SMPN 4 Tangsel Tidak Menyediakan Bak sampah di Sekolah


Dukung Program Pengurangan Plastik

Diterbitkan  Selasa, 12 / 02 / 2019 23:00 - Berita Ini Sudah :  79 Dilihat

PAMULANG-Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie apresiasi kebijakan SMPN 4 Kota Tangsel memberlakukan tidak menyediakan bak sampah. Kebijakan ini sejalan dengan program pemerintah tentang pengurangan sampah plastik.
Hal itu disampaikan saat menghadiri kegiatan di SMPN 4 Tangsel, Senin (11/2), bersama dengan Kepala Sekolah, Rita Juwita diajak keliling lingkungan sekolah termasuk meninjau ke kantin bahkan sampai pesan kopi hitam.
Benyamin, pagi itu, usai berkeliling dari satu kantin ke kantin yang satunya. Lalu memesan kopi hitam. “Bu pesan kopinya satu. Kopi hitam,” ujar Benyamin.
Tidak menunggu lama pun, kopi hitam di sajikan dalam gelas kecil. Antara Benyamin dan Rita Juwita serta Sekretaris Camat Pamulang Hamdani HS berbincang.
“Kalau pagi belum ngopi monas rasanya jauh banget, apalagi ketutup tembok,” kelakarnya sambil tertawa.
Lanjut ia, bahwa kebijakan yang dilakukan oleh SMPN 4 Tangsel cukup baik mendukung program Pemkot Tangsel dalam pengurangan sampah plastik. Tentu dengan tidak menyediakan bak sampah para siswa siswi akan lebih mengingat tidak boleh membuat sampah.
Rita Juwita menyampaikan dalam mewujudkan lingkungan sekolah bebas sampah pihaknya tidak menyediakan bak sampah di lingkungan sekolah. Ini diterapkan untuk mendukung program pemerintah dalam pengurangan sampah plastik selain memang mengajarkan kedisiplinan siswa.
“Kami sengaja memang menerapkan kebijakan tidak menyediakan bak sampah di setiap sudut. Tujuanya agar sampah tidak menumpuk. Bagi siswa-siswi yang menghasilkan sampah harus dibawa pulang masing-masing,” tutur Ketua KONI Tangsel ini.
Maka dari itu, bagi para siswa dianjurkan membawa tempat makan dan tempat minum masing-masing. Dan ini akhirnya justru sangat disiplin bagi siswa serta lingkungan terlihat sangat asri. Memang terbukti dengan tidak ada bak sampah di sudut ruang kelas, lingkungan menjadi tidak ada sampah.
“Kami menganjurkan siswa-siswi membawa tempat minum dan makanan dari rumah. Itu justru lebih hemat tidak menggunakan botol mineral,” tambah ia.
Bahkan tempat pengolahan sampah yang pernah dikelola pada bagian belakang sekolah, kini dijadikan untuk tempat memelihara ikan. Karena siswa membawa tempat sendiri, maka saat kekantin pun mereka menggunakan tempat masing-masing.
“Bagi penjual makanan kemasan seperti kopi, susu dan lain-lain diwajibkan untuk menggunakan gunting saat membuka kemasanya supaya dapat dimanfaatkan untuk dapat didaur ulang membuat berbagai kerajinan seperti taplak meja dan lain-lain. Sedangkan penjual makanan matang tidak menyediakan tempat seperti styrofoam dan sejenis lainnya yang biasa digunakan untuk tempat makan lalu dibuang sekali pakai,” imbuhnya. (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!