Supaya Tidak Gulung Tikar, Pemerintah Campur Tangan


Masyarakat Masih Butuh Angkot

Diterbitkan  Rabu, 12 / 06 / 2019 20:44 - Berita Ini Sudah :  127 Dilihat

CIPUTAT-Masyarakat Tangsel masih membutuhkan angkutan kota (angkot). Kendati memang lambat laun peminatnya terus menurun disebabkan pesaing moda transportasi lainnya terus bermunculan.

Salah satu warga yang tinggal Pondok Jaya, Pondok Aren, Yono asal jawa Timur menuturkan, kendati setiap hari aktivitasnya menggunakan sepeda motor. Namun keberadaan angkot sesekali diperlukan. Misalnya saat masa mudik tiba. Hilir mudik ke agen bus di Ciputat dari kontrakan pasti dibutuhkannya.

“Angkot harganya masih sangat terjangkau, jika membawa barang banyak menjadi alternatif. Meski saya naik angkot cukup jarang. Tapi keberadaan angkot masih dibutuhkan, kalau menurut saya,” ujar pria yang membuka usaha di salah satu mall kawasan Bintaro.

Angkot yang pasti dapat menghemat biaya, karena harganya sangat terjangkau. Tentu jika ingin cepat saat bawaanya sedikit pilihan ojek jadi alternatif. Namun harganya sudah pasti akan mahal. Persaingan dengan taksi online misalnya, mungkin jika ada aturan baru tarifnya akan menjadi mahal. Saat ini memang menjadi primadona.

“Bisa saja nantinya harga bisa berubah. Atau ada harga standar. Memang hadirnya jasa online menjadi daya tarik masyarakat seperti berlomba-lomba menggunakan. Karena memang unitnya berbentuk kendaraan pribadi sehingga lebih kerenm,” kelakarnya.

Pengamat Kebijakan Publik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Djaka Badranaya menyampaikan, memang cukup mengkhawatirkan kondisi angkot dewasa saat ini. fenomena ini berlaku di kota-kota besar di Indonesia karena hadirnya perkembangan teknologi yang merubah konsep, seba praktif, harga, dan yang semua dapat diakses oleh masyarakat.

“Kekuatan pasar sulit dikendalikan. Perkembangan Teknologi Informasi melahirkan perubahan radikal pada perekonomian baik pada sisi demand-perilaku konsumen maupun sisi penawaran-produsen. Bisnis transportasi salah satu yang pada tahap awal terdampak revolusi IT ini. Bagi publik sebagai konsumen,  preferensi dalam gunakan jasa transportasi tergantung faktor harga, kenyamanan, kecepatan dan pragmatis. Saat yang bersamaan,  pada sisi suplai armada berbasis online yang menawarkan kebutuhan pasar konsumen tersedia secara mudah,” kata Djaka.

Pemkot Tangsel harus turun tangan membenahi kondisi angkot. Apapun itu, jika dibiarkan tanpa campur tangan ada ribuan angkot, dan ribuan sopir bersama keluarga mereka harus berpindah profesi. Mereka perlu disematkan. Didiamkan tidak diberikan solusi akan membuat punah mereka. butuh solusi jitu berpihak kepada angkot di Tangsel.

“Akibatnya,  moda transportasi konvensional,  yang kurang kompetitif dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang berubah. Memang jika diserahkan ke mekanisme pasar, pastinya angkot gulung tikar. Pilihannya yang normatif melakukan inovasi tapi bagi pengusaha Angkot agak pilihan inovasinya,  bagi pemerintah bisa jadikan momentum benahi sektor transportasi publik,  termasuk Angkot, misalnya dengan penyesuaian trayek yang belum terakses trans publik tapi memiliki kebutuhan pasar yang lumayan. Atau menintegrasikan dengan model jalur kereta ke perumahan dan pemukiman. Meskipun kuncinya, bisnis ini tetep harus berubah,” Djaka menyarahkan.

Sebelumnya, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Tangsel, Yusron Siregar menyampaikan, selama musim libur lebaran nyaris tidak dapat penghasilan bagi para sopir angkot. Sebab penurunan pendapatan hingga capai 90 persen. Karena kondisi memang banyak masyarakat enggan menggunakan angkota, mereka lebih memilih jasa online, baik yang mobil maupun sepeda motor.

“Cukup parah angkutan di kota Tangsel mengalami kondisi yang cukup mengkhawatirkan karena kalah dengan jasa online. Masyarkat lebih menggunakan kendaraan pribadi dan moda online ketimbang angkutan umum,” katanya.(din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!