Tahap Pengajuan Skema Tipping Fee ke Pusat


Investasi PLTSa Cipeucang Rp 2 T

Diterbitkan  Selasa, 30 / 07 / 2019 19:52 - Berita Ini Sudah :  233 Dilihat

 

PAMULANG- Persoalan sampah di banyak daerah memang tidak kunjung selesai. Oleh karena itu, Pemkot Tangsel merencakan untuk mengolah sampah menjadi tenaga listrik. Dengan pengolahan menjadi tenaga listrik, sampah memiliki nilai guna dan bermanfaat bagi masyarakat.

Disebutkan Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie, Pemkot terus merancang penyelesaian sampah. Volume sampah setiap hari mencapai ratusan ton. Satu sisi, kapasitas TPA Cipeucang tidak memadai. Tidak dapat menampung lebih banyak. Diperlukan upaya-upaya agar kapasitas tidak over.

“Maka akan mengupayakan sampah di Cipeucang dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Saat ini tahapannya masih dalam pengajuan skema tipping fee yang diajukan ke Kementerian Keuangan,” kata Bang Ben, sapaan akrab Benyamin Davnie ini, kemarin.

Saat ini. Yang membaut kajian Feasibility study terkait PLTSa berasal dari perusahaan Korea Selatan. Diharapkan melalui kajian tersebut dapat diketahui secara pasti kapasitas dalam mengolah sampah hingga menghasilkan tenaga listrik untuk msayarakat Tangsel.

“Konsultan dari Korea Selatan tengah mengkaji dari 570 ribu ton dengan menghitung melalui Feasibility study. Saya berharap di bawah 570 ribu ton namun ini persoalan daya tarik bagi investor. Kapasitas bakar dalam satu hari mencapai 800-1000 ton. Sedangkan di Tangsel 920 ton per hari jumlah sampah yang ada,” terang mantan Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang ini.

Sedangkan nilai investasi untuk PLTSa terbilang cukup besar. Hampir mencapai angka Rp 2 triliun. Dengan kapasitas di atas lahan seluas 5 hektar dan masa konsesus waktu selama 20 tahun lamanya. “Nanti akan dibangun di atas lahan seluas 5 hektar di Cipeucang,” jelasnya.

Pemkot Tangsel saat ini tengah menunggu adanya pemanggilan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Mereka yang akan mengundang para investor. Untuk menanamkan modal dalam pengembangan PLTSa. Semakin banyak investor yang datang, maka semakin besar pula untuk dapat bersaing dengan kualitas bagus.

“Yang mengundang para investor adalah Kemenko Maritim di mana kami sifatnya hanya presentasi di hadapan para investor saja,” terangnya.

Di samping itu, berbagai kegiatan menangani sampah tengah berlangsung. Seperti bank sampah, yang digalang pada berbagai masyarakat. Masyarakt perlu membantu tugas pemerintah dengan mengurangi volume sampah di lingkungan masing-masing.

“Upaya lain selain meminimalisir sampah pemerintah selalu mengajak kepada masyarakat agar bersama-sama mengatasi persoalan sampah yang ada,” ajaknya.

Sebelumnya Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) dan Pemkot Tangsel menggelar kegiatan market sounding (PLTSa).Beberapa waktu lalu. Tangsel satu dari 12 kota yang ada di Indonesia ditunjuk pemerintah pusat dalam pengembangan PLTSa.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, menjelaskan, meningkatnya produksi sampah di Kota Tangsel menyebabkan sampah tidak dapat ditangani semuanya. Sehingga tidak dapat ditampung di TPA.

“Karena kondisi TPA yang sudah overload, maka diperlukan alternatif teknologi pengolahan sampah. Sebagai langkah upaya tersebut, dengan masuknya Kota Tangerang Selatan dalam Perpres No.35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan (PLTSa) diharapkan dapat menangani permasalahan sampah yang ada di kota Tangerang Selatan secara keseluruhan,” ujarnya. (din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!