Pengusaha Lokal Terpengaruh Penurunan Rupiah

Diterbitkan  Selasa, 04 / 09 / 2018 22:56 - Berita Ini Sudah :  136 Dilihat

SERPONG-Rupiah melemah hingga mencapai Rp 15.029 per dolar AS per kemarin. Di antara pengusaha mengkhawatirkan kondisi tersebut menandai krisis moneter seperti pada 1998 apabila tidak tertangani. Meski disebut belum signifikan, kalangan pengusaha di wilayah Tangsel merasakan telah terdampak, sebab usahanya mengalami stagnan.

Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tangsel, Muhamad Istijar Nusantara mengungkapkan, kemrosotan nilai tukar rupah terhada dollar AS berimbas pada dunia usaha, termasuk di Tangsel. “Secara umum bisnis yang ada di Tangsel cukup berpengaruh. Saat ini perputaran bisnis mengalami stagnasi, khususnya yang begerak di bidang swasta,” ia menegaskan.

“Banyak Permintaan atau PO yang tertunda akibat melemahnya ekonomi imbas dari melemahnya ekonomi makro di Indonesia. Banyak perusahaan khususnya properti yang mengalami kelesuan penjualan,” imbuhnya menengarai.

Menurutnya, banyak kalangan pengusaha local lebih menanti kepastikan hingga awal tahun depan. Langkah ini dinilai lebih relistis ketimbang harus mengeluarkan modal besar, tapi tidak jelas. Jika peritungan kurang matang bagi kalangan pengusaha dikhawatirkan berpengaruh pada kesehatan surplus keuangan perusahaan.

“Yang banyak dilakukan pengusaha saat ini adalah mengencangkan ikat pinggang menyimpan dana tunai buat persiapan operasiona hingga akhir tahun atau enam bulan ke depan. Biaya-biaya operasional yang tidak rasional dipangkas supaya bisa bertahan pada menghadapi siklus ekonomi 20 tahunan ini,” tambah ia.

Meski kondisi saat ini lebih banyak dipengaruhi eksternal atau ekonomi global atau bukan internal seperti tahun 1998, ini menimbulkan kekhawatiran. Beberapa Negara yang sudah berdampak di antaranya Turki, Venezuela dan Argentina.

“Sebagian besar berharap tidak terjadi (krisis moneter). Karena jika terjadi yang akan menderita adalah kalangan pekerja, sebab akan terjadi banyak PHK di mana-mana. Kondisi ini hanya pelemahan ekonomi saja. Karena itu banyak pengusaha yang lebih berhemat dalam pengeluaran untuk bisa saving dana tunai. Dana dana yang ada ditahan,” bebernya.

Berbeda dengan Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Kota Tangsel Gusri Effendy. Meski nilai tukar rupiah merosot, hingga kini hotel dan restoran di Tangsel masih dalam batas aman.

Ia berharap pelemahan ekonomi tidak lama, sehingga geliat ekonomi secara makro akan cepat pulih. “Hotel dan restoran tidak terlalu (terpengaruh), karena tidak ketergantungan bahan baku dari impor. Kami pun berpandangan krisis ini berbeda dengan tahun 1998, karena dari persoalnya sudah berbeda. Kalau dulu disebabkan internal sedangkan saat ini faktor dari luar negeri,” tuturnya (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!