MA Soebono Mantofani Punya Program Mualaf

Diterbitkan  Kamis, 09 / 05 / 2019 20:59 - Berita Ini Sudah :  282 Dilihat

CIPUTAT- Madrasah Aliyah (MA) Soebono Mantofani di Jombang, Ciputat, Kota Tangsel mempunyai program bisa dibilang menarik.  Program pelajar mualaf.

Program mualaf ini sudah berlangsung sejak empat tahun lalu. Meski begitu, Kepala MA Soebono Mantofani, Linda Asmarani mengaku sempat ragu pada saat membuka program. Sebab, menurutnya, para mualaf belum kental dengan agama Islam.

“Awalnya itu ragu buat terima siswa mualaf, karena kita kan Madrasah Aliyah yang punya corak agamanya kentel. Kita juga punya target Aliyah harus lebih oke dari segi agama dari sekolah lain. Apalagi baru pada disunat, belum mengerti apa-apa,”  ujarnya, kemarin.

Program itu memang dibuat lantaran ada beberapa siswa mualaf yang sangat ingin tahu tentang Islam lebih dalam. Dengan belajar lebih banyak lagi tentang Islam.

“Mereka ingin tahu Islam seperti apa, semangatnya beda dengan muslim dari lahir. Ditambah antusias mereka terhadap Islam, terus kalau tidak terima mereka pasti akan kecewa. Yasudah saya terima tapi belum dikomunikasikan oleh yayasan,” lanjutnya.

Setelah itu baru dikomunikasikan oleh Yayasan. Akhirnya, setuju dengan program mualaf. Dalam hal ini juga MA Soebono Mantofani bekerjasama dengan para donatur.

“Pas itu dari tahun-tahun berikutnya masih ada yang masuk, sampai akhirnya donatur datang langsung ke sekolah rekap kebutuhannya para pelajar mualaf, biaya semua gratis, full gratis sampai seragam, tas dan sepatu,” jelas Linda.

Di tahun 2019 ini, MA Soebono Mantofani menerima lebih banyak pelajar mualaf dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang ada 20 orang mualaf yang belajar disini. Yang datang juga dari berbagai daerah mulai dari Nias, Bengkulu, Palembang, Kupang. Saya harap mereka bisa menjadi anak yang soleh dan solehah serta cita-cita mereka dapat tercapai,” harapnya.

Salah satu pelajar mualaf yang kini bersekolah di MA Soebono Mantofani ialah Faisal. Duduk di kelas XI IPS. Terlahir dengan nama Atanasius Putra Sengsara Da Silva, putra kelahiran Timor Leste, 2 Mei 2001 ini sejak lahir sudah beragama Kristen Katolik. Namun sejak dua tahun lalu, tepatnya September 2017, dirinya dengan mantap memeluk agama Islam.

Banyak cerita menarik dari dirinya sebelum masuk ke ajaran Islam. Dirinya sempat menyebutkan Islam itu sebagai teroris. Pandangan itu berubah ketika kakak sepupunya yang lebih dahulu masuk Islam.

“Saya cuma kagum sama abang sepupu yang sudah masuk Islam duluan. Abang sepupu saya berubah sifatnya, terus dia ngajak saya untuk memeluk agama Islam. Tapi saya jawab waktu itu “Agama Islam kan ‘teroris’,” ujarnya saat ditemui di sekolah.

 

Hingga kakak sepupunya ini kembali mengajaknya untuk memeluk agam Islam. Melihat perjuangan dan perubahan kakak sepupunya, dirinya pun langsung menyampaikan keinginannya memeluk agama Islam ke kakak sepupunya.

“Terus saya disamperin sama Ustadz Nababan terus sama Ustadz dari Libya. Dan, saya membacakan syahadat di rumah kedutaan besar Arab Saudi,” imbuhnya.

Setelah memeluk agama Islam dan tinggal di pesantren mualaf An-Naba, Faisal menemukan kedamaian. Sikap tempramental yang dimilikinya hilang.

Di bulan Ramadhan ini, merupakan Ramadhan kedua bagi Faisal. Pada saat Ramadhan pertama, Faisal mengalami kesulitan.

“Dulu waktu dibangunin sahur pertama kali susah. Nahan puasa juga susah, pengennya minum aja. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah biasa,” ujar Faisal.

Dirinya pun, bercita-cita ingin menjadi guru bahasa Arab dan ingin melanjutkan sekolah di Kairo, Mesir. “Mau jadi guru bahasa Arab disini. Pinter bahasa Arab itu keren,” pungkasnya. (dra)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!