Cokelat ala Belgia Ada di Tangerang Selatan


MENCARI PELUANG DARI BISNIS SI HITAM MANIS

Diterbitkan  Senin, 02 / 09 / 2019 20:04 - Berita Ini Sudah :  215 Dilihat

 Bila Anda sedang bingung bagaimana memulai sebuah bisnis, mungkin Anda bisa memulainya dengan mengamati hobi Anda sendiri dan hal-hal lain yang Anda sukai. Misalnya, hobi Anda membuat kudapan manis dan legit untuk Buah Hati.

Ketika mereka mencicipi kue buatan Anda, apakah mereka menyukainya? Pernahkah terbesit kue itu diberikan kepada orang terdekat dan bagaimana reaksi dari mereka? Bila mereka menyukainya, mengapa tidak mencoba untuk memulai segera usaha? Tapi tentu saja berbisnis tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Anda bisa belajar dari dua ibu pelaku usaha ini, yang merintis bisnis mereka dari hal-hal yang mereka sukai. Apa saja? Cokelat dan Kurma! Yap, Si Duo Hitam Manis yang selalu dicari orang dan punya pasar yang cukup luas. Apakah Anda tertarik untuk mengikuti jejak kedua wanita dengan dua produk inovatif dan juga unik untuk memulai bisnis Anda? Siapa tahu, esok atau lusa produk Anda yang akan merajai pasar di Indonesia, atau bahkan Internasional. Karena bisnis itu diawali dengan sebuah mimpi, lalu dilaksanakan dengan target-target yang sudah diagendakan, asalkan tidak mudah patah semangat dalam menjalankan roda bisnis kita.

COKELAT ALA BELGIA ADA DI TANGERANG SELATAN

Jenis Produk                       : Cokelat Kemasan “HeiChoko”

Lokasi                                    : Batan Indah – Tangerang Selatan

Pelaku Bisnis                      : Hesti Widyo Asih

Lahir                                       : Purwokerto, 30 Juli 1974

Pendidikan akhir              : S1 Biologi

Hobi                                       : Menjahit, Membaca dan berdagang

 

Beasiswa Ke Eropa Bekal Ilmu Mengolah Cokelat

Kita semua tahu bahwa banyak negara di eropa pandai mengolah cokelat yang tadinya pahit menjadi manis, dan punya cita rasa tersendiri yang tak terlupakan. Itulah yang ingin dibuat oleh Hesti dan suami Ari dalam membuat konsep bisnis cokelatnya. Walaupun menjadi pedagang bukanlah impian Hesti. Cokelat bukanlah hal pertama yang ia jual, pengalamannya dalam berwirausaha dimulai sejak ia masuk bangku sekolah dasar. Sebenarnya, ia sangat ingin menjadi guru matematika seperti Sang Ayah. Tapi hal itu tidak tercapai lantaran orang tuanya tidak setuju, dan suaminya juga melarangnya bekerja secara formal.

Cita-citanya memang tidak tercapai, namun saat ia kuliah, Hesti sempat menjadi guru privat matematika bagi anak usia SD dan SMP. Mengajar di usia muda ia lakukan agar ia mendapat uang tambahan untuk mendapatkan gelar sarjananya di Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Hesti mengaku tidak berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayahnya hanya seorang guru tetap dengan gaji yang sangat kecil di kala itu. Di masa anak-anaknya, ia  kerap membantu ibunya berjualan untuk menambah biaya hidup keluarganya. Hesti berdagang es lilin dan kue basah yang ia titipkan di warung-warung dekat rumah dan sekolah.

“Pengalaman berdagang sejak kecil menjadi salah satu cara saya berani mengembangkan produk. Sampai sekarang, saya masih bisa lho, mengikat es lilin!” Ungkapnya sambil tertawa saat ditemui di kediamannya.  Hesti bukanlah orang yang mudah berkecil hati, ia tidak malu berdagang, dan tetap berusaha keras untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Alhasil, ia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya, sehingga ia selalu mendapatkan beasiswa pendidikan untuk meringankan beban orang tuanya. Demikian juga dengan suami tercintanya, Ari, merupakan siswa yang teladan dan juga gemar membantu orang tuanya.

Perkenalan Hesti dengan cokelat ala Eropa sebenarnya sejak suaminya, Ari, mendapat beasiswa ke Prancis pada pertengahan 1980-an. Ari mendapatkan beasiswa full dari Strata 1 hingga Strata 2 dari Yayasan Habibie Center  selama 6 tahun. Selama hidup di Prancis, Ari senang membaca buku resep  kudapan manis asal eropa. Apalagi saat itu masih jarang ditemui kudapan khas eropa di Indonesia. Ari membeli buku-buku resep kue dan cokelat dan dibawanya pulang sebagai oleh-oleh untuk Hesti. Siapa tahu, Hesti dapat membuat kue dan cokelat ala eropa saat Ari sudah tidak lagi tinggal di sana sebagai obat kerinduannya.

