Bacalon Adu Gagasan Kebudayaan

Diterbitkan  Rabu, 10 / 07 / 2019 19:25 - Berita Ini Sudah :  142 Dilihat

SERPONG- Sebuah kelompok diskusi publik di Tangsel mengundang sejumlah nama untuk beradu gagasan. Mereka yang diundang merupakan nama-nama yang diyakini mau memeriahkan Pilkada Tangsel 2020.

Dengan mengangkat tema Visi Kebudayaan Membangun Tangsel, kelompok diskusi tersebut memberikan ruang beberapa nama menyampaikan pandangannya terkait kebudyaan. Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie, Ketua DPC PDIP Heri Gagarin, Aktivis Suhendar, dan Lurah Cipayung Tomy Patria yang diundang.

Mereka adu gagasan dan memberikan pandangannya berupa pentingnya aspek kebudayaan dalam membangun Kota Tangsel ke depan.

Seperti dikatakan oleh Benyamin Davnie dalam kesempatan itu. Pembangunan yang berbudaya sangat penting. Dikarenakan dengan kebudayaan, maka dalam hal pemberian pelayanan kepada masyarakat jauh lebih maksimal.

Bang Ben, sapaan karib Benyamin Davnie, memberi contoh seperti kebudayaan disiplin dalam meningkatkan kinerja pemerintah. Itu, kata Bang Ben, terus dibangun pada pemerintahaan kota saat ini.

“Dan juga seperti budaya anti korupsi, dan untuk membudayaan anti korupsi di pemerintahaan ini kami kerap kali mengadakan bimbingan teknis dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan dalam penyusunan anggaran pun kami melibatkan KPK. Kebudayaan itu yang kini tengah terbangun di pemerintahan,” ujarnya.

Gagarin saat mendapat giliran menyampaikan pandangannya, mengatakan, kebudayaan sangatlah penting. Apalagi dalam pembangunan suatu daerah. Bahkan dia mengusulkan agar moto Tangsel harus ada penambahan fungsi kebudayaan.

“Selama ini kita memakai moto Cerdas, Modern, dan Religius. Menurut saya harus ada tambahan Kebudayaan di kata terakhirnya. Yaitu Cerdas, Modern, Religius, dan Berkebudayaan,” ungkapnya.

Menurut Gagarin, suksesnya pembangunan suatu daerah itu ialah pembangunan yang tidak pernah tercabut dari akar kebudayaannya. Meski Kota Tangsel nantinya akan menjadi kota megapolitan, tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang ada di Tangsel.

“Terlebih lagi kota ini ini menganut nilai kebudayaan yang sangat bagus. Sehingga dari saya menilai pembangunan itu syaratnya harus tetap berlandaskan nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat kita,” terang politisi muda yang punya gelar Magister Manajemen ini.

Kedepan, katanya, jika diberikan kesempatan untuk memimpin Kota Tangsel dirinya dalam setiap pembuatan Perda harus sesuai dengan muatan lokal Tangsel.

Sedangkan Suhendar memiliki pandangan kebudayaan sebagai sebuah nilai-nilai di masyarakat. Kebudayaan menjadi pondasi untuk melihat potensi-potensi yang ada di Kota Tangsel.

“Kemudian, setelah kita melihat potensi pembangunan dari kacamata budaya atau kebudayaan, maka dalam melakukan realisasi pembangunannya akan lebih mudah lagi. Karena akan besar pula nantinya dukungan dari masyarakat,” pungkasnya. (dra)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!