Anak Ketiga Korban Lion Air Minta Jemput Ayah

Diterbitkan  Selasa, 30 / 10 / 2018 22:38 - Berita Ini Sudah :  333 Dilihat

JAKSA MENJADI KORBAN LION AIR JT 610: Putri (7) bersama ibundanya Sefti (35) yang merupakan anak dan istri dari Doddy Junaidi (40) yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 mendapat ucapan belasungkawa dari teman-teman sekolahnya dikediamannya di Rempoa, Selasa (30/10). Berdasarkan daftar penumpang Doddy Junaidi merupakan salah satu jaksa dari empat jaksa yang menjadi penumpang pesawat Lion Air JT 610 yang bertugas sebagai Kasipidsus di Kejari Pangkal Pinang.

CIPUTAT TIMUR- Satu dari tiga, anak Dody Junaedi (40), penumpang pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh pada Senin (29/10) pagi di Perairan Karawang, Jawa Barat, membuat terenyuh bagi keluarga. Bahkan meminta untuk menjemput sang ayah.

“Ke kakek katanya mau jemput Papah. Mana kok belum pergi dari tadi,” itulah pertanyaan anak ketiga Putri yang duduk di bangku SD kelas dua kepada sang Kakek yakni H Muhamad Sidik (68), Selasa (30/10) pagi.

Ayah Dody Junaedi ini menungkapkan kesedihannya mendegarkan pertanyaan sang cucun. Ia pun langsung terenyum menusuk dalam hati. Sementara dua lainnya yakni anak pertama duduk di SMP kelas 1, Mutia Elfareta (16), dan kelas 6, Mutia biasa di panggil Zhia tidak menanyakan keberadaan ayahnya.  “Kalau yang besar-besar tidak menanyakan mungkin sudah ngerti,” tambah H Sidik.

Kepergian Dodi selaku anak dari H Sidik, tidak ada firasat apapun, karena bolak balik Pangkal Pinang- Jakarta sudah biasa. Terkadang seminggu sekali atau dua minggu sekali, sehingga dalam perjalannya baik saat pulang atau berangkat satu hal yang biasa-biasa saja.

“Jadi selama ini bolak balik saja kadang-kadang dua minggu sekali kadang seminggu sekali. Jadi sudah biasa bepergian dinas. Tidak ada firasat apa-apa,” tutur ia di Jalan H Sidup RT 04/03 Rempoa Kecamatan Ciputat Timur.

Dodi sejak 2003 masuk Kejaksaan. Saat ini menjabat sebagai Kasi Pidsus Kejari Pangkal Pinang. Sebelumnya pernah bertugas di Kejari Argamakmur Bengkulu. Baik di Bengkulu dan Pangkal Pinang, anak dan istrinya Sefti Rubianto tidak ikut. Ia lebih memilih tinggal bersama mertua atau orangtua Dodi yakni mantan Wakil Kepala Kejasanaan Tinggi Kalimantan Timur pada 2010, dan masuk masa pensiun sejak 2012 silam yakni H Sidik.

“Terkecuali saat tugas di Lampung, Dodi bersama istri tinggal bersama. Namun setelah itu ia lebih memilih pulang pergi,” imbuhnya.

Komunikasi terakhir pada Minggu (28/10) sore pukul 16.00 WIB, melalui perbincangan biasa tidak ada hal-hal aneh. Hingga pada Senin pagi, H Sodik pulang dari masjid, menanyakan kepada anak-anaknya. “Ayah sudah berangkat? Dijawab sudah Kek,” saat itu anak-anak bersiap-siap untuk diantar ke sekolah masing-masing.

Namun pada pukul 08.00 WIB, H Sodik mendapatkan telepon dari adik Dody Verawati, anak keempat jika ada kejadian pesawat Lion Air Jakarta Pangkal Pinang hilang kontak di Karawang. Ia pun langsung pulang ke rumah kebetulan pagi itu sedang di luar rumah.

“Hari Senin jam 8 saya di telpon anak saya nomor empat, adiknya korban bernama Verawati, bapak sudah dapat berita? Saya jawab “berita apa lion tujuan Pangkal Pinang jatuh kehilangan kotak. Bang Dody pakai pesawat apa ya pak,” tanyanya.

Setibanya di rumah, ia sempat menghubungi berkali-kali, tapi tidak ada jawaban lantaran tidak bisa dihubungi. Ia pun sempat menghubungi ke sana kemari hingga pukul 08.30 WIB tak kunjung hasil. Ia berpikir, mungkin sudah sampai lokasi, karena tidak ada jawaban.

“Saya merasa kehilangan pasti kehilangan, tapi bersama keluarga sudah mengikhlaskan mungkin ini sudah kepastian dari Allah. Harapan kita keluarga tetap diketemukan jenazahnya walau keadaan bagaimana supaya kita tidak menanti-nanti di mana adanya,” doanya.

Ia menuturkan, sosok sehari-hari Dody cukup baik. Penilaian teman-teman dari atasan banyak yang datang dari Bandung dan lain-lain menyampaikan Dodi cukup baik. Dengan keluarga, sudara-saudara, menurut keterangan teman-temannya juga baik.

Kajari Kabupaten Tangerang Zulbahri Bachtiar saat dijumpai tengah bertakziah mengungkapkan sesama satu korp tentu memberikan dukungan. “Kami dari teman-teman Kejaksaan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel datang tentu kami merasa syok dan kami menyempatkan diri datang ke teman kami Dodi. Satu kopr apapun kami akan datang,” tuturnya.

Selasa sore, Jaksa Agung M Prasetyo dikabarkan akan memberikan dana santunan kepada keluarga korban untuk biaya pendidikan anak-anak yang ditinggalkan melalui dana spontan dari uang pribadi.  Ada empat pegawai Kejaksaaan Negeri menjadi kerban yakni Koordinator Kejati Bangka Belitung, Andri Wiranofa, Kasi Pidus Pangkal Pinang, Dody Junaedi, Jaksa Fungsional Bangka Selatan Shandy Johan Ramadhan dan Staf TU Kejati Bangka Belitung, Sastiarta. (din)

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!