Tangerang Selatan IMG Tuesday, 20-10-2020
IMG-LOGO

ITB Ahmad Dahlan Khawatirkan Munculnya Era Super Riba Pasca Digitalisasi Currency

by administrator - 12/05/2020 21:01:24

CIPUTAT TIMUR-Program Pascasarjana Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta (ITB-AD) menyelenggarakan Webinar Series bertajuk Islamic Political Economy. Pada edisi perdana ini, mengangkat tema "Visi Ekonomi Syariah Menuju Era Super Riba Pasca Digitalisasi Currency".

Hadir sebagai pembicara Direktur Program Pascasarjana ITB-AD dan Dosen Program Pascasarjana S2-Keuangan Syariah ITB-AD, Dr. Eng. Saiful Anwar. Sementara yang bertindak sebagai moderator adalah Suparman Kadamin yang merupakan Mahasiswa Program Pascasarjana ITB Ahmad Dahlan dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IM) DKI Jakarta.

Menurut Saiful Anwar, visi ekonomi syariah di era super riba, salah satunya harus berfokus merubah perilaku ekonomi Umat. Dari konsumsi menjadi investasi dan produksi. Pola ini harus betul-betul dipahami bagi masyarakat supaya tidak terlalu berpoya-poya dengan kemudahan akses digital yang ada. Bagimana uang yang dimiliki agar dapat lebih bermanfaat dengan menggunakan yang lebih prioritas.

“Menahan diri untuk pemenuhan kebutuhan yang tidak perlu atau memprioritaskan kebutuhan bukan keinginan semata. Harus menjadi fokus ekonomi syariah guna merubah ekonomi tamak menjadi ekonomi keadilan," ujarnya.

Berikutnya, Anggota Audit di BRI Syariah ini menjelaskan visi kedua yaitu menguatkan charity atau memperkuat semangat sedekah. Adapun untuk, visi ketiga, Saiful Anwar mengatakan yaitu menguatkan Islamic Social Finance dengan memperkuat Lembaga Wakaf. Dengan banyaknya lembaga sedekah paling tidak menggugah orang untuk selalu melakukan sedekah. Kendati memang tidak semudah itu tapi minimal semakin mudahnya akses keuangan digital kohesinya juga harus lebih giat bersedekah.

Pada kesempatan tersebut, Saiful Anwar mengungkapkan alasannya, mengapa ia menyebut hal ini sebagai era super riba. Menurutnya, dengan semakin meningkatnya trend uang digital, masyarakat menjadi sulit untuk bertahan untuk tidak konsumtif karena makin tidak jelasnya jarak antara pasar dengan penyelenggara transaksi keuangan yang biasanya akan menjadi peluang masuknya tawaran kredit ribawi.

“Saya menyebut ini sebagai era super ribawi. Karena pada era ini semua orang tidak bisa lepas dari yang namanya riba. Jika nanti digital currency diberlakukan, tawaran ribawi akan masuk ke waktu dan ranah paling privat setiap muslim”, ungkap Saiful Anwar dengan penuh keprihatinan.

 Suparman Kadamin selaku moderator menahbahkan pembahasan yang disajikan secara online ini mengingatkan kepada semua kalangan bawa ada positif dan negatif diera uang digital. Satu sisi ada kemudahan tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Mudahkan dalam bertransaksi selama dua puluh empat jam. Yang menimbulkan hedonisme dapat mendominasi.

"Sisi lain semakin akses uang digital juga perlu ditingkatkan untuk hal-hal yang baik dan positif. Artinya peluangnya sama tinggal bagaimana cara menggunakannya saja," tutupnya. (din).


Baca Juga