Inilah alasan Shobir Poer Mundur dari Ketua Umum DKTS

Diterbitkan  Senin, 06 / 05 / 2019 22:35 - Berita Ini Sudah :  186 Dilihat


SERPONG-Mundurnya ketua DKTS Periode 2015-2020 H Shobir Poer memiliki banyak faktor. Di samping tidak dibolehkan ketua merangkap jabatan selama menjadi pimpinan Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS), juga sebab-sebab lainnya seperti tidak memiliki sekretariat yang telah dijanjikan pihak pemkot.
Pengganti Shobir Poer dijabat oleh Andi Suandy sebagai Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum DKTS sampai 2020 mendatang. Sebelumnya Andi sebagai Sekjen. Kesepakan itu melalui rapat pleno Jumat akhir pekan lalu di Akademi Bambu Nusantara, Serpong.
Shobir menyampaikan bahwa DKTS dibentuk pada 10 Januari 2010 (pasal 2) tertuang dalam AD/ART. Selama ini roda kepengurusan dan fungsinya telah melakukan penyelenggaraan kegiatan seni budaya baik dengan komunitas-komunitas di Tangsel maupun dengan Komunitas yang berada di Jabodetabek yang tertuang dalam Pasal 7, ayat b.
“Namun ada kendala bagi saya menjadi Ketua Umum maka saya harus undur diri dari Ketua Umum DKTS masa bakti 2015-2020 ini. Menjadi dasar alasan Anggaran Dasar Rumah Tangga (ART) Bab VII-Pasal 15 (point 9) dijelaskan Pengurus tidak merangkap Jabatan pada Organisasi lain. Tahun 2019, saya ditapuk menjadi Ketua DPD Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Tangerang Selatan, masa bakti 2019-2023,” tulisnya melalui surat pengunduran diri.
Lebih lanjut ia menjebarkan hal lain menyangkut komitmen Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany soal keberadaan sekretariat DKTS. Kabarnya semula sebelum Gelanggang Seni Budaya di Taman Kota II jadi, akan menempati kawasan ini. Namun hingga 4 tahun berjalan tak kunjung ada kejelasan. Nasib DKTS menempati sekretariat nomaden tidak menetap.
“Tidak ditepatinya janji Walikota dan regulasi DKTS. Bahwa DKTS bersekretariat di Gelanggang Seni Budaya Tangerang Selatan. Sehingga sampai 4 tahun DKTS bersekretariat di rumah seadanya. Gelanggang Seni Budaya tak ada pengelolaan menjadi “RUH” pembangunan, pengembangan pada karakter bangsa ensensi seni budaya. Ironinya, Gelanggang Seni menjadi giat arisan keluarga, dll. Gelanggang Seni diserahkan pada sekelompok orang,” tambah ia.
Akibatnya aktivitas terhambat meningkat tidak ada sekretariat sebagai basis untuk berkonsolidasi bersama para pengurus. Sekretariat menjadi penting dalam organisasi. Semestinya hal-hal seperti ini dapat diatasi dan diselesaikan sehingga DKTS tetap eksis di Kota Tangsel sehingga dapat dirasakan masyarakat khsususnya bidang kesenian dan kebudayaan.
“Dengan tidak memiliki domisili Sekretariat DKTS menjadikan DKTS sulit mengurus rekening bank sebagai salah satu syarat pengajuan dana hibah kegiatan. Sehingga DKTS sampai tahun ke-4 tidak memperoleh dana hibah dari Pemerintah Kota,” jelasnya.
Meskipun tidak menerima hibah dari Pemkot Tangsel, namun keberadaannya eksis walau bersusah payah. Upaya untuk tetap eksis melakukan banyak kegiatan melalui kerjasama berbagai komunitas di wilayah Tangsel dan di luar Tangsel.
“Syukur DKTS tetap lakukan kegiatan seni budaya baik diadakan oleh DKTS atau kerjasama dengan Komunitas-Komunitas di Tangsel dan Jabodebantabek. Anggaran dasar DKTS , ex-officio DKTS (Bab V, Pasal 10) adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pariwisata,” bebernya.
Pada AD- Bab III,Pasal 7 (ayat 6) Padahal terinci DKTS – mitra kerja Pemerintah dalam pembentukan kebijakan-kebijkan, perencanaan dan penyelenggaraan kegiatan seni budaya. 4 tahun berjalan hanya sekali, awal ketika Kadis Dikbud masih Plt. Selebihnya mengundang seniman secara pribadi-pribadi yang notabene pengurus DKTS, contoh lain FLS2N dan Kang Non Tangsel tak pernah melibatkan DKTS, padahal Kang Non prodak DKTS di awal tahun 2010. Demikian pengunduran saya, semoga menjadi mafhum adanya. (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!