Airin Mau Evaluasi Pola Pelatihan


Polisi Stop Kasus Kematian Paskibraka

Diterbitkan  Rabu, 14 / 08 / 2019 20:07 - Berita Ini Sudah :  160 Dilihat

KETERANGAN PERS MENINGGALNYA PASKIBRA TANGSEL: Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, didampingi Kapolres Tangerang Selatan Ferdy Iriawan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi , Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto serta Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Muharam Wibisono memberikan keterangan pers tentang kasus meninggalnya calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Aurellia Quratu Aini Tingkat Kota Tangerang Selatan 2019 saat pelatihan di Mapolres Tangerang Selatan, BSD, Selasa (13/8). Dalam keterangan pers tersebut Kepolisian Polres Tangerang Selatan tidak membenarkan Aurellia Quratu Aini meninggal karena adanya tindak kekerasan, dan meninggalnya tersebut dugaan sementara terjadi kelelahan terhadap Aurellia Quratu Aini

SERPONG- Polres Tangsel mengakhiri pengungkapan kasus kematian Anggota Paskibraka Kota Tangsel, Aurellia Quratu Aini. Paskibraka, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Disimpulkan, tidak ada pidana dalam kematian siswi Al Azhar BSD, Serpong, tersebut.

Demikian terungkap melalui keterangan pers diberikan pihak kepolisian di Mapolres Tangsel, Serpong, Selasa (13/8).

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany hadir bersama Kapolres Tangsel AKBP Ferdi Irawan. Juga hadir dari Lembaga Perlindugan Anak, Kak Seto.

Aurel merupakan Calon Paskibraka. Sedianya akan mengibarkan bendara merah putih pada Upacara Bendera 17 Agustus di Pemerintah Kota Tangsel. Almarhumah meninggal pada 1 Agustus lalu di rumahnya, Taman Royal, Cipondoh, Kota Tangerang.

AKBP Ferdi mengatakan, pihak kepolisian hanya menyampaikan klarifkasi atas berita-berita yang beredar selama ini. Adanya dugaan unsur kekerasan terhadap Aurel hingga meninggal dunia.

Menurut Ferdi, dari hasil penyelidikan, dari keterangan seluruh saksi yaitu sebanyak 30 saksi yang telah dimintai keterangan. Mulai dari pihak keluarga, rekan Aurel, dan juga pelatih yang tergabung di Purna Paskibraka Indonesia (PPI). Tidak ada kekerasan dalam bentuk kontak fisik dalam proses pelatihan berlangsung.

“Bahkan dari yang memandikan jenazah, dan juga dokter rumah sakit, juga memberikan keterangan tidak ada luka-luka bekas kekerasan di tubuh Aurel. Jadi itu menyimpulkan meninggalnya Aurel bukan karena kekerasan,” ujar perwira polisi yang pernah menjadi penyidik KPK ini.

Bahkan Ferdi juga mengatakan, pihaknya tidak bisa mendalami penyebab kematian korban. Sebab, korban datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah meninggal dunia. Sedangkan orang tua almarhumah menolak dilakukan autopsi jenazah.

“Pada saat almarhumah datang ke rumah sakit, itu sudah dalam kondisi meninggal dunia. Kalau mau tahu penyebab pastinya, idealnya memang harus dilakukan autopsi, tapi ada permintaan khusus dari orang tua Aurel, jangan dilakukan autopsi. Kami mengakomodir langkah tersebut, karena belum melihat ada faktor pendukung bahwa ada kekerasan terhadap Aurel. Saat dimandikan tidak ada bekas penganiayaan atau kekerasan, dokter yang memeriksa juga menyatakan tidak ada bekas penganiayaan, sehingga permintaan keluarga kita akomodir,” papar pria yang sebelumnya menjabat Kasubdit V Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Disinggung soal pelatihan fisik yang diikuti selama Paskibraka, seperti hukuman Push Up dengan sikap tangan mengepal, Ferdi menegaskan bahwa pola-pola pelatihan yang diterapkan oleh pelatih PPI bukan yang menyebabkan kematian korban. Pelatihan tersebut lebih untuk peningkatan fisik dan mental calon Paskibraka.

