Terminal Pondok Cabe Capai 1000 Penumpang


Tiket Terminal Bayangan Selangit

Diterbitkan  Senin, 10 / 06 / 2019 20:26 - Berita Ini Sudah :  117 Dilihat

 

CIPUTAT-Mudik lebaran menjadi dambaan setiap orang. Namun apa yang dialami banyak masyarakat. Tidak sepenuhnya senang. Disebabkan banyak faktor seperti pelayanan mudik-arus balik, bus sulit dan tiket mahal.

Wardi (50), misalnya. Pria asal Ngawi Jawa Timur ini menuturkan dirinya menggunakan jasa Bus Rosalia Indah patas ekonomi. Bayarnya Rp 430 ribu. Padahal biasanya sekitar Rp 180 ribu. Naiknya tiket tak tanggung-tanggung. 100 persen lebih. Jelas memberatkan.

“Sangat memberatkan seharusnya pemerintah ikut mengawasi, hadir tidak membiarkan. Kalau kaya gini perusahaan bus semaunya menaikan tarif tiket,” kata warga tinggal di Serua, Ciputat, sejak 2000 ini.

Diketahui pemerintah menerbitkan regulasi berupa Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor: SK. 289/AJ.801/DRJD/2016 tentang Tarif Jarak Batas Atas dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Orang Dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi Angkutan Orang Dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi pada Trayek Antarkota Antarprovinsi.

Disebutkan untuk melaksanakan ketentuan pasal 3 peraturan menteri perhubungan nomor PM 2 tahun 2016 tentang tarif dasar, tarif dasar batas atas, dan tarif dasar batas bawah angkutan penumpang antarkota antarprovinsi kelas ekonomi di jalan dengan mobil bus umum, maka perlu menata tarif angkutan orang antarkota antarprovinsi kelas ekonomi. Dengan tetap memperhatikan kepentingan dan kemampuan masyarakat luas serta kelangsungan usaha penyedia jasa angkutan.

Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Tentang Tarif Jarak Batas Atas dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Orang Dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi Pada Trayek Antarkota Antarprovinsi; Undang-Undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan  Angkutan Jalan (lembaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor 96, tambahan lembaran negara nomor 5025);

Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 nomor 260, tambahan Lembaran Negara Republik Lndonesia Nomor 5594. Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (lembaran Negara Republik Lndonesia Tahun 2015 nomor 8);

Peraturan Presiden RI No. 40 tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 nomor 75). Maka disebutkan, trayek Jakarta-Jatibarang-Cirebon-Tegal-Semarang-Solo-Madiun-Ponorogo jarak tempuh 792 kilometer dengan tarif bawah Rp 78.400 ribu dan tarif atas Rp 126.700 ribu.

Dikarenakan terlalu mahal, akhirnya anak istri tak ikut dibawa. Menunggu tiket turun. Ia menengarai perusahaan outobus sepertinya tidak memiliki aturan main. Semestinya pemerintah tidak tutup mata. Kondisi seperti ini harusnya tidak terulang setiap kali masa mudik dan arus balik tiba.

“Yang dirugikan warga Ciputat dan sekitarnya karena tujuanya di masyarakat  Ciputat dari kampung halaman. Ini harus jadi perhatian,” jelas pria paruh baya yang rambutnya separuh beruban.

Menganggapi hal itu Koordinator Terminal Pondok Cabe, Stanley Puspawijaya menampik tudingan pemerintah tidak ikut campur tangan. Terminal pondok cabe dibawah BPTJ Kementerian Perhubungan. Sementara di daerah juga ada pemerintahan semestinya ikut mengawasi kondisi demikian. Jangan terkesan membiarkan.

“Bukan wewenangnya kami karena ada di Dishub Kota Tangsel sesuai otonomi daerah. Cuma terminal Tipe A seperti Pondok Cabe Udik yang dikelola pemerintah pusat tapikan bukan berarti pemerintah daerah sama sekali lepas tangan setelah serah terima. Karena yang saya layanikan masyarakat Tangsel,” tukasnya.

BPTJ menerapkan konsep temrinal bebas calo, premanisme dan pemerasan bagi penumpang yang menyebabkan takut datang ke terminal. Guna menciptakan kondisi bebas pungli dan premanisme, pihaknya telah kerjasama dengan Resmob Polda Metro Jaya dan Saber Pungli. Jika ada pengaduan dari masyarakat akan diproses secara hukum bagi penerima dan para premanisme.

“Pengawasan dan pelaporan saya serahkan juga kepada masyarakat, penumpang dan awak bus kalau ada aktivitas pungli calo dan preman di terminal ini. Jadi cek dan control atau semua saling mengawasi, sehingga tidak ada penyalahgunaan wewenang,” jelasnya.

oleh karena itu sekarang tinggal Pemda Tangsel support  dari sisi penertiban terminal bayangan yang di Ciputat. Yang jelas merugikan masyarakat dari sisi kemacetan dan sisi kenyaman dan keamanan penumpang. Demikian juga soal harga tiket. Harus diawasi.

Puncak arus balik terjadi Sabtu-Minggu kemarin. Adapun untuk jumlah penumpang diperkirakan mengalami penurunan di Terminal Pondok Cabe. Penumpang lebih berhenti di pemberhentian dekat rumah masing-masing. Data yang tercatat, selama arus mudik di Terminal Pondok Cabe mencapai 1000 penumpang.

“Masyarakat telah mengenal Terminal Pondok Cabe berkat promosi yang terus menerus dan persiapan jauh-jauh hari telah dilakukan menghadapi arus mudik dan arus balik,” ujarnya.

Angkutan lebaran per 28 Mei hingga 7 Juni dalam prosentase diketahui untuk Yogyakarta tertinggi yakni mencapai 14 persen. Disusul dengan Tasikmalaya 10 persen. Solo 9 persen. Bandung 6 persen.  Wonogiri 6 persen. Klaten 6 persen. Pacitan 6 persen. Garut 4 persen. Madura 4 persen. Bojonegoro 4 persen. Wonosari 3 persen. Ponorogo 3 persen. Jepara 3 persen. Madiun 3 persen. Sumenep 2 persen. Kudus 2 persen. Sisanya wilayah kota Jawa Tengah-Jawa Timur hingga Bali berkisar 0-1 persen. (din)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!