Pengurangan Risiko Bencana Lebih Utama Melalui Alat Deteksi Dini Banjir

Diterbitkan  Selasa, 30 / 10 / 2018 22:00 - Berita Ini Sudah :  290 Dilihat

SERPONG-Seringnya terjadi bencana di wilayah Tangsel membuat Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) putar otak. Hal ini untuk mengurangi potensi korban lebih besar sekaligus menciptakan alat yang efektif dan efisien mendeteksi banjir datang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangsel Chaerudin menjelaskan melihat kejadian bencana jebolnya Situ Gintung menjadi pelajaran berharga. Berkaca pengalaman itu, tentunya merubah paradigma penanggulangan bencana dari penanggulangan bencana berbasis insidentil menjadi penaggulangan bencana berbasis pengurangan risiko bencana perlu dikedepankan.
“Program dan kegiatan mitigasi rencana seperti halnya membangun sistem peringatan dini atau early warning system di Kota Tangsel harus diwujudkan,” katanya dalam sosialisasi Early Warning System, di salah satu resto kawasan Serpong, kemarin yang dihadiri seratus perserta.
Berdasarkan kajian risiko bencana yang dilakukan melalui metode aplikasi inarsik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) teridentifikasi wilayah Tangsel memiliki potensi bencana seperti banjir, longsor, gempa bumi dan kegagalan teknologi nuklir. Dari hasil analisis memperlihatkan bahwa dari total populasi penduduk Kota Tangsel saat ini 1,5 juta jiwa maka sebanyak 13 persen total populasi akan terpapar ketika bencana banjir melanda wilayah Tangsel.
“Termasuk 53 persen jiwa dari polulasi akan terpapar ketika bencana gempa bumi melanda. 10 persen jiwa dari total populasiakan terpapar ketika berncana tanah longsor dan 50 persen jiwa dari total polulasi akan terpapar ketika kegagalan teknologi nuklir di Kota Tangsel,” tambah ia.
Saat ini Pemkot Tangsel telah memiliki empat unit sistem peringatan dini yang tersebar di wilayah sebagai pendukung program pengendalian berncana banjir. Dari hasil selama ini dirasakan langsung oleh masyarakat dan titik-titik lokasi rawan banjir terus ditangani secara berkelanjutan.
“Begitu juga dengan nilai indeks risiko berncana Kota Tangsel, trand mengalami penurunan. BNPB telah mempublikasikan indeks risiko berncana nilai sekornya 102 di tahun 2015 dan akhir tahun 2018 indeks risiko bencana di wilayah Kota Tangsel skornya menurun menjadi 72 dengan tingkat klasifikasi risiko sedang,” tukasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, keberhasilan dari Pembangunan sistem peringatan dini atau early warning system bukan dilihat dari mewahnya dan megahnya fasilitas yang didirikan. Namun seberapa cepat infomasi adanya ancaman potensi bencana banjir dapat tersampaikan serta tersebarluaskan kepada masyarakat Kota Tagsel secara tepat, cepat dan dapat dipertanggung jawabkan bukan hoax.
“Yang sangat diperlukan bukan hanya sistem peringatan dini banjir saja. Kita harus mengembangkan sistem peringatan dini bencana lainnya seperti peringatan dini bencana gerak tanah atau lanside early wrning system, peringatan dekteksi radiasi nuklir yang lepas dari kawasan (off site),” imbuh ia.
Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Suhandini menambahkan, kegiatan ini lebih kepada bagaimana mengurangi jumlah korban lebih banyak dari kejadian bencana, baik banjir dan bencana lainnya. Selama ini pula, sudah dibentuk Kelompok Sadar Bencana di masing-masing wilayah yang selalu berkomunikasi jika terjadi banjir.
“Dengan pola seperti itu, saat terjadi banjir warga sudah lebih siap dan cepat teratasi baik melakukan evakuasi dan lain sebagainya. Pada masing-masing titik yang biasa langganan banjir sudah ada KSB yang selalu melaporkan ketika terjadi banjir didukung alat deteksi banjir,” tambah ia. (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!