Tangsel Creative Foundation Cari Inovator Ikon Kota Tangsel

Diterbitkan  Minggu, 28 / 07 / 2019 21:16 - Berita Ini Sudah :  283 Dilihat

 

PAMULANG-Tangsel Creative Foundation tahun ini kembali menggelar Tangsel Youth Planner (TYP) bersama Kaukus Muda Tangsel. TYP  adalah kelas khusus yang mengumpulkan anak-anak muda di Kota Tangsel untuk merencanakan kotanya secara imajiantif, inovatif, solutif, dan berkesinambungan.

Hilmi Fabeta, pengagas acara menjelaskan rencana kegiatan ini akan dilaksanakan pada (2-4/8) bermaksud melibatkan kalangan millenial untuk urun rembug pada pembangunan Kota Tangsel. Melalui cara kreatif anak millenial dapat berperan aktif sesuai dengan minat mereka dengan mengeluarkan gagasan-gagasan brlian.

“Sengaja memang dirancang dengan kesadaran bahwa dibutuhkan partisipasi publik, dalam hal ini partisipasi kaum muda untuk ikut memberikan ide, gagasan dalam perencanaan pembangunan kota,” kata Hilmi.

Panitia akan menyeleksi sebanyak 50 peserta terpilih dan mereka bakal mengikuti rangkain selama tiga hari dengan tema “Landmark”. Landmark dipilih sebagai tema besar TYP 2019 dengan kesadaran bahwa Tangsel sebagai kota baru belum memiliki ikon kota yang sifatnya ajeg. Untuk itu TYP 2019 akan menghadirkan narasumber pentolan. Berharap mendatangkan narasumber-narasumber pentolan dapat membuka wawasan peserta.

“Setelah memperoleh banyak pengetahuan mereka akan mulai fokus pada satu hal apa yang akan dibuat untuk karyanya dijadikan ikon Tangsel ini. Untuk menghasilkan satu identitas sebuah kota memang tidak mudah, butuh kerja kerasa berimajinasi tanpa kenal lelah,” tambah ia.

Pentolan-pentolan yang bakal menularkan gagasan kepada peserta, yaitu Asosiasi Pematung Indonesia, Agus Widodo dan Yani Mariani. Dua jagoan ini bakal menyampaikan materi tentang nirmana trimatra dan pengenalan bahan patung. Narasumber kedua adalah Staff Ahli Presiden RI, Fahd Pahdepie. Fahd  dikenal sebagai pengusaha muda dan penulis. “Ia akan menyampaikan materi tentang kota dan kisah kita, kemampuan story-telling, menulis, dan berkisah dalam fragmen kota,” jelasnya.

Dalam menemukan ikon kota tentu si pembuat tidak asal-asalan. Harus mengerti narasi sejarah Kota Tangsel, dari awal sampai berdiri. Corak tradisi masyarakat, bahasa, kulturnya, dan adat-istiadat yang dianut hingga saat ini. Ini harus diramu dengan apik supaya ketika ikon itu diciptakan mereka memiliki dasar secara sempurna. Ikon secara eksplisit menggambarkan sebuah kota secara holistik dan majemuk. Artinya ketika muncul ikon tertentu, masyarkat dapat menebak itu kota A dan B.

“Oleh kerena itu, kami akan menghadirkan arkeolog seorang anak muda lulusan Arkeolog Universitas Indonesia akan menyampaikan sejarah Tangsel yang dikupas dari perjalanannya di bidang arkeologi. Ia adalah Argi Arafah,” ujar pengantin baru ini.

Helatan penuh kreativitas anak muda ini didukung oleh Pemkot Tangsel. Kepala Bappeda Kota Tangsel, Moch Taher Rochmadi dijadwalkan akan mengisi materi di hadapan 50 pemuda millenial. Prespektif dari pemerintah menginformasikan tentan potensi Tangsel seperti apa kondisinya, bagaimana peluangnya dan macam-macam lainnya.

“Selain penyampaian materi dari narasumber, kelas ini akan praktek belajar membuat patung, lalu melakukan kunjungan ke museum serta lokasi sejarah, dan akan merancang ikon kota versi mereka. Setelah kegiatan ini berlangsung, diharapkan hasil ikon versi mereka dapat diterapkan dalam perencanaan pembangunan kotaTangsel ke depannya,” tutupnya. (din)

Komentar Anda

comments