Lurah Bambu Apus Bela Warga Terdampak Proyek Tol Serpong-Cinere

Diterbitkan  Kamis, 08 / 11 / 2018 22:49 - Berita Ini Sudah :  198 Dilihat

PAMULANG-Tak ingin warganya dirugikan akibat dampak pembangunan proyek Tol Serpong-Cinere, Lurah Bambu Apus Subur meminta agar enam rumah dibebaskan. Pasalnya, enam rumah dan satu masjid perlu dipikirkan untuk dibebaskan.

Meski mendukung program nasional, Subur menegaskan, jangan sampai lupa masyarakat sendiri dirugikan. Semestinya keduanya diuntungkan dan tidak pihak dirugikan. Oleh karenanya ia terus berupaya kepada PT Wika.

“Saya sudah berapa kali mengotrol ke wilayah sampai ke PT Wika dan PT Cinere Serpong Jaya (CSJ). Lima warga saya minta dibebaskan. Termasuk langsung mengrudug WIKA, namun mereka menyampaikan tidak bisa,” kata Subur.

Mengapa tidak dapat dibebaskan, karena bukan bagian dari kawasan tol. Meski rumahnya sangat dekat dengan tol dan aksesnya saat ini sedikit sulit, disebutkan pihak tol tidak masuk kawasan pembebasan. Subur pun meminta aspek lain kepada Wika agar warganya tidak terancam terisolasi.

“Alasan mereka tidak kena area tol. Sementara kita, menyampaikan agar melihat kembali sisi kemanusiaan. Memang pembebasan jalan tol belum selesai, sehingga kami tidak menuntut karena masih akan terus ada pengerjaan. Tapi kami sebagai lurah, warga saya tidak mau dirugikan,” tambah ia.

Memasuki musim penghujan, enam rumah yang ada di lokasi harap diberikan akses saluran air supaya aman. Pihaknya pun meminta kepada Pemkot agar bisa membantu kondisi yang ada di lapangan, supaya  warganya ke depannya tidak terganggu dengan hadirnya tol.

“Saya juga sudah bilang kepada mandor (proyek tol), agar enam rumah diberikan saluran air agar tidak banjir. Kami berharap warga saya dibantu oleh pemerintah,” pintanya.

Sebelumnya, salah satu warga RT01/02 Bambu Apus, Pamulang terancam tak miliki akses jalan, rumah Nur Wahyuasri (63). Untuk menuju jalan utama, harus menggunakan akses sementara jalan setapak yang dibuatkan pihak tol. Dikhawatirkan nanti ketika proyek tol tersebut selesai tidak ada akses lagi untuk dirinya alias terisolasi.

Terlebih lagi di titik tersebut hanya ada rumah Nur saja, di depan rumahnya sudah dibatasi dengan empang pemancingan, di sebelah kanannya persawahan, dan di sebelah kirinya ada cluster yang juga sudah ditembok. Sementara Nur untuk menuju akses menggunakan jalur belakang rumah dan ada jalan setapak yang dihubungkan ke dalam perumahan.

Beberapa upaya sudah ditempuh sejak 2016, untuk meminta Dinas Pekerjaan Unum (PU) Kota Tangsel agar memikirkan nasibnya, dengan membuatkan jalan akses menuju jalan utama.

“Sekarang ini jalan yang saya pakai akses sementara, dan itu pun tidak bisa masuk kendaraan sepeda motor karena kalau mau masuk kendaraan sepeda motor itu jalan ke dalam rumah cukup curam. Jadi saya titip motor ke rumah tetangga,” ujarnya. (din/dra)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!