Majelis Talim Muslimat Ciputat Peringati Maulid Nabi

Diterbitkan  Kamis, 22 / 11 / 2018 22:12 - Berita Ini Sudah :  925 Dilihat

CIPUTAT-Majelis Talim Muslimat Ciputat, menggelar pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, bertempat di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, Kemarin.

Ratusan ibu-ibu jamah majelis pun memadati acara tersebut serta  mendengarkan ceramah keagamaan mengenai sosok Nabi Muhammad SAW.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut, Pembina Majelis Talim Muslimat Ciputat, KH Zarkasih Nur, serta hadir Anggota DPRD Provinsi Banten, Achmad Fauzi, dan beberapa tokoh lainnya.

KH Zarkasih Nur dalam kesempatan itu, mengajak kepada masyarakat untuk selalu meneladani Nabi Muhammad SAW dan bersama-sama untuk mensyukuri dalam peringatan hari lahir nabi besar Muhammad SAW. “Nabi membawa masyarakat pada jamannya bangkit dari jaman jahiliyah. Dan Allah mengutuskan Nabi Muhammad untuk memerangi jahiliyah,” ujarnya.

Dia juga memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW untuk meneladani kehidupan, ajaran-ajaran, dan seluruh konsepsi agama yang dibawanya. Selanjutnya untuk menjalankan petunjuk-petunjuk dari kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepadanya.

“Inti sifat yang harus diteladani dari sifat Nabi Muhammad SAW adalah ada empat, yaitu sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Sidiq artinya benar atau jujur, amanah artinya bisa dipercaya, fathonah artinya cerdas, dan tabligh artinya menyeru kepada kebaikan,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Banten  Achmad Fauzi juga mengatakan, keteladanan Nabi dalam konteks sehari-hari dan zaman harus sidiq atau jujur dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak boleh berdusta dengan segala bentuknya, termasuk melakukan kecurangan dalam perdagangan dan korupsi. “Tidak boleh hanya kata-kata manis tetapi perbuatan berbeda dengan ucapan,” Jelasnya.

Lanjutnya, yang perlu diteladani dari Nabi adalah selalu merangkul semua kalangan, kelompok, suku, kepercayaan/agama, dan perbedaan lainnya pada saat beliau beliau memerintah sebagai kepala negara sekaligus pemimpin agama Islam. Pada konteks masa kini hal tersebutlah yang disebut sebagai sifat toleransi dan mengayomi.

“Jika sifat-sifat mulia tersebut menjadi acuan kita dalam kehidupan sehari-hari dan Al Qur’an sebagai pedoman kita, maka niscaya kita juga sedang melakukan dakwah meneruskan tugas Nabi Muhammad pada 1440 tahun lalu itu,” pungkasnya.(dra)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!