BPTJ Targetkan Pembangunan MRT ke Tangsel pada 2022

Diterbitkan  Rabu, 05 / 02 / 2020 22:55 - Berita Ini Sudah :  346 Dilihat


Airin: Kita Masuki ke Proyek Strategis Nasional



SERPONG-Pemerintah Kota Tangsel memasukan pembangunan moda raya terpadu (MRT) ke dalam proyek strategis nasional (PSN) untuk percepatan dalam proses pembangunan.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany berusaha agar proyek tersebut dapat diprioritaskan oleh Pemerintah Pusat. “Kami lagi berusaha untuk masuk ke dalam PSN. Kalau sudah masuk ke dalam proyek strategis nasional kan nanti ada percepatan,” jelasnya.

Berdasarkan pengalamannya, ketika sebuah proyek dimasukkan ke dalam PSN, akan ada asistensi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan kementerian/kembaga (K/L) terkait.

Bahkan proyek tersebut akan menggunakan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) karena pembiayaannya sangat besar. Diperkirakan proyek tersebut bakal menelan dana hingga Rp1 triliun per kilometer pembangunan.

Airin menuturkan trayeknya adalah Lebak Bulus, Ciputat, Pamulang, Puspitek, hingga ke Rawa Buntu. Akan tetapi, rencana trayek tersebut masih bisa berubah karena masih dalam tahap kajian.

Saat ini, tahapan pengembangan MRT Tangsel masih berupa pra feasibility study (FS) atau pra studi kelayakan yang dibuat oleh PT MRT Jakarta dan sudah diberikan kepada Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub. Setelah itu, ada beberapa tahapan tambahan agar proyek tersebut dapat dikerjasamakan dengan swasta menggunakan skema KPBU.

Sementara itu, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menargetkan pembangunan MRT ke Tangsel dapat dimulai pada 2022.

Direktur Prasarana BPTJ Edi Nursalam mengaku masih berupaya untuk mengusulkan agar proyek MRT Tangsel masuk ke dalam proyek strategis nasional (PSN). Tahapannya, tahun ini akan ada studi mengenai outline business case (OBC).

“Mudah-mudahan tahun depan kami bisa lakukan FS [feasibility study] sama DED [detail enginering design], final business case nanti untuk KPBU. Setelah rangkaian studi tersebut selesai dan berjalan dengan lancar, maka proses selanjutnya adalah pelelangan dan awal konstruksi yang ditargetkan pada 2022,” kata Edi.

Dia menambahkan rangkaian studi ini dilakukan guna mengukur ketertarikan swasta dalam proyek yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp20 triliun. Melalui studi OBC akan diketahui proyek MRT tersebut menguntungkan atau tidaknya.

Menurutnya, pada 2021 sudah bisa melakukan proses lelang. Terlebih, lama waktu pelaksanaan DED hanya sekitar enam bulan.

Pembangunan jalur atau trase, imbuhnya, dilakukan bersamaan dengan DED yang dilakukan pada 2021. Setelah hasil studi trase tersebut selesai, baru dapat dilelangkan.

Edi menuturkan FS yang dilakukan oleh PT MRT Jakarta baru berupa indikasi trayek dan perlu pengembangan lebih lanjut.(irm)

Komentar Anda

comments