“Jadi pola disiplin seperti disuruh berlari, Push Up dan lain lain itu pola pembinaan PPI kepada para calon paskibra untuk meningkatkan fisik dan mental,” imbuhnya.

Jika memang pola pelatihan tersebut, dianggap terlalu keras dan menjadi persoalan, maka memnag perlu adanya evaluasi. “Dan terkait apakah pelatihan seperti itu boleh atau tidak, tentunya akan kita evaluasi kembali. Terhadap pola-pola pelatihan untuk meningkatkan disiplin yang mungkin dirasa memberatkan anggota paskibra,” katanya.

“Ke depannya sudah ada komitmen dari Wali Kota maupun para pelatih untuk diperbaiki dan disempurnakan kembali sehingga diharapkan jangan sampai ada terjadi beban yang terlalu berlebihan bagi para peserta pelatihan paskibra, secara psikis maupun fisik,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu juga Kapolres mengatakan, bahwa mengenai dugaan penyebab kematiannya, memnag karena sakit yang dialami oleh Aurel, dan tetap memaksakan diri untuk mengikuti latihan. Sehingga, terdapat sakit fisik secara akumulasi terhadap Aurel.

“Belum ditemukan penyebab pastinya, tapi berdasarkan keterangan orang tua korban maupun dari hasil keterangan dokter yang memeriksa. Penyebab pastinya kemungkinan besar, karena sakit akibat akumulasi kegiatan yang bersangkutan dalam menghadapi pelatihan Paskibra ini. Namun sekali lagi saya jelaskan. Jika memag ingin mengetahui penyebab pastinya tentunya harus dilakukan otopsi, karena dari pihak rumah sakit tidak sempat memberikan keterangan medis kepastianannya, karen Aurel meninggal dunia pada perjalanan ke rumah sakit, dan langsung di bawa kembali ke rumah duka,” ujarnya.

Ferdi juga mengatakan, bahwa saat ini untuk kasus tersebut bisa dikatakan sudah selesai.  Namun jika nantinya masih ada fakta-fakta baru yang belum terungkap, maka bisa saja pihak kepolisian akan meneruskan kembali kasus tersebut.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap seluruh proses. Mulai dari pelatihan dan juga sistem pola pelatihan Paskibraka.

Bahkan Airin mengatakan, setelah adanya kejadian meninggalnya Aurel, pihaknya langsung meminta evaluasi. Dengan menurunkan Inspektorat untuk melakukan monitoring dan pengawasan terhadap Dispora Kota Tangsel. Juga meminta Kepolisian untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

“Tentunya ini adalah duka bagi kita semua, dan  ketika kejadian saya sudah meminta inspektorat untuk melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap Dispora Tangsel, serta meminta Pak Kapolres untuk turun juga, mencari tahu ada apa ini sebenarnya. Dan tadi kita sudah dengarkan semua keterangan Pak Kapolres mengenai penyebab meninggalnya anak kita Aurel,” ujarnya.

Putri Pariwista Indonesia 1996 ini juga mengatakan, Pemkot Tangsel masih menunggu proses dari Inspektorat. Untuk mengetahui yang nantinya harus dievaluasi.

Sedangkan, untuk saat ini penanganan yang dilakuka ialah, setiap memulai pelatihan para peserta Paskibraka, harus dilakukan pengecekan kesehatan. “Sekarang kami telah turunkan tim kesehatan, dan sebelum latihan dan setelah latihan mereka wajib diperiksa kesehatannya. Juga kami telah terjunkan tim Psikolog, mengingat anak-anak kita yang lainnya ini mashi merasa kehilangan Aurel, ditambah lagi banyak berita beredar yang belum jelas sumbernya. Sehingga kami sangat perhatikan juga psikis mereka,” pungkasnya. (dra)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!