Penertiban PKL Terus Ditingkatkan

Diterbitkan  Rabu, 04 / 09 / 2019 20:25 - Berita Ini Sudah :  198 Dilihat

 

SETU- Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) terus dilakukan. Ini agar tidak melanggar aturan yang ada. Jika dibiarkan, maka lambat laun PKL akan menduduki lahan yang bukan miliknya dan menjadi persoalan.

Kasi Operasional dan Pengendalian (Dalops) Satpol PP Tangsel, Taufik Wahidin menyebutkan, penertiban PKL di banyak tempat, harus melalui kajian mendalam. Rapat-rapat terus dilakukan bersama dengan banyak pihak serta kewilayahan. Dikarenakan kewilayahan yang memiliki akses secara jelas, dan mengetahui persoalan yang ada di lokasi.

“Hampir semua wilayah di Tangsel terdapat PKL. Biasanya mereka menduduki lahan fasos dan fasum milik Pemkot Tangsel yang bukan peruntukannya. Maka berdasarkan laporan dari wilayah melalui rapat-rapat kami Satpol PP lah yang melakukan upaya penertiban,” katanya.

Dalam upaya penertiban, secara alur dilakukan imbauan kepada para PKL yang menjadi target. Imbauan satu hingga tiga kali. Upaya ini sebagai langkah persuasif agar tetap kondusif dan berjalan lancar. Namun apabila tidak diindahkan surat imbauan yang dilayangkan, maka Satpol PP dengan tegas membongkar keberadaan PKL. Baik yang menggunakan bangunan semi permanen, gerobak atau yang keliling. Khusus yang gerobak dan keliling biasanya memang mereka lebih inisitif ketika diingatkan pergi. Namun biasanya datang kembali.

“Yang sulit mereka para PKL menggunakan sepeda motor atau sepeda ontel. Biasanya ketika kami bersama pasukan datang mereka pergi entah kemana. Setelah kami pergi mereka kembali datang. Selalu kucing-kucingan layaknya tom and jerry,” kelakarnya mengumpamakan film kartun lucu.

Berbeda PKL yang menggunakan bangunan. Mereka biasanya benar-benar berhenti tidak berjualan lagi. Dikarenakan bahan materialnya sudah dibongkar. Jika hendak mendirikan bangunan tentunya membutuhkan tenaga dan biaya. Ini nyaris sulit untuk kembali berbeda dengan PKL keliling.

“Pada umumnya yang menggunakan bangunan mereka tidak mendirikan lagi setelah dibongkar, karena mereka harus membutuhkan modal banyak,” tambahnya.

Diakui Taufik yang sudah di Satpol PP selama 7 tahun ini, tentu sangat memahami sekali problematika PKL. Secara jelas mereka memahami sebetulnya. Hanya saja mereka terkadang membayar kepada lingkungan atau oknum-oknum lain, sehingga mereka berani mendirikan. Biasanya awalnya jualan keliling, lama-lama kemudian mendirikan bangunan sedikit demi sedikit.

Disebutkannya, PKL terkadang menyerahkan uang kepada lingkungan atau yang lain-lain. Sehingga, mereka berani mendirikan bangunan PKL. Biasanya awalnya jualan keliling, lama-lama kemudian mendirikan bangunan sedikit demi sedikit.

“Rata-rata begitu, terkadang mereka menyerahkan uang kepada lingkungan atau yang lain-lain. dan merasa karena udah membayar mereka merasa punya hak menggunakan lahan. Karena sudah membayar mereka merasa punya hak menggunakan lahan,” ujar pria murah senyum ini.

Semestinya pengurus lingkungan baik RT/RW dan lain-lain bersama-sama mengawasi. Jangan dibiarkan PKL mendirikan bangunan yang bukan tempatnya. Jika ada satu yang berupaya mendirikan bangunan harus ditegur agar tidak dilanjutkan. Namun apabila dibiarkan biasanya akan muncul bangunan-bangunan baru.

“Untuk menjadikan Tangsel tertib dan mengedepankan estetika wilayah, pengurus RT RW harus proaktif, termasuk melaporkan kepada Trantib Kecamatan atau Satpol PP. Sangat dibutuhkan kerjasama semua itu demi menjaga kota yang kita cintai sama-sama ini,” harapnya.

Satpol PP, tentunya dalam menertibakan PKL betul-betul berdasarkan data. Dikarenakan tidak semua PKL yang menempati lahan-lahan di pinggir jalan melanggar. Dikarenakan bisa saja mereka menyewa lawan orang secara pribadi. Oleh karenanya, Satpol PP selalu berkomunikasi dengan lintas OPD supaya tidak salah. (din)

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!