Pemilik Angkot Harus Berbenah

Diterbitkan  Kamis, 13 / 06 / 2019 21:30 - Berita Ini Sudah :  211 Dilihat


SERPONG –Melihat kondisi angkot di Tangsel kian menurun akibat ditinggal penumpang. Dinas Perhubungan Kota Tangsel meminta pemilik angkot harus inovatif serta mematuhi ketentuan yang ada dengan menjadikan badan hukum.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangsel, Sukanta melihat perkembangan angkot yang kian menurun disebabkan persaingan secara ketat terus terjadi dengan moda transportasi lain. sementara angkot menggunakan konsep manual. Masyarakat dewasa ini, lebih gandrung dengan teknologi terbaru, aplikasi atau berbasis internet.
“Maka dari itu, sebetulnya angkot bisa kompetisi dengan angkutan umum lainya, angkota harus nyaman dan aman serta tepat waktu dan berbadan hukum,” ketarang Sukanta.
Pemilik angkot harus membaca apa yang dimau oleh masyarakat sebagai penumpang. Dulu angkot boleh saja ngetem mencari penmumpang berlama-lama. Tapi coba lihat sekarang, manamau penumpang harus menunggu terlalu lama di angkot saat ngetem. Corak atau gaya hidup penumpang sekarang, ingin seba cepat, praktis.
“Angkot di dalam pelayan tidak lagi ngetem di manapun harus berjalan dan berhenti sesuai tempat yang telah ditentukan,” imbuhnya.
Pemerintah melalui aturan yang sudah ada. angkot harus berbadan hukum. Namun faktanya tidak jarang angkot berbadan hukum. Badan hukum sebetulnya dapat ditempuh dengan membentuk koperasi sehingga anggotanya bayak. Harus dipatuhi aturan dan ketentuan. Apabila tidak ditempuh dengan banyak hal, inovasi dan lain-lain angkot di Tangsel terancam punah dan mengancam laju pengangguran dari mereka yang tidak lagi berprofesi sopir angkot.
”Bukan perusahan, pemilik. Makanya harus berbadan hukum. Lembat laun apabila tidak dibenai bisa hilang. Apabila kondisinya demikian maka harus alih propesi,” tambah ia.
Hal yang sama disampaikan oleh Walikota Tangsel Benyamin Davnie melihat fenomena ini bukan hanya di Tangsel, tapi kota-kota lain mengingat hadirnya taksi daring menjamur di mana saja. secara kecepatan teknologi, angkot tentu tertinggal, karena menggunakan konvesioal, sementara arus masyarakat mengikuti perkembangan teknologi. Ini yang perlu ditangkap oleh para sopir dan pemilik angkot supaya tetap eksis.
“Memang kelihatannya angkutan umum sudah hampir tidak diminati lagi oleh masyarakat Tangsel karena banyak faktor penyebabnya,” katanya.
Sebelumnya, pengamat Kebijakan Publik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Djaka Badranaya, menyampaikan memang cukup mengkhawatirkan kondisi angkot dewasa saat ini. fenomena ini berlaku di kota-kota besar di Indonesia karena hadirnya perkembangan teknologi yang merubah konsep, seba praktif, harga, dan yang semua dapat diakses oleh masyarakat.
“Kekuatan pasar sulit dikendalikan. Perkembangan Teknologi Informasi melahirkan perubahan radikal pada perekonomian baik pada sisi demand-perilaku konsumen maupun sisi penawaran-produsen. Bisnis transportasi salah satu yang pada tahap awal terdampak revolusi IT ini. Bagi publik sebagai konsumen, preferensi dalam gunakan jasa transportasi tergantung faktor harga, kenyamanan, kecepatan dan pragmatis. Saat yang bersamaan, pada sisi suplai armada berbasis online yang menawarkan kebutuhan pasar konsumen tersedia secara mudah,” kata Djaka. (din).

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!