Diawali Dari ‘Iseng-iseng Berhadiah


Ada Sambal Dalam Kurma Yang Manis

Diterbitkan  Senin, 02 / 09 / 2019 20:17 - Berita Ini Sudah :  172 Dilihat

Pada suatu hari di awal 2017, Laili yang merupakan seorang ibu rumah tangga biasa sedang menikmati kurma. Kemudian ia berpikir bahwa mengapa hingga sekarang kurma hanya laku di musim-musim tertentu saja? Padahal kurma adalah makanan yang sangat kaya akan gizi, tapi sayangnya masih kalah pamor dengan makanan sehat lain seperti granola atau oats. Ia pun lalu ‘iseng-iseng’ membuat sambal dari cabai rawit merah dan kemudian dimakannya sambal itu bersama kurma. Ia pun tak menyangka bahwa perpaduan sambal dan kurma ternyata sangat enak di lidah.

Kemudian ia berinisiatif membeli beberapa jenis kurma untuk diberikan perlakuan yang sama, namun hanya beberapa kurma yang enak digabungkan dengan bumbu pedas selera Indonesia. Sebelum menjual kurma olahannya, ia pun membagikan kurma-kurma berisi sambal ke orang-orang terdekatnya. Ternyata, respon yang didapat pun positif. Alhasil, ia berinisiatif untuk memulai suatu bisnis yang hingga kini belum ada kompetitornya.

Dengan modal sekitar 2 juta rupiah, Laili membeli 10 kilogram kurma, bahan lain, dan membuat desain logo yang pas untuk penjualan pertamanya. Banyak orang bertanya-tanya, mengapa produknya dinamakan Mantu? Ia mengatakan bahwa kata ‘mantu’ adalah hal yang sederhana, dan mudah diingat orang. Selain itu karena ia juga merupakan seorang mantu, dan kini telah memiliki 3 orang anak hasil pernikahannya dengan Endarto.  Pada saat peluncuran Mantu Kurma, Laili membuat 100 bungkus kurma olahan, dan langsung dibeli banyak orang dalam sekejap. Ia pun merasa senang dengan penjualan perdananya, namun dalam hati ia tetap bertanya-tanya.

“Waktu awal jualan kan laris manis ya, saya ada pertanyaan dalam hati, orang beli apakah doyan atau karena penasaran saja, ya? Makanya kemudian saya juga melakukan observasi tentang produk saya. Walaupun sebagian juga karena ada yang memang doyan kurma, dan suka produk saya, sebagian karena penasaran. Tapi saya kemudian mencoba berinovasi dengan varian lain.” Ungkap Laili, wanita yang hobi masak dan juga berdagang gorengan sejak SMA.

Kurma yang ia pilih adalah kurma yang tidak terlalu mahal namun tetap berstandar tinggi. Pemilihan kurma juga sesuai dengan kesukaan banyak orang Indonesia, yakni kurma Khalas. Produk Mantu Kurma saat ini pun membuat 4 varian rasa, yakni; kurma sambal, kurma jahe, kurma cokelat, dan kurma kopi. Laili mengatakan bahwa dengan bertambahnya jumlah varian, bisa memperlebar jumlah konsumen, terutama konsumen usia anak-anak, yang sangat menyenangi kurma dengan balutan cokelat. Laili pun mengaku sudah mendapat izin usaha dan label halal dari Dinas Kota Tangerang Selatan.

  Tidak Mudah Merasa Puas

Walaupun usaha kurma Laili masih tergolong baru, hasil penjualan per bulannya cukup menggiurkan. Pasalnya perbulan ia mampu meraih omset hingga 15 juta rupiah dengan memproduksi 1000 bungkus kurma setiap bulan. Tapi ia merasa hal tersebut tidaklah cukup, ia ingin kurma menjadi makanan yang bisa lebih dikonsumsi masyarakat Indonesia. Karena mayoritas orang Indonesia beragama islam, yang kini kurma lebih banyak dikonsumsi saat Ramadhan.

Produk unik Laili pun sudah sering wara-wiri media nasional, baik televisi, media online dan cetak. Beberapa kali produknya disorot media massa, ternyata tidak membuat produknya terjual sesuai dengan ekspektasi. Perempuan yang pernah menjadi Sales Promotion Girl (SPG) di masa mudanya ini berkata, “Saat ini penjualan masih belum sesuai keinginan kami, oleh sebab itu sekarang saya sedang ingin mengikuti beberapa ajang kompetisi yang dibuat oleh swasta maupun instansi pemerintahan. Terutama ajang dengan hadiah yang mampun memberikan kami ‘coaching clinic’ tentang bagaimana cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, sehingga menjadi produk yang unggul serta diminati masyarakat luas. Saya juga ingin membangun citra kurma jadi lebih baik lagi, dan bukan hanya jadi kudapan saat Ramadhan.”

Ia juga mengatakan bahwa tujuan ia mengikuti kompetisi lebih kepada mendapatkan pengajaran yang lebih baik bagi usahanya. Karena bila hanya mendapatkan  hadiah berupa uang tunai, hal itu tidak akan terlalu membantu usahanya secara signifikan. Ia pun juga aktif di beberapa komunitas wirausaha.

Bila beberapa waktu lalu Laili lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari ilmu dengan mengikuti seminar dan pelatihan UKM, kini Laili fokus mengamati produksi dan penjualan. Ia pun berharap dapat segera menemukan tim khusus yang pas untuk meningkatkan penjualan kurmanya. Masa produksi sendiri berlangsung sekitar 2 minggu sekali, yang kemudian kurma itu dikirim ke toko-toko langganan, reseller dan juga dijual melalui aplikasi online lainnya. Laili pun juga rutin mengikuti pameran produk baik berbayar maupun gratis agar produknya bisa semakin dikenal oleh masyarakat.

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!