Tunggu PPDB Online, Wanita Hamil Pendarahan

Diterbitkan  Jumat, 13 / 07 / 2018 23:11 - Berita Ini Sudah :  270 Dilihat

PPDB ONLINE MASIH EROR: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Taryono melayani wali murid yang mendatangi posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang mengalami kendala di SMP Negeri 11, Rawa Buntu, Serpong, Jumat (13/7). Para Wali Murid sangat kecewa dengan sistem PPDB Online yang terus mengalami kendala sampai saat ini.

CIPUTAT-Minan panik ketika melihat istrinya terpaksa dibawa melalui ambulan. Dia khawatir sang istri yang sedang hamil muda itu mengalami keguguran. Warga yang berkerumun di Balaikota, Ciputat pun mencoba menenangkannya.

Demi si buah hati yakni, Putri Mutiara Ramadani yang ingin masuk ke sekolah negeri, Minan dan istri berangkat sejak pagi buta dari kediamannya di Pondok Petir, Depok. Mereka tiba di Posko Pengaduan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online SMP Negeri di SMPN 11 Kota Tangsel, Rawa Buntu, Serpong sekitar pukul 06.00 WIB.

“Nama anak saya terhapus dari data di kolom peserta pendaftaran SMP Negeri di Pamulang. Makanya saya bersama istri datang ke Posko Pengaduan,” terangnya, kemarin.

Lantaran tak mendapatkan jawaban pasti dari Posko Pengaduan, Minan dan istrinya lantas menuju Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel di Balaikota, Ciputat.

“Tidak ada kejelasan kami hanya disuruh menulis permasalahan, lalu tidak ada solusi, karena Jumat dan Sabtu ini adalah waktu daftar ulang, soalnya 16 Juli sudah efektif masuk sekola,” terang Minan.

Sesampainya di Kantor Dindikbud Kota Tangsel, Minan dan istrinya mondar-mandir. “Sampai jam 09.00 di Kantor Dindik kami juga tidak dapat solusi apa-apa, kami mondar-mandir, ke sana-kemari mencari orang Dindikbud yang bisa memberikan jawaban jelas atas permasalah kami, tapi tak ada,”’kata Minan.

Sampai selepas salat Jumat, Minan melihat istrinya mengalami pendarahan, karena keletihan mondar-mandir. “Ya begini kondisinya, istri saya mungkin kelelahan karena usia kandungan masih muda dan memikirkan anak juga karena ingin sekolah di SMP Negeri,” kata Minan Pasrah.

Minan menceritakan, putrinya baru saja lulus di SD Negeri di Pamulang. Prestasi akademiknya pun terbilang gemilang, dia mampu meraih NEM 26 atau masih lebih tinggi dibanding anak-anak lain yang diterima berdasarkan hasil pengumuman PPDB Online.

“Jadi sama dengan orang tua siswa lain yang mengadukan hilangnya data anak anak kami. Anak saya ini daftar dari luar zona dengan NEM 26 tidak ada namanya, sementara dengan pilihan sekolah yang sama, anak lain dengan NEM lebih rendah masuk. Saya lihat di kolom pendaftar juga tidak ada nama anak saya, jadi bagaimana anak saya bersaing, data di kolom pendaftar saja tidak ada,” tegas Minan.

Kekecewaan Minan pun semakin terasa setelah melihat istrinya harus dilarikan ke RS Buah Hati Pamulang akibat pendarahan. Selain Minan, siang itu, Balaikota dipenuhi puluhan orangtua siswa yang juga mengeluhkan proses PPDB Online.

Misalnya saja Nuning Sriwahyuni. Dia menceritakan dirinya mendaftarkan anaknya di SMPN 17 Kota Tangsel di Pamulang, masuk di luar zona. Di SMPN 17 ini menyediakan kuota luar zona sebanyak 15 murid dengan ketentuan NEM terrendah 21, sedangkan anaknya memiliki NEM 24. Yang menjadi janggal sebut ia, anaknya masuk di peringkat 9 di luar zona.

“Namun setelah saya login menggunakan akun anak saya yang telah didaftarkan ternyat tidak bisa. Tertera anak saya tidak terdaftar. Padahal pada 11 Juli kemarin pagi hari anak saya masih ada di peringkat sembilan didaftarar sekolah dari luar zona,” tegasnya bernada kecewa.

Pantuan di Balaikota Tangsel, sekitar pukul 15.00 WIB warga yang baru tiba dari SMPN 11 mengatakan seperti di pingpong. Tidak ada kepastian dari pejabat yang berwenang menerangkan probelem yang dihadapi. Balaikota sempat memanas antar warga dengan perwakilan Pemkot.

Setelah berdebat panjang dan ditengahi, warga akhirnya digiring menggunakan bus Pemkot diantar ke SMPN 11. Awalnya mereka menolak karena merasa dibohongi tidak ada pejabat yang mau menemui. Namun setelah negosiasi akhirnya mereka mau diangkut satu bus.

Kepala Dindikbud Kota Tangsel, Taryono menyatakan, menerima seluruh keluhan tersebut. Semua data yang diberikan akan dilakukan pemeriksaan ulang, ada kesalahan atau tidak. ”Kami menerima berkas keluhan untuk dilakukan koreksi. Tapi memang kuota untuk SMP Negeri hanya 6.331 siswa. Sedangkan yang mendaftar sebanyak 9.875,” jelasnya di SMPN 11, kemarin.

Dirinya optimis, PPDB 2018 akan bisa selesai dengan kondusif. Ia juga meminta wali murid untuk bisa legowo apabila tak diterima di sekolah negeri.

 

 

 

 

 

 

 

Sementara, Sekda Kota Tangsel, H Muhamad menerima keluhan para wali murid tersebut di Balaikota, menerangkan persoalan yang dikeluhkan tentang tak diterima, padahal nilainya tinggi. Selain itu, zonasi. ”Kami akan tampung keluhan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudyaan Tangsel (Taryono-red) akan meresponnya. Jadi silahkan datang ke SMPN 11 Tangsel,” ucapnya

Lanjut Muhamad, kejadian ini, lanjutnya, tentunya akan menjadi evaluasi pemerintah, supaya ke depannya tak terjadi persoalan yang merugikan masyarakat. ”Kami melakukan rapat dengan walikota, tapi untuk menyeluruhnya evaluasi akan dilakukan setelah PPDB selesai,” tukasnya

Tokoh masyarakat Tangsel, Rasyud Syakir mengaku kecewa atas kondisi karut marut penerimaan siswa di Tangsel. Kecewanya masyarakat yang ingin sekolah di negeri mengalami sulit yang sepertinya tidak ada solusi. Ia pun mempertanyakan kebijakan apa yang menjadikan sitem zonasi.

“Sedih melihat masyarakat menuntut keadilan sepertinya cukup sulit. Mereka diombang ambing tidak ada kejelasan sementara mereka adalah warga Tangsel juga yang ingin menyekolahkan anaknya,” tegasnya.

Ia menilai ada ketidak adilan dengan pola zonasi, karena tidak semua wilayah memiliki sekolah negeri. Jika hendak menerapkan zonasi harus dipenuhi dulu semua wilayah memiliki sekolah negeri. Di sisi lain dengan sistem zonasi mengesampingkan upaya siswa yang sudah susah payah memperoleh NEM tinggi,jika pada akhirnya kalah dengan NEM rendah karena zonasi.(din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!