10 Relawan Kota Tangsel Data Kebutuhan Korban


Evakuasi di Petobo, Genangan Air Campur Darah

Diterbitkan  Selasa, 09 / 10 / 2018 22:30 - Berita Ini Sudah :  270 Dilihat

CIPUTAT-Sepuluh relawan dari Kota Tangsel masih bertahan di lokasi gempa Sulawesi Tengah (Sulteng). Selain ikut terjun mengevakuasi mayat, mereka juga mendata apa saja kebutuhan warga di tenda-tenda pengungsian.

Kesepuluh relawan dari Kota Tangsel itu terdiri dari anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mereka dilepas Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany pada Jumat (5/10) lalu di Balaikota dan dijadwalkan kembali ke Kota Tangsel pada Kamis (11/10) besok.

Salah satu relawan BPBD Kota Tangsel, Dodi Haryanto menceritakan, saat ini pihaknya masih melakukan asesmen apa yang diperlukan para korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala itu.

Dodi menerangkan, para relawan dari Kota Tangsel ini juga melakukan evakuasi di Petobo, Kabupaten Donggala. Daerah ini termasuk yang mengalami kerusakan cukup parah.

Data yang dirilis BPBD Kabupaten Donggala pada 4 Oktober menyebutkan jumlah penduduk Kabupaten Donggala 321 ribu. Korban luka-luka sebanyak 1.750 orang. Penduduk yang mengungsi 224.700 jiwa.

Sedangkan, rumah rusak berat ada 2.270 unit, rusak sedang 2.120 unit, rusak ringan 1.577 unit, dengan total 5 ribu unit. Sarana pendidikan seperti gedung SD, TK dan PAUD rusak berat 50 unit dan rusak ringan 30 unit. Kantor desa 20 unit, di antaranya rusak berat 3 unit, rusak ringan 10 unit dan rumah ibadah rusak ringan 10 unit fasilitas penerangan jalan umum yang rusak berat 1.200 unit.

“Kebutuhan mendesak tanggap darurat  sembako untuk 321 ribu jiwa, sandang 16.500 paket, seperti baju celana, perlengkapan bayi serta peralatan dapur 5 ribu unit,” papar Dodi.

Lanjut Dodi, setibanya di Sulteng, mereka melanjutkan perjalanan ke Posko PMI. Siangnya tim bertolak ke Posko BPBD Provinsi Sulteng untuk melaporkan keberadaan dan menempati posko yang telah disediakan.

“Malam harinya posko melakukan breefing untuk kegiatan esok hari dan kita dibagi menjadi 2 tim. Tim logistik dan evakuasi,” tambah ia.

Dodi menjelaskan, disela rapat mereka merasakan guncangan gempa susulan 3.5 SR pada Selasa (2/10) lalu disertai hujan gerimis. “Keesokan harinya sekitar jam 8 pagi gempapun kembali terasa tapi tidak begitu besar,” tambah ia.

Proses evakuasi pun dimulai. Setiap orang diberi sepatu boot. Sarung tangan 3 lapis. Masker dan perlengkapan evakuasi lainnya. Setibanya di Petobo aroma amis dari bau mayat langsung tercium.

Genangan air pun terlihat merah kehitaman bercampur darah. Rumah-rumah sudah porak-poranda. “Kami melanjutkan perjalanan ke titik lain dan setelah 10 menit berjalan di atas puing-puing kami melihat ada tangan yang muncul di genangan air yang warnanya mulai kehitaman,” terangnya.

Selama evakuasi, para relawan Kota Tangsel juga menemukan beberapa surat berharga seperti ijazah SD, sepatu yang berceceran, surat kenaikan pangkat, dan surat berharga lainnya.

Sekretaris PMI Kota Tangsel, Adji Eka Warman menjelaskan, berdasarkan asesmen sementara disimpulkan para korban membutuhkan obat-obatan dan makanan serta air minum.

“Masih melakukan asesmen kebutuhan apa saja sambil menyiapkan tim di Tangsel untuk evaluasi sambil melakukan langkah berikutnya. Hasil sementara asesmen kebutuhan mendesak seperti obat-obatan, makanan dan air bersih. Sampai saat ini tim masih melakukan pendataan,” katanya.

Sementara, pagi ini, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany dijadwalkan bertolak ke Sulteng. Airin bersama para walikota yang tergabung di Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) akan memberikan bantuan sandang dan pangan di Donggala dan Palu seraya mendatangi warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.(din)

 

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!