Seruan Sabar Dalam Berdemokrasi

Diterbitkan  Kamis, 25 / 04 / 2019 19:59 - Berita Ini Sudah :  220 Dilihat

 

SERPONG-Perang opini di medsos soal kemenangan piplres masih berlanjut. Fenomena ini bisa mengganggu dan menguras energi dalam kehidupan sosial masyarakat. Media sosial (Medsos), di antara sarananya perang opini pada era modern saat ini.

Melihat gelagat yang semakin hari semakin kacau, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tangsel, Ustad Abdul Rojak, berpendapat, dalam meneguhkan demokrasi harus memiliki sikap sabar. Sabar dalam menanti keputusan KPU siapa yang akan menjadi presiden. Sabar menunggu hingga ditentukan secara konsitusional. Dari lembaga resmi, Komisi Pemilihan Umum UKPU) dan Mahkamah Konsitusi.

“Masyarakat harus belajar bersabar. Dalam berdemokrasi itu harus bersabar. Kalau demokrasi tidak sabar namanya otoriter. Sebab Demokrasi memebutuhkan kesabaran dan kearifan,” pesan sekretaris MUI Kota Tangsel.

Dengan kesabaran, dapat mereduksi gejolak yang dapat mengacaukan tatanan masyarakat. Diminta kepada seluruh pihak, para petinggi, termasuk para calon yang bertarung dapat meredam potensi amarah. Meredam potensi konflik. Sambil menunggu perhitungan KPU. Untuk bersama-sama menciptakan kondusifitas di lapisan masyarakat.

“Kebijakan dari semua pihak. Terutama kepada pihak yang bertarung. Intinya sabar menahan emoasi. Menahan ingin menang. Menahan merasa pemenang. Itu harus dihindari,” katanya.

Kendati demikin di medsos, cukup menyita energi, khusus di Tangsel dalam kondisi kondusif. Warga Tangsel pun diajak untuk dewasa. Demokrasi dijadikan pembelajaran berharga untuk generasi ke depan. “Jika ingin berdemokrasi harus tulus. Jangan mamaksakan, karena sudah ada aturan. Hasil kemenangan masih berproses menunggu keputusan dari KPU,” tukasnya.

Kendati keputusan KPU masih lama, 22 Mei ke depan, ajakan untuk menahan emosi terus digencarkan. Tujuanya agar bersama-sama rukun tidak ada konflik. Tidak ada perpecahan. Dalam hal pertarungan Pilpres tentu ada yang menang dan kalah. Namun persoalnya bukan itu, tapi bagaimana menjadi pemimpin amanah dan membawa Indonesia dalam persatuan dan kesatuan.

“Sabar menahan emosi. Sabar menahan kemarahannya. Sabar menahan kekalahan. Jangan gegabah,” kembali Rojak menegaskan.

Apabila nanti setelah ada putusan kemenangan, jangan sampai ada yang euforia berlebih. Apalagi sampai turun ke jalan, diimbau sebaiknya tidak perlu. Jangan sampai membuat hal memincu potensi perpecahan.

“Jangan sampai ada yang merayakan sampai turun ke jalan. Sebab jika hal itu terjadi potensi gesekan itu sangat besar. Bisa saja ada pihak-pihak yang tidak suka hal-hal seperti itu,” bebernya.

Kapolsek Pamulang Kompol Endang Sukmawijaya beberapa waktu lalu saat mengawal rapat pleno bertempat di Kampus AMIK Pondok Cabe berpesan, agar masyarakat sama-sama menahan diri. Tidak mudah terprovokasi pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Demikian juga bagi yang menang. Nantinya jangan sampai merayakan kemenangan turun di jalan. Sebab, potensi keributan besar. Juga, menganggu lalu lintas kendaraan secara umum. (din)

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!