Kriminolog Nilai JPU Wajar Tuntut Berat Terdakwa Tawuran

Diterbitkan  Kamis, 06 / 09 / 2018 23:35 - Berita Ini Sudah :  244 Dilihat

SERPONG- Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut FF (17) dihukum 5 tahun penjara atas kasus tawuran pelajar di wilayah Kelurahan Muncul, Jalan Raya Puspiptek, Setu hingga menewaskan Ahmad Fauzan (18).

Tuntutan JPU dalam proses persidangan di PN Tangerang tersebut dinilai wajar. Namun demikian, praktisi hukum yang juga kriminolog, Abdul Hamim Jauzi melihat ada baiknya terdakwa FF tidak tidak pantas dihukum berat.

Menurut Ketua Pengurus LBH Keadilan ini, dalam kasus tawuran pelajar ini terdakwanya tergolong masih anak-anak. “Ini juga merupakan kasus tawuran pelajar, dimana terjadi perkelahian antara dua pihak dengan jumlah yang sama-sama banyak massanya,” ujarnya.

Terlepas dari persoalan hukum yang sedang dijalani FF saat ini, Hamim mengatakan, dalam kasus ini tidak bisa hanya dilihat dari aspek hukum lantaran tindak kriminal tawuran seperti ini akan tetap terjadi jika penyelesaiannya hanya dengan cara memberikan hukuman semata.

“Dari sisi kriminal jalanan di usia remaja seperti ini, kita tidak bisa hanya melihat dari aspek hukum saja. Ini tidak akan memberikan efek jera. Banyak pihak harus menyelesaikannya dari aspek sosial,” ungkapnya.

Hamin menegaskan, sekolah sebagai lembaga pendidikan pun harus jauh lebih fokus lagi untuk membuat program serius pencegahan tawuran pelajar.

“Untuk sekolah-sekolah yang kerap terlibat tawuran pelajar, pihak sekolah juga harus membuat program khusus agar para siswanya tidak lagi menjadikan tawuran sebagai tren. Jadi banyak pihak yang sebenarnya disalahkan dalam kasus ini, pihak sekolah, kepolisian yang kurang prefentif, dan juga lingkungan sekolah,” paparnya.

Sementara itu, pegamat hukum, Suhendar, yang merupakan dosen Fakultas Hukum di Universitas Pamulang, juga mengaku kurang setuju jika dalam kasus FF diherat hukuman lima tahun kurungan penjara.

Menurutnya, dalam kasus tawuran pelajar banyak persoalan hukumnya. Oleh karenanya, harus cermat dan jeli melihat dan mengurainya.

“Dalam proses hukumnya harus benar-benar menjamin haknya sebagai anak yang belum dewasa terpenuhi, seperti misalnya dalam setiap tingkat pemeriksaan, baik di penyidikan, penuntutan dan persidangan wajib diberikan bantuan hukum dan didampingi oleh Pembimbing Kemasyarakatan atau pendamping lain sesuai ketentuan, serta hak-hak lainnya,” paparnya.

Jika tidak dipenuhi hak-haknya sebgai mana disebutkan, maka proses hukum yang sedang berjalan tidak dapat dibenarkan atas nama penegakan hukum.

Suhendar melanjutkan, kasus tawuran pelajar itu dilakuakn secara sadar antar korban dan tersangka. Dengan tuntutan hukum seberat itu dianggap kurang patut. “Selain pemenuhan hak tadi, dalam kasus tawuran pelajar ini berbeda dengan kasus penganiayaan pada umumnya. Dimana dalam tawuran yang terjadi beberapa waktu lalu itu benar-benar perkelahian antara dua kelompok pelajar, jadi penyelesainya hukumnya jangan hanya sekedar melihat satu pasal saja, tetapi aspek lainnya juga harus dimasukan ke dalamnya,” paparnya.

Empat Faktor Tawuran Pelajar

Sedangkan mengenai kasus tawuran pelajar sendiri, Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Reza Indragiri Amril, mengatakan,  ada empat faktor melingkupi yaitu  pertama faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu beradaptasi pada situasi lingkungan. Situasi seperti ini biasanya menimbulkan tekanan tersendiri. Mereka kurang mampu untuk mengatasi masalah, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya.

“Mereka biasanya gampang putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang atau pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara singkat untuk memecahkan masalah,” ujarnya.

Faktor kedua, keluarga. Menurutnya, lingkungan tempat tinggal si pelajar, dalam hal ini rumah, yang terus menerus memperlihatkan tindak kekerasan jelas akan sangat berdampak negatif.

“Ketika anak menjadi remaja, akan belajar melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya atau pola asuh permisif ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik,” paparnya.

Reza jua meyebutkan faktor sekolah juga poin penting dalam kasus ini. menurutnya lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar, misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dan yang lainnya, yang akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya.

Begitu juga dengan faktor lingkungan, bahwa lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya, lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk, seperti penyalahgunaan narkoba.

“Semuanya bisa merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi. Belum lagi adanya rasa solidaritas yang tinggi kepada para pelajar yang bisa mendorong mereka berbuat tawuran,” pungkasnya. (dra)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!