Bisnis ‘Si Enteng’ Yang Menguntungkan

Diterbitkan  Senin, 02 / 09 / 2019 20:55 - Berita Ini Sudah :  3845 Dilihat

Sebagian besar masyarakat Indonesia, tidak lengkap rasanya bila mengonsumsi kudapan tanpa disertai kerupuk. Ya, kerupuk! Si Enteng yang bisa menjadi pendamping makanan utama, juga bisa dijadikan cemilan kala senggang sambil menonton TV.

Berbekal usaha turun menurun dari keluarga Sang Suami, Ety Nurhaeti –biasa disapa Ety- mengembangkan usaha kerupuk RHR yang tidak berkembang dari waktu ke waktu, dan seringkali tidak beroperasi karena kurangnya terobosan dalam berwirausaha.

“Saya tidak tahu pasti sejak kapan keluarga suami saya memproduksi dan menjual kerupuk. Cuma yang saya tahu usaha mereka sejak suami saya belum dilahirkan. Tapi usaha mereka tidaklah berjalan mulus, seringkali kami bangkrut alias collapsed. Hingga pada 2015, saya memutuskan berhenti dari pekerjaan saya sebagai guru TK dan totalitas mengurus usaha kerupuk,” ungkap Ety saat ditemui dikediamannya di daerah Babakan Pocis, Setu, Tangerang Selatan.

Merek RHR merupakan kepanjangan dari anak pertamanya, Rifat Haidar Rahmat. Untuk membesarkan bisnis RHR, Ety melakukan peminjaman kepada Bank periode pertama sebesar 10 juta rupiah yang lunas dalam kurun waktu 1,5 tahun. Dalam tempo 2 tahun, usaha yang digelutinya pun berkembang sesuai harapan walaupun tidaklah terlalu besar.

Ety dan suaminya, Mamat mulai merasakan manisnya buah perjuangan mereka. “Dengan pinjaman modal dari bank dan keuntungan yang dikumpulkan, kami bisa membuat pabrik lebih tertata rapi. Hasilnya juga bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan memberikan lapangan kerja bagi orang lain. Usai melunasi pinjaman modal pada 2017, kami melakukan pinjaman kembali dengan jumlah dua kali lipat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kami.”katanya.

 

Lantas, strategi apa yang dilakukan Ety agar kerupuknya dilirik orang banyak sehingga usahanya berkembang cukup signifikan?

Pertama, Ety mengakui bahwa dirinya membuat rencana yang matang sebelum ia memutuskan meminjam modal usaha ke badan keuangan.Kedua, Selama dua tahun, ia melakukan studi banding dengan membeli produk-produk makanan kekinian yang digandrungi banyak orang muda. Ia juga rutin mengikuti seminar-seminar yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan daya jual produknya.Ketiga, meningkatkan citra kerupuk yang terlihat ekslusif namun tetap nyaman di kantong, dan terjaga kualitas serta rasanya. Tak segan-segan ia mengikuti pameran produk baik yang gratis maupun berbayar. RHR pun sudah masuk ke gerai-gerai supermarket dan minimarket yang tersebar di Tangerang dan DKI Jakarta seperti minimarket 212 Mart dan Carrefour.

“Kerupuk, kan, makanan asli Indonesia, yah…  Jangan sampai kalah pamor dengan makanan kekinian yang hits di media sosial. Contohnya di Instagram, bombardir foto-foto makanan dari luar negeri kini jadi idola muda-mudi Indonesia. Harapan kami, kerupuk jangan sampai terlupakan. Itulah pentingnya bagi kami untuk menciptakan brand imagekerupuk yang lebih kuat, kerupuk yang bisa dikonsumsi segala usia, khususnya anak-anak muda sekarang,” ungkapnya.

Tak ketinggalan, Ety kini giat menjadi pengurus Komunitas UMKM Setu, Tangerang Selatan yang dibina oleh Kecamatan setempat. Selain aktif di komunitas kecamatan,  Ety juga menjadi ketua pengurus Juragan Kuliner Tangerang Selatan. Dengan menyempatkan diri bergabung dalam sebuah komunitas, adalah cara meningkatkan jaringan pertemanan untuk meningkatkan kinerja bisnis dan hal yang bermanfaat lain di masa depan.

Kerupuk RHR juga mendapat bimbingan dari dinas-dinas kota Tangerang Selatan seperti dinas ketahanan pangan, dinas kelautan, dinas koperasi dan unit kecil menengah, dan dinas perdagangan. Kerupuknya pun sudah lolos uji LPPOM MUI dan memiliki izin usaha yang sah dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Sesekali, produknya ‘terbang’ hingga ke negara – negara lain mewakili kecamatan UMKM Kecamatan Setu yang dibawa oleh KBRI setempat.

“Pada dasarnya saya senang berteman dengan siapa saja, karena melalui teman rejeki kita juga mengalir dengan baik. Walaupun kadang juga ada yang tidak suka pada kita, apalagi melihat penampilan kami yang tidak seperti pemilik bisnis. Saya sering tuh dinyinyirin, saya anggap saja itu pelecut semangat.” Tambah Ety disertai derai tawa riang.

 

Omset Tidak Seringan Kerupuknya

Sebelum bicara omset, membuat kerupuk sampai ke tangan konsumen ternyata tidaklah mudah, ada 15 fase yang dilalui agar kerupuk terasa gurih dan crunchy di mulut.  Sementara itu, dalam sebulan RHR menghasilkan sekitar 1,5 ton kerupuk dengan 6 varian rasa yakni; jengkol, tenggiri, cakalang, sangrai, terasi udang, dan kentang.  Ternyata, kerupuk yang terbuat dari jengkol dan terasi udang menjadi favorit kebanyakan konsumen. Dari 1,5 ton kerupuk yang dihasilkan RHR, pendapatan yang diterima lebih dari 30 juta rupiah per bulan. Sekitar 20 persen keuntungan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya dipakai untuk perputaran usaha dan terus berkembang dari waktu kewaktu.

Dari hasil bisnis kerupuk Ety kini sedang mengembang usaha lain, yakni penginapan di daerah wisata, tepatnya  Desa Wisata Cibuntu, Kuningan, Jawa Barat. Ety mengakui bahwa pembuatan penginapan di kampung halaman adalah untuk mencoba peruntungan di bidang lain. Selain itu agar ia bisa mewariskan bisnis lain ke anak keduanya yang masih berstatus sebagai pelajar SD.

Di atas tanah 150 meter, usahanya didirikan dengan perjuangannya yang penuh rintangan. Rumahnya yang dulu ia akui sebagai ‘gubuk’ yang tidak layak dianggap sebagai rumah, kini kian berkembang walaupun masih tampak kesedehanaan. Usahanya masih terbilang jauh dari sempurna, namun Ety dan suaminya menginginkan usahanya bisa menjadi lebih besar dengan fasilitas yang lebih baik dari sekarang. Didukung putra pertamanya yang kini bersekolah mengambil jurusan yang pas untuk pengembangan bisnis kerupuknya.

“Pesanan kian hari kian meningkat, ada yang belum bisa kami penuhi karena keterbatasan sumber daya, tapi kami berharap itu akan bisa diatasi. Kami bersyukur Allah memberikan jalan yang baik bagi kami, dan anak-anak punya semangat yang tinggi untuk ikut serta memajukan bisnis kecil kami. Orang tua mana yang tidak senang didukung oleh anak-anak mereka.” Tutup istri dari Mamat yang kini memiliki 7 orang pegawai. (Git)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!