Rencana MRT Diminta Pikirkan Nasib Angkutan Umum

Diterbitkan  Kamis, 06 / 09 / 2018 23:35 - Berita Ini Sudah :  337 Dilihat

PEMBANGUNAN MRT: Foto pengerjaan proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT), Ciputat, Minggu (5/6). Pembangunan MRT yang ditargetkan akan rampung pada 2018, ini nantinya akan mengurangi dampak kemacetan yang sering terjadi dari arah Ciputat menunju Jakarta Selatan. DemySanjaya/Tangselpos

CIPUTAT-Tahapan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sudah masuk pada pra Feasibility Study (FS). Program ini serius akan digarap MRT melintasi wilayah Kota Tangsel. Namun di lain sisi, rencana pembangunan tersebut didesak memperhatikan kondisi sekitar yakni utamanya nasib angkutan umum.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Tangsel, Yusron Siregar menegaskan, pasti ada dampaknya jika MRT merambah ke beberapa wilayah Kota Tangsel. Utamanya, para sopir angkut bakal kehilangan mata pencaharian di samping memang kebutuhan MRT untuk masyarakat, tapi perlu juga menjadi pertimbangan mendasar bagi pemerintah.

“Jelas usaha angkutan dirugikan jika ada MRT. Memang itu bagian dari risiko angkutan apa boleh buat. Kita pasrah, jadi tumbal dan jika memang itu program walikota tentu harus kita dukung,” katanya.

Sayangnya, disebutkan Yusron, hal-hal seperti ini belum diperhatikan oleh Pemkot Tangsel. Kendati sudah masuk pra FS, Organda selaku organisasi resmi mengafiliasi para sopir angkutan dan pengusaha angkutan belum pernah diajak rapat. Sikap Organda menyayangkan, bertangung jawab ada ratusan trayek dan ratusan sopir menafkahi keluarga.

“Waktu itu Ibu Walikota menyampaikan kepada saya akan ada rapat membahas MRT. Sampai sekarang belum dihubungi kembali, termasuk Dishub juga secara resmi belum ada bahasan soal rencana pembangunan FS,” tambah Yusron.

Keberadaan Organda tidak bisa dikesampingkan begitu saja, perlu ada titik pandang sosial sekitar jika diberlakukan MRT, di samping memang pemerintah ingin menyungguhkan layanan transportasi masal lebih hebat serta irit-modern. Meski baru FS, jika Organda diajak komunikasi, para sopir memperoleh informasi tidak simpang siur.

“Saat ini sudah semakin sulit, mengapa karena kebijakannya tumpang tindih kendati ada otonomi daerah, namun tidak sejalan. Pemerintah daerah jika sudah berbicara dengan pusat pasti akan kalah. Maka, kami berpikiran pada akhirnya keberadaan angkutan yang penting bisa survev. Bertahan saja susah apalagi berkembang,” tambah ia.

Jika kajian pra FS, MRT menyambung dari Pasar Jumat melintasi Ciputat-Pamulang-Setu hingga Rawa Buntu Serpong. Dari Rawa Buntu Serpong-Tanah Tinggi Kota Tangerang sampai Bandara, akan mengerus trayek-trayek yang ada. Misalnya, Ciputat Pondok Labu d02 ada 400 unit armada. Demikian juga, Ciputat Kebayoran lama D01 ada 400 armada.

“Dua trayek ini cukup padat, jika ditotal ada delapan ratus armada. Masing-masing trayek paling banter 150 armada itupun wakutnya pagi dan sore hari, siang banyak yang tidak narik angkot,” jelas ia.

Kemungkinan lain, Ciputat Muncul, ada 5 trayek, D07, D011, D450 dan D13 serta D14 dengan total diperkirakan mencapai 700 armada. Serpong-Kebon Nanas 3 trayek, B07 B04 B03a, Sampai Gading Serpong disambung Kota Tangerang sampai Cikokol dengan total sekitar 500 armada. “Kami hanya bisa berharap supaya pemerintah melihat hal-hal yang seperti itu,” harapnya.

Sebelumnya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Bambang Brojonegoro ketika berkunjung ke Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Gading Serpong, belum lama ini mengungkapkan harapannya agar pembangunan angkutan cepat terpadu yang saat ini baru terbangun sampai di Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia bisa diteruskan hingga ke Tangerang Selatan.

Bambang mengatakan, Kota Tangsel memerlukan MRT juga. Menurutnya, potensi permintaan moda transportasi massal berupa MRT dari Tangsel dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan melonjak seiring perkembangan ekonomi daerah tersebut.

“Maka itu saya harap Pemerintah Tangerang Selatan berani melanjutkan, potensi permintaannya dari Ciputat sampai Serpong besar dan itu menguntungkan semua pihak,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangsel, Sukanta mengungkapkan, rencana rute MRT sampau ke Tangsel itu belum sampai pada teknis nantinya apakah akan ada pihak ketiga yang langsung menggarap MRT yang ada di Tangsel secara terpisah dengan PT MRT Jakarta atau pembangunanya dikerjakan oleh konsorsium PT MRT Jakarta itu sendiri atau BPTJ. Saat ini kajian pra Feasibility Study (FS) mengenai lintasan yang bakal dilewati, titik-titiknya penjemputan dan penurunan penumpang ada dimana akan diulas secara mendalam.

“Untuk sementara ini Pemprov DKI via MRT. Kajian belum sampai ke sana siapa nanti yang akan membangun fisiknya.  Pra FS tentunya membahas semua lajur, jalur, fase, tarikan dan bangkitan penumpang dan lain-lain,” jelasnya. (din).

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!