Ulama se-Tangsel Gelar Halaqah di Serpong


Perkokoh Empat Pilar Kebangsaan

Diterbitkan  Selasa, 09 / 10 / 2018 22:30 - Berita Ini Sudah :  227 Dilihat

SERPONG–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangsel menggelar Halaqoh Ulama di kawasan Serpong, Selasa (9/10). Acara tersebut mengusung tema “Memperkokoh 4 Pilar Kebangsaan Sebagai Wujud Pelaksanaan Hubbul Wathan Minal Iman”.

Ketua MUI Kota Tangsel, KH Saidih mengatakan, bahwa halaqoh ulama Kota Tangsel ini sebagai kontribusi ulama untuk ikut mendinginkan situasi politik yang terjadi. Menurutnya, ulama harus mampu mengambil peran dalam memberikan pengaruh positif yang menebarkan Islam yang ramah, penuh toleransi, dan damai.

Selain KH. Saidih, hadir jajaran pengurus MUI, perwakilan dari MUI Kecamatan, Penyuluh Agama Isam, Majelis Ta’lim, NU, Muhammadiyah, LDII, Aisiyah, Muslimat, dan undangan lainnya.

Sekda Kota Tangsel, H Muhamad menambahkan, ada beberapa persoalan yang perlu diketahui oleh umat. Salah satunya paham radikalisme dan aliran keras. Dengan diadakannya kegiatan ini, berharap dapat menyamakan persepsi untuk menyikapi dan mengatasi persoalan tersebut.

“Salah satu mudahnya umat terkena pengaruh negatif disebabkan makin berkurangnya pembinaan yang dilakukan. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini penting diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran  umat mengenai hal-hal berbahaya yang terjadi di masyarakat,” jelasnya.

Pemkot mengapresiasi kepada MUI yang selalu berusaha menjaga kondusifitas kerukunan antar umat beragama, namun tegas melarang tumbuhnya aliran-aliran sesat yang meracuni masyarakat

Ketua panitia, Iis Aisyah menjelaskan, tujuan diadakannya acara ini dalam rangka meningkatkan kesadaran setiap warga negara untuk menjadikan empat pilar kebangsaan sebagai pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Empat pilar kebangsaan itu adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945.

“Umat Islam memiliki kewajiban untuk mempertahankan empat pilar kebangsaan ini sebagai wujud pelaksanaan cinta tanah air,” jelas Iis.

Salah satu pembicara dari dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dimyati Sajari memaparkan tentang loyalitas ulama Indonesia terhadap negara. Menurutnya, ulama-ulama Indonesia adalah ulama yang sangat cinta tanah air dan loyal terhadap negara. Kecintaan dan loyalitas ulama Indonesia berdasar pada ajaran agama (nash) dan doktrin yang dikembangkan khususnya oleh Imam Al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali, jelas, Dimyati, khalifah tidak dapat dijatuhkan, walaupun ia zalim. Khalifah yang zalim yang kuat bila dijatuhkan akan mengakibatkan kekacauan dan pembunuhan dalam masyarakat.

“Karena itu, menurut Al-Ghazali, ketertiban kehidupan masyarakat lebih penting daripada menjatuhkan khalifah yang akan berakibat pada kekacauan dan pembunuhan,” paparnya.

Demikian juga pendapat Abah Sepuh yakni KH Abdullah bin Nur Muhammad, yang wafat pada  1956 dan Abah Anom KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, 2011 mengajarkan kepada ikhwan Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah (TQN) Suryalaya bahwa posisi negara sama pentingnya dengan posisi agama. Karena itu, ketaatan kepada negara sejajar dengan ketaatan kepada agama. Keridhaan Allah pun diperoleh dengan ketaatan kepada keduanya.

“Di dalam Tanbih ditulis, kami, yang menjadi tempat orang bertanya tentang Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah, menghaturkan dengan tulus wasiat kepada segenap murid berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan agama maupun negara. Taatilah kedua-duanya. Begitulah sikap manusia yang tetap dalam keimanan. Tegasnya, dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadirat Ilahi Rabbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara,” jelas Dimyati.

Pembicara lainnya yakni, Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Tangsel, Suhardi dan Anggota Komisi IX DPR RI, Siti Masrifah. Dalam paparanya, Kasi Penmad, Suhardi menjelaskan, beberapa fenomena di lingkungan pendidikan, di antaranya, masih banyak terjadi bullying di lembaga pendidikan. Jargon dan larangan di sekolah tetapi mandul, banyaknya kebijakan di sekolah yang dirumuskan tidak secara demokratis yang menjadi faktor kenapa tata tertib di sekolah tidak efektif.

Lanjutnya, visi dan misi lembaga pendidikan banyak lebih bersifat administratif daripada sebagai spirit perubahan. Pembelajaran lebih menekankan pada aspek kognitif, bahkan terhadap hal yang jelas-jelas menuntut skill.

Sementara, Siti Masrifah menjelaskan bawa empat pilar kebangsaan berperan dalam membentuk karakter bangsa. Menurutnya, sikap-sikap yang mencerminkan karakter bangsa, di antaranya saling menghormati dan menghargai, rasa kebersamaan dan tolong menolong, rasa kesatuan dan persatuan, peduli dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dan sikap menjunjung tinggi beberapa nilai. (din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!