Hasil Penelitian FISIP UMJ


Mahasiswa Tolak Kekerasan Atas Nama Agama Mencapai 85 Persen

Diterbitkan  Rabu, 31 / 07 / 2019 21:17 - Berita Ini Sudah :  277 Dilihat

Penelitian. Membedah seri diseminasi hasil penelitian dengan titik lokus di berbagai universitas negeri dan perguruan tinggi kedinasan. SUDIN ANTORO/TANGSEL POS

CIPUTAT TIMUR-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menggelar seri diseminasi hasil penelitian bertajuk “Memperkuat Ketahanan Kampus Sebagai Ujung Tombak Nilai-nilai Kebangsaan” pada Senin (29/7).

Penelitian ini digarap sejak Desember 2018 sampai dengan Maret 2019.  Tim Peneliti FISIP UMJ melaksanakan penelitian ke delapan kampus meliputi tiga Perguruan Tinggi Negeri, Institut Teknologi Bandung/ITB, Institut Pertanian Bogor/IPB, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua Perguruan Tinggi Kedinasan, Politeknik Keuangan Negara STAN dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri dan tiga Perguruan Tinggi Muhammadiyah yaitu, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Tasik, dan Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Ketua Tim Peneliti, Debbie Affianty, memaparkan tentang temuan dari penelitian yang telah dilakukan, berbagai variabel penelitian tentang faktor-faktor pendukung daya tangkal (resilience) serta faktor-faktor kerentanan (vulnerabilities) terhadap intoleransi dan radikalisme di Perguruan Tinggi. Ada dua faktor memengaruhi ketahanan kampus dalam radikalisme, berkaitan dengan ketahanan kampus.  Sejauh ini dukungan terhadap NKRI dan demokrasi cukup kuat dikalangan mahasiswa.  Mereka mendukung adanya Pancasila dan demokrasi dalam sistem NKRI. Pancasila tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

Kaitan tentang relasi mayoritas-minoritas.  Mahasiswa menganggap koeksistensi dari masyarakat yang berbeda harus dihargai.  Temuan lain tidak kalah penting dari hasil penelitian ini adalah mahasiswa menolak kekerasan atas nama agama yang sangat tinggi (85%) sedangkan terorisme atas nama agama sebagai syahid atau jihad ditolak (81%). Bagaimana dengan pengetahuan agama yang didapat mahasiswa? Menurut Debbie, hasil penelitian menyatakan sebagian besar responden masih mengandalkan Ustadz dalam pencarian pengetahuan agama.  Sebanyak 90,58% mengikuti pengajian dengan berbagai bentuk dan sebanyak 58,12% responden belajar agama melalui ustadz di masjid.

“Sebagian besar Perguruan Tinggi yang termasuk dalam locus penelitian, memiliki program kegiatan keagamaan (88,22%). Bentuk-bentuk program kegiatan keagamaan tersebut didominasi oleh Mata Kuliah Agama sebesar 48,17%, diikuti oleh kegiatan pengajian sebesar 30,10%, dan 6,81% berupa Konseling Agama. Kegiatan lainnya sebesar 1,83% dan 0,79% Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Sebanyak 86,65% responden menjawab tidak ada dosen yang dalam pengajarannya memiliki unsur ujaran kebencian terhadap agama lain. Sebanyak 90,58% mengikuti pengajian dengan berbagai bentuk dan sebanyak 58,12% responden belajar agama melalui ustadz di masjid,” katanya.

Dekan FISIP UMJ, Ma’mun Murod, menanggapi hasil penelitian  khususnya yang terkait dengan kesiapan Perguruan Tinggi dalam menghadapi ancaman intoleransi dan radikalisme saat ini dan ke depan utamanya di lingkungan kampung UMJ. “Khusus di UMJ, ketahanan kampus dimulai dengan ditegakkannya Al Islam Kemuhammadiyahan sebagai darma pertama dari empat darma perguruan tinggi selain pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. Abdul Mu’ti,  menanggapi hasil penelitian yang dipaparkan bahwa data yang menjadi hasil penelitian merupakan tantangan bersama. Oleh sebab itu bagaimanapun kampus menjadi basis menciptakan kebangsaan yang tinggi.

“Kampus yang menekankan aspek intelektualitas, perlu mengembangkan nilai-nilai intelektual.  Perlu ada upaya bagaimana kebebasan akademik namun tidak keluar dari nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, perlu ada penguatan buku ajar dan referensi utama yang dirancang memenuhi keinginan mahasiswa dalam mengkaji ideologi secara kritis akademis dalam bingkai nilai kebangsaan,” tambahnya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof Syaiful Bakhri, hadir sekaligus membuka acara ini, memberikan penegasan bahwa sangat penting mahasiswa sebagai aktor intelektual pengembangan ilmu dan dosen sebagai pendamping harus diarahkan untuk memperkuat ketahanan kampus. Dua komponen bagian dari civitas akademika, harus selaras dan seirama.

Adapun Tim Peneliti telah memaparkan hasil penelitian di hadapan para pejabat Kementerian dan Lembaga, seperti Bappenas, Kementerian Agama, Kemenristekdikti, Kemenpolhukam, BNPT, UKP, MUI, dan Kantor Staf Presiden, pada tanggal 22 Juli yang lalu, sebelum tim peneliti menggelar di UMJ. (din)

 

 

Komentar Anda

comments