Kisah Perjalanan Tim Kemanusiaan Satpol PP Tangsel ke Palu

Diterbitkan  Kamis, 11 / 10 / 2018 21:44 - Berita Ini Sudah :  297 Dilihat

SETU- Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangerang Selatan saat ini masih berada di Palu Sulawesi Tengah. Mereka di Palu hingga pada 16 Oktober mendatang untuk menjalankan misi kemanusiaan dengan bergabung dalam tim penyelamat korban gempa-tsunami Sulteng.

Perjalanan aparat penegak Perda Kota Tangsel itu berada di Palu sejak 2 Oktober.

Koordinator Relawan Satpol PP Kota Tangsel, Badawi, menuturkan , aksi solidaritas kemanusiaan Palu merupakan bagian dari mempertahankan eksistensi Satpol PP di daerah bencana. Tujuan umumnya, mencari menyelamatkan dan membantu sesama manusia terdampak bencana. Palu, Donggala dan Sigi. Di tempat bencana tersebut, banyak anggota Satpol PP daerah setempat juga menjadi korban.

“Sesaat kejadian gempa dan tsunami, anggota Satpol PP tengah mesnterilkan kawasan pantai Talise sebuah anjungan bibir pantai yang telah direklamasi. Di titik itu dibuat cukup indah, sebagai tempat kunjungan masyarakat. Namun pada saat yang sama terjadi gempa, sehingga bangunan runtuh masuk ke laut,” katanya.

Petugas Satpol PP Palu dalam persiapan ulang tahun Palu yang ke-40 tahun, 10 di antaranya yang belum ditemukan berjumlah 8 orang. Pada saat kejadian memang berada di pinggir pantai persiapan acara pembukaan Festival Palu Nomoni, pagelaran acara adat dalam rangka memperingati hari jadi kota Palu.

Tujuh anggota Satpol PP Tangsel berangkat. Selain membantu Satpol PP Palu juga masyarakat pada umumnya di lokasi bencana.

Mereka bertolak dari Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat komersil dan tiba di Makassar. Dari Makassar menggunakan pesawat Hercules sampai Palu dengan membawa berbagai peralatan pertolangan.

“Perjalanan menuju daerah bencananya saja pada hari ke empat menjadi cerita tersendiri rute penerbangan yang hanya bisa diakses oleh pesawat tertentu. Seperti Hercules. dan ATR,” kisahnya.

Jalan darat dari kota terdekat seperti, Makassar, Gorontalo atau Poso punya tantangan tersendiri. Selain jarak yang cukup jauh, kondisi jalan yang tidak pasti, longsor. Sementara laut belum bisa digunakan, karena terjadi kerusakan fasilitas sandar.

Akhirnya dengan Hercules, tim aksi solidaritas masuk ke Kota Palu. Setelah berjalan kaki kurang lebih 4 kilometer dengan suasana sepi dan gelap tidak ada bahan bakar dan padam listrik. Bebannya, selain ransel perorangan tim juga membawa tas besar yang berisi tambang alat pemotong besi dan alat pemotong kayu.

Setelah berkoordinasi dengan Kasatpol PP kota Palu. Tim mendirikan tenda di lahan terbuka  bersebelahan dengan pengungsi. Tidur dengan tenda menjadi pilihan, karena gedung gedung yang rusak dan intensitas gempa susulan yang masih tinggi membahayakan.

Listrik padam, tim kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari serta alat komunikasi. Tetapi tim sudah mempersiapkan charger komunikasi dan penerangan dengan tenaga surya. Namun air tetap menjadi masalah. Kalau pun ada mesti antre bersama pengungsi yang ada.

Operasi hari pertama di Kota Palu tim dibagi dua. Satu tim mencari dan evakuasi di titik di mana Satpol PP bertugas dan tim yang lain melakukan pendokumentasian, assasmen. Di tiga wilayah Sigi, Donggala, dan Palu.

Selain membantu evakuasi, tim juga membantu mengevakuasi aset Pol PP Palu. Seperti motor dinas, mobil Dinas dan motor mobil pribadi anggota pol Pp. Hari-hari selanjutnya tim berkerja berdasarkan perintah Kasatpol PP kota Palu. Seperti menurun dan mengirim bantua ke kantong-kantong pengungsi.

Pekerjaan tidak mudah. Karena terbatasnya BBM, lampu mati. Serta ekskalasi emosi korban yang cukup tinggi, karena susah air dan makanan. Mobil dicegat, hardikan dan tekanan, mewarnai proses ini.

Diperlukan kekuatan mental dan keikhlasan dalam bertugas. Pengawalan TNI sangat dirasakan manfaatnya. “Bukan jumlah sedikit bila kita menurunkan bantuan dari kapal laut atau kontainer. Sehari bisa sampai 12 truk. Bahkan kadang sampai bermalam di pelabuhan atau bandara. Tidak kembali ke base camp di rumah jabatan wakil walikota,” ungkapnya.

Tim Satpo PP Tangsel, juga bertugas di pemakaman massal. Hal ini menjadi sesuatu yang tak mudah, karena selain jaraknya yang jauh juga lokasinya yang terpencil di atas bukit. “Seharian bertugas harus makan dan minum di lokasi yang tentu saja cukup berbau. Terkadang sampai hari gelap. Sopir alat berat adalah teman ngobrol satu satunya. Kecuali ketika Tim PMI dan TNI datang menghantar jenazah,” tuturnya.

Selain membantu dengan mengirimkan Tim Rescue ke Palu. Anggota Satpol PP Tangsel juga menghimpun bantuan dalam bentuk donasi yang diberikan kepada keluarga korban yang diserahkan kepada Satpol PP Kota Palu.

Salah satu tim Satpol PP,  Arizal menuturkan, setibanya di Palu pertama kali menjadi tantangan tersendiri lantaran pasca gempa dan tsunami masih porak poranda, jalanan lumpuh total, listrik tidak ada dan lain sebagainya. Namun karena sudah dibekali kemampuan di medan demikian, ia bersama-teman-teman lainnya dapat melaksanakan misi kemanusiaan hingga hari ini. Tentu, suka dukanya dan pengalaman cukup banyak. (din).

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!