Rumah Ambruk Sumbat Sungai Hingga Meluap

Diterbitkan  Kamis, 08 / 11 / 2018 22:49 - Berita Ini Sudah :  189 Dilihat

PAMULANG– Hujan deras terjadi kemarin sore. Di Bambu Apus, Pamulang, Kota Tangsel, hujan deras tersebut menyebabkan bangunan rumah di RT 6/4 ambruk hingga menyebabkan sebanyak 28 rumah terendam air keruh setinggi 1 meter. Rumah tetangga pun ikut jebol akibat tertimpa material bangunan.

Hanafi (34), warga RT 6/1 Jalan Gureme III, menceritakan, kejadian pukul 17.30 WIB tiba-tiba rumah belakang yang tengah dibangun ambruk hingga menimpa bagian belakang rumah miliknya. Tembok jebol serta sungai yang memisahkan antara rumah milik dirinya dan tetangganya itu tertutup matrial dan air meluap.

“Air rendam dua puluh delapan rumah setinggi pinggang orang dewasa atau sekitar satu meter selama dua jam. Motor saya dua, terendam, mesin air jebol dan kasur serta sofa terandam. Termasuk pasir satu truk hanyut terbawa air keruh,” tuturnya.

Kejadian aliran sungai bagian belakang meluap terbilang cepat. Dampaknya dari bangunan rumah milik tetangga roboh. Bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang perabot dan pakaian. Baru pukul 20.30 WIB air surut dan membereskan barang-barang perkakas.  “Kejadianya begitu cepat, sampai tidak bisa menyelamatkan apa-apa. Sampai-sampai tidur dini hari, karena harus membereskan perkakas,” tambah ia.

Atas kejadian itu, dirinya bakal meminta ganti rugi lantaran bagian tembok belakang jebol tertimpa. Sampai saat ini belum diketuhui pemilik rumah seluas kurang lebih 35 meter persegi itu, yang dikabarkan tinggal di Kebayoran. Rumah dibangun sekitar dua pekan ini. Selain itu, ia sebut, pondasi seharusnya jangan di atas turap, perlu ada jarak. Sementara ini di atasnya langsung.

“Kami akan meminta ganti rugi. Meski ini musibah, kami juga memahami, tapi dampak dari itu rumah kami rusak tertimpa bahan matrial. Membangun di atas turap kali harusnya ada jarak,” tuturnya.

Yuswana (44), satu tetangga lain, menjelaskan, tinggi air dari dasar kali diperkirakan 2,5 meter. Akibat terhalang material air meluap turap dan menggenangi rumah-rumah yang ada. Warga terkejut, karena tiba-tiba air langsung meluap dari turap yang tidak pernah terjadi seperti itu.

“Bahkan motor saya tidak bisa masuk saat kejadian itu karena cukup dalam. Saat kejadian baru saja pulang kerja,” tutur Yuswana.

Usai kejadian, pihak RT/RW langsung menghubungi petugas dari Dinas Pekerjaan Umum. Sekitar pukul 21.00 WIB hingga 23.00 WIB menyingkirkan bongkahan tembok agar air bisa mengalir. Sebeluam petugas datang warga lingkungan sudah melakukan upaya menyingkirkan bongkahan tembok.

“Setelah malam mereka pamitan pulang untuk kembali pagi harinya. Pukul setengah sepuluh pagi mereka bekerja kembali,” jelas ia.

Warga lain,  Sutiyah (40) mengaku kaget selepas empat tukang yang bangun rumah pergi, tak lama kemudian bunyi keras di bagian belakang. Dirinya pun tidak mengira ada yang ambruk, tak lama berselang warga ramai, karena rumahnya kebanjiran. “Saya dengar bunyi brudug tak lama tukang sudah pulang dua orang,” tutur Sutiyah.

Siti (45) mengatakan, air begitu cepat hingga tidak bisa menyelamatkan kasur dan sofa. Mirip tsunami. Melihat air meluat demikian deras membuat banyak warga khawatir. Apalagi yang ada di Palu kejadian dahsyat itu. “Di sini saja air meluap sangat deras, bagaimana tsunami yang ada di Palu,” ceritanya.

Lurah Bambu Apus, Subur dan Camat Pamulang Deden Juardi dikabarkan meninjau lokasi pagi hari kemarin. Subur saat dihubungi menjelaskan, jika bangunan rumah itu tidak persis di atas turap. Pemilik rumah membangun pondasi ada jarak dengan turap.

“Bangunan tembok bukan di atasnya turap, tapi jarak. Intinya membangun di atas tanah sendiri bukan di atas turap. Kemungkinan karena hujannya lebat, air mengerus bagian bawah sementara tanah merah, konturnya gembur, akhirnya turap tak mampu terkena terjangan air sehingga jebol,” tutur Subur.

Soal adanya warga meminta ganti rugi terhadap pemilik rumah, Subur mengaku akan melakukan musyawarah antara pemilik rumah yang tengah dibangun dengan pemilik rumah mengalami kerusakan. Ia pun meminta jika ada tetangga tengah membangun sama-sama mengawasi dan peduli agar jika terjadi sesuatu dapat membantu.

“Nanti adakan pertemuan, membicarakan untuk menyelesaikan persoalan antara pemilik rumah yang rusak dan yang sedang membangun,” tambah ia. (din)

 

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!