“Setelah suami pulang dari Prancis, dan menyelesaikan studinya di bidang teknik mesin, tidak lama kami pun menikah. Awal pernikahan saya harus kembali ke kampung halaman, karena suami bekerja di Jepang. Pada 2000, saya pindah langsung ke Batan, Tangsel. Di sinilah, saya mencoba berbagai usaha lagi. Tapi yang mendapat restu dari suaminya adalah mengembangkan usaha cokelat HeiChoko ini.” Terang Hesti. HeiChoko Sendiri adalah kependekan dari namanya, sahabat karibnya yang bernama Ida yang sudah meninggal, dan nama suaminya.

Modal Kecil, Prospek Keuntungan Besar

Pada 2010, cokelat buatan Hesti awalnya hanya bermodalkan 1 juta rupiah saja, semua bahan dasar dibeli dengan menyisihkan pendapatan Hesti berjualan buku dan gaji bulanan Ari. Ibu tiga anak ini mengatakan bahwa sebenarnya usaha cokelat diawali dari coba-coba karena penasaran dengan racikan ala eropa di buku yang dibeli Ari. Apalagi ketiga anaknya adalah penggemar cokelat. Saat cokelat pertama jadi, ia membagikan kepada para tetangganya, ternyata responnya positif, para tetangga pun menganjurkan agar Hesti menjual cokelat olahannya.

Di awal bisnis, orderan cokelat dibuat untuk hari raya saja, dan dibuat berdasarkan orderan sebagai sambilan ia berjualan buku dan mengajar privat. Hingga pada 2017, Ari menyuruhnya untuk menghentikan semua kegiatan lainnya dan fokus mengembangkan usaha cokelat. Sambil terus bereksperimen varian rasa cokelat, Hesti mengikuti seminar dan pelatihan UMKM. Ia pun segera mengurus izin usaha dan halal di dinas setempat.

Pada 2018, produknya pun mendapat penghargaan dari ICSB Indonesia, sebagai UKM WOW! 2018 dalam program kurasi untuk UKM terpilih. Produknya juga mendapatkan kontrak kerjasama dengan Bandara Soekarno Hatta, dan dipasarkan di toko resmi oleh-oleh Bandara terminal 1, 2 dan 3. Hesti dan suaminya juga giat menjual produk di gerai-gerai UKM wilayah Tangsel dan platform penjualan online yang kini sedang marak.

Dalam sebulan, Hesti bisa menghasilkan sekitar 8 juta – 15 juta rupiah untuk semua jenis varian cokelat yang dijualnya. Pada hari raya, ia mampu menghasilkan hingga 25 juta rupiah dari penjualan cokelat. Sedangkan karyawan yang dipekerjakan hanya berkisar sejumlah 4 orang, dengan waktu 8 jam kerja di setiap hari produksi.

“Memang omset kami masih naik turun, karena kami kekurangan sumber daya dan juga karena kami baru benar-benar serius menggeluti bisnis ini di dua tahun ini. Tapi kami bersyukur dengan tenaga dan teknologi yang sederhana saja, kami sudah bisa mendapatkan omset yang saya rasa cukup menguntungkan. Semoga di tahun-tahun ke depan, produk ini dibuat dengan teknologi yang lebih baik,” harap Hesti.

Manisnya bisnis cokelat dinilai orang terdekat Hesti tanpa rintangan berarti. Padahal Hesti dan suaminya juga melalui banyak cobaan. Karena sumber daya yang kurang, akhirnya Hesti dan suami menghentikan distribusi ke beberapa minimarket di Tangerang Selatan. Baru-baru ini, produknya juga beberapa kali retur dari toko suvenir di terminal 1 Soekarno Hatta akibat harga tiket pesawat melambung tinggi. Produknya juga dianggap terlalu mahal dibanding produk terkenal yang sudah merajai pasar Indonesia. Ia seringkali tidak percaya diri memasarkan produknya, namun suami dan anak-anaknya adalah penyemangat utama Hesti untuk tetap maju dan berkembang.

“Setiap usaha ada risikonya, saya beruntung produk saya masih diterima oleh pasar. Terutama bagi mereka yang menginginkan sebuah eksklusivitas produk. Kami pun membuat disain kemasan agar menarik dan tak terbuang sia-sia. Untuk ukuran cokelat besar, kami buat paket foto frame, agar saat cokelat habis, bungkus cokelat bisa menjadi bingkai foto pribadi. Untuk cokelat ukuran kecil, bungkus produk didesain agar bisa menjadi tempat pulpen dan pensil. Terlebih lagi kita UKM sangat terbantu dengan adanya penjualan online yang kini sedang marak. Karena bila main di retail, kita tentunya tidak akan bisa menandingi perusahaan besar.” Tutup Hesti.(git)

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!