KH Zarkasih Nur: Harus Ada Peningkatan Kualitas Eksekutif dan Legislatif

Diterbitkan  Minggu, 25 / 11 / 2018 23:06 - Berita Ini Sudah :  275 Dilihat

CIPUTAT– Satu dekade Kota Tangerang Selatan dari perspektif tokoh masyarakat yang pernah terlibat langsung dalam upaya pemisahan dari Kabupaten Tangerang, belum seperti yang dicitakan. Tidak mudah dalam proses pemekaran dan lika-liku, tapi hingga 10 tahun pasca pemekaran kemajuan malah belum maksimal dirasakan masyarakat.

Tokoh pemekaran Kota Tangsel, KH Zarkasih Nur yang pernah menjabat Menteri Koperasi era Gusdur, menilai kemajuan yang didapat Kota Tangsel pasca pemekaran masih kalah dengan banyak daerah.

Namun diakui tokoh yang tinggal di Ciputat dan pernah puluhan tahun menjabat anggota DPRD Kabupaten Tangerang serta Anggota DPR RI tersebut, pembangunan di Kota Tangsel dan pelayanan masyarakat mengalami kemajuan pesat.

“Sudah berang tentu hal-hal positif lebih maju kita syukuri tujuan pokok memajukan Tangsel, cntoh infrastruktur dibandingkan 10 tahun yang lalu sudah jauh sekali jalan-jalan dan gang-gang. Tapi bagaimanapun juga kita membandingkan daerah yang lebih maju dari daerah kita. Kita banyak melihat daerah maju di bidang ini dan itu,” katanya.

Pengalaman segudang tentang regulasi birokrasi selama dirinya aktif di legislatif menjadi saran yang perlu diakomodir oleh Pemkot Tangsel. Hal ini yang ia rasakan kendati telah mencapai 10 tahun, namun komponen SDM nya kurang mumpuni.

“Untuk bisa mencapai kemajuan ke depan tidak tertinggal daerah lain harus ada peningkatan kualitas eksekutif dan legislatif. Eksekutif harus berkualitas, caranya mengetahui dengan benar tentang tugas dia apa dan bagaiamana sesuai dengan peraturan perudang-undangan sebenarnya,” katanya.

Dirinya yakin apabila memahami perundang-undangan dengan baik, maka hasilnya akan baik dan kemajuan akan mengikutinya. “Selama ini belum puas, karena kurang menguasai betul perundangan-udnanngan yang sebetulnya lengkap,” tuturnya.

Demikian juga legislatif yang ada kurang memiliki wawasan aturan, sehingga tidak memiliki kewibawaan. Mereka sepertinya kurang menguasai dan ini menjadi problematika yang serius jika dibiarkan.

“Demikian legislatif harus ada peningkatan SDM, sehingga mereka punya wibawa, karena mereka mengetahui caranya dan berpegang teguh pada aturan. Selama ini banyak tidak berwibawa, karena kurang melaksanakan tugas dengan baik,” tambah ia.

Selain itu, mau tidak mau harus meningkatkan kualitas melalui diklat dan pendidikan lainnya.

Demikian itu disampaikan oleh H.  Al Mansyur, pengagas nama Tangerang Selatan. Disebutnya, banyak yang telah dilakukan pemerintah Kota sebagai suatu perubahan atau kemajuan. Hal tersebut bisa dilihat dan dirasakan oleh semua mulai membaiknya infrastruktur,  perhatian pada pendidikan, dan kesehatan.

“Namun disisi lain masih banyak juga pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Misalnya di sektor pendidikan, segmen ekonomi ke bawah boleh dibilang belum terperhatikan secara serius dan maksimal misalnya dari sisi bantuan biaya pendidikan atau bea siswa,” ujarnya.

Kebijakan yang sudah bagus pada sekolah sekolah-sekolah negeri dengan menggratiskan biaya pendidikan. Namun  umumnya yang merasakan gratis itu adalah yang mempunyai kemampuan ekonomi atau kalangan menengah atas. Sebaliknya menengah bawah, karena kalah bersaing dalam seleksi masuk yang ketat, kecuali SD,  maka akhirnya masuk ke sekolah-sekolah berbayar di swasta.

“Sehingga DPRD dan Pemkot perlu membuat kebijakan anggaran yang lebih serius untuk bea siswa pendidikan siswa dari kalangan keluarga tak mampu yang bersekolah di sekolah-sekolah /pesantren swasta ini,” pesannya.

Dalam konteks HUT Tangsel, ia memiliki pandangan sejatinya HUT Tangsel adalah “Pesta Rakyat” sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur kepada yang maha Kuasa. Seyogyanya, semangatnya dirasakan oleh seluruh masyarakat Tangsel di semua lapisan baik yang tinggal di komplek-komplek perumahan maupun di perkampungan.

HUT Tangsel seyogyanya adalah agenda tahunan Pesta Rakyat Tangsel yang ditunggu-tunggu saban tahun. Meriah, namun murah. Misalnya, secara ekonomi ada BIG SALE atau pesta diskon oleh semua stakeholders pelaku ekonomi seperti mall-mall, hotel, restoran, dan lainnya. Demikian juga oleh lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga sosial, serta komunitas-komunitas kesenian dan lainnya.

Semua lapisan masyarakat, sambungnya, bisa mengekspresikan dan mewujudkan pesta rakyat dalam bentuk yang lain, di antaranya panggung-panggung hiburan.

“Side efek lain dari agenda Pesta Rakyat ini adalah tumbuhnya rasa Semakin Cinta seluruh rakyat pada Kota kita Tangsel. Semoga di tahun-tajun mendatang HUT Tangsel bisa lebih bermakna secara luas pada rakyat Tangsel,” usulnya.

Tokoh lainnya, KH Rasyud Syakir mengatakan secara fakta Kota Tangsel terlihat mata memang mengalami kemajuan secara pesat. Namun disisi lain belum diimbangi dengan SDM, sehingga ia menilai masih banyak hal yang perlu diperbaiki agar kecepatan langkah pemerintah diikuti dengan kecepatan pegawai.

“Capain target tergantung dari sumber daya manusianya karena pasti target melebihi kemampuan. Kuncinya adalah harus dibekali kemampuan yang bagus, misalnya Tangsel sebagai kota smart city perlu didukung pegawai melek teknologi,” kata Rasyud.

Jika tidak diimbangi pola-pola seperti ini, maka akan keteteran. Fasilitas sudah lengkap, tapi pola kerja dan cara berpir masih manual. Perlu berlatih secara bertahap agar tercapai Tangsel cerdas modern dan religius. “Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk lebih baik lagi kedepan. Tentu yang telah baik harus dipertahankan dan ditingkatkan,” tandasnya. (din)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!