. “Meberikan insentif keringan pajak kepada pengusaha terutama pada kalangan UKM serta yang penting juga adalah jangn mempersulit perizinan usaha. Birokasi Perizinan usaha ribet dan bebelit belit harus direformasi. Mekanisme dan prosedur perizinan usaha harus dipangkas sesingkat singkat. Jangan berbelit belit dan biayanya harus transparan. Ini yang menjadi modal pengusaha agar bisa terus bertahan dan berkembang,” pintanya.
Secara terpisah, Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie menegaskan jika di Tangsel sudah di gunakan sistem online untuk pelayanan perizinan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Sistem tersebut sangat mudah dan transparan, dimaksudkan untuk memberi kepastian kepada para pengusaha. (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!