Kemenag Tangsel Pastikan Tidak Pernah Keluaran Surat Edaran


Larangan Spiker Masjid tak Ada

Diterbitkan  Selasa, 04 / 09 / 2018 22:52 - Berita Ini Sudah :  179 Dilihat

SERPONG-Masyarakat tengah disibukan perbincangan isu larangan penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola. Perbincangan ini tengah berlangsung baik di media sosial dan masyarakat secara umum, terutama pengeras suara untuk azan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tangsel, Abdul Rojak terkait permasalahan tersebut angkat bicara. Pihaknya ingin meluruskan adanya isu pelarangan penggunaan pengeras suara atau spiker di masjid dan mushola. Pasalnya, polemik demikian sudah massif baik di media sosial dan masyarakat.

“Bersama ini kami dari Kantor Kementerian Agama Kota Tangsel menegaskan dan menyatakan bahwa Kementerian Agama tidak pernah melarang ataupun secara langsung melakukan pelarangan terharap penggunaan spiker yang berada dan dipakai di masjid maupun di mushola,” katanya.

Aturan penggunaan spiker, menurut Rojak, bukan berarti pelarangan. Penggunaan pengeras suara ada landasan hukumnyadan dilakukan pengaturan supaya tertib. Aturan itu telah dikeluarkan sejak 1978, artinya sudah cukup lama bukan baru-baru ini saja. Ironisnya, belakangan muncul isu jika ada surat edaran dari Kementerian Agama soal larangan pengeras suara.

“Kami dari Kemenag hanya sifatnya melakukan pengaturan seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan Bimas Islam nomor 101 tahun 1978 Tentang Pemasangan Pengeras Suara pada Poin E umat Islam diperbolehkan menggunakan 15 menit sebelum adzan berkumandang baik tarhim dan tilawatil Quran,” jelasnya.

Dengan adanya surat edaran dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama melegitimasi penggunaan pengeras suara dilindungi secara aturan bukan malah sebaliknya. Umat Islam diharapkan agar tetap kondusif, tidak terpancing dan harus pandai-pandai mencerna informasi serta isu-isu yang merugikan masyarakat luas.

“Sebetulnya itu menjadi bukti bahwa dalam surat keputusan Dirjen tidak ada pelarangan. Masih tetap umat Islam bisa melakukan dzikir melakukan tarhim dan Tilawatil quran dengan menggunakan pengeras  suara baik dari masjid maupun musola. Jadi sebetulnya surat keputusan Dirjen itu betul-betul sama sekali tidak melakukan pelarangan apalagi melarang secara total penggunaan pengeas suara,” tambah ia.

Jika ada yang menyampaikan dikeluarkan melalui pasal-pasal yang lain, dapat dipastikan itu tidak benar. Hingga saat ini, tidak ada surat edaran pelarangan pengeras suara di masjid dan musola. Meski demikian, umat Islam juga harus memperhatikan lingkungan sekitar jangan sampai pengeras suara di masjid dan mushola mengakibatkan problem dengan umat yang lain, agar kebersamaan dapat terjalin dengan baik.

“Oleh karena itu kami mengajak masyarakat muslim yang ada untuk betul-betul membaca memahami poin dan poin dari semua sisi. Di sisi lain kita harus menghargai umat lain agar terus kita jaga kebersamaanya. Jangan sampai pengeras suara menganggu apalagi sampai terjadinya intoleransi masyarakat muslim Indonesia,” pesannya.

Ketua MUI Kota Tangsel, H Saidih berpesan kepada umat Islam agar tidak mudah terpancaing soal isu-isu yang tidak jelas bertujuan memecah belah kebersamaan. Masyarahat harus mau tabayun, kroscek sumber dan apakah benar atau tidak. Masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi yang muncul, karena boleh jadi ada maksud dan tujuan lain. (din)